HomeBeritaJihad dengan Ilmu

Jihad dengan Ilmu

Aliansi Indonesia Damai- Jihad seringkali dipahami oleh kelompok ekstrem sekadar sebagai berperang di jalan agama. Padahal makna jihad dalam Islam lebih dari itu. Jihad adalah segala perbuatan baik yang dapat memberikan manfaat bagi keluarga, masyarakat, agama, dan bahkan negara bangsa. Menimba ilmu sedalam-dalamnya termasuk makna jihad yang lebih baik daripada berperang dengan kekerasan.

Demikian pernyataan yang disampaikan Pembina Pondok Pesantren An-Nahdlah Makassar, Ustaz Bukhari Muslim, saat menjadi narasumber dalam Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, beberapa waktu lalu. Kegiatan digelar oleh AIDA bekerja sama dengan  Pondok Pesantren An-Nahdlah secara daring.

Baca juga Ibroh dari Penyintas Bom: Tak Ada Kejadian di Luar Takdir

Bukhari menegaskan bahwa konsep jihad yang paling relevan untuk saat ini bukanlah berperang atas nama agama, melainkan dengan memaksimalkan kemajuan-kemajuan yang ada untuk ilmu pengetahuan. 

“Jihad dengan cara mengangkat pedang harus dikaji lebih mendalam lagi. Untuk saat ini jihad yang mesti kita lakukan adalah dengan cara menjadi orang yang bermanfaat dengan ilmu,” tutur alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar AIDA beberapa bulan lalu itu.

Baca juga Saat Mantan Napiter Berkisah Perjalanan Hidupnya

Saat menanggapi salah satu pertanyaan peserta tentang makna kafir, ia menjelaskan bahwa kafir hakikatnya adalah orang yang menutupi kebenaran. Dalam khazanah fiqih, ada kelompok kafir harbi yaitu kelompok yang menutupi kebenaran Islam dan melakukan penyerangan. Sementara ada juga kafir dzimmi yang mengikat terhadap perjanjian dan hidup dalam perdamaian. “Nabi membawa misi Islam itu untuk orang kafir karena hatinya tertutup dari cahaya Islam,” ucapnya.

Ia lantas menanggapi pertanyaan peserta yang resah karena terorisme acapkali diidentikkan kepada Islam dan umat muslim. Menurut Bukhari, terorisme bukan hanya terjadi dalam tubuh Islam, tetapi juga di agama lain. Di Indonesia pelaku terorisme sebagian besar beragama Islam sehingga banyak orang salah memersepsikan terorisme sebagai bagian dari Islam. Padahal di agama lain juga banyak terjadi fenomena terorisme seperti yang terjadi di Selandia Baru dan Irlandia.

Baca juga Dendam Tak Mengembalikan yang Hilang

“Jenis terorisme di Indonesia problemnya dikaitkan dengan agama. Isi dalil-dalilnya ada Al-Qur’an ada Hadis, sehingga akibatnya mudah diasosiasikan teroris itu Islam. Kalau di negara lain ada yang dari Katolik dan sebagainya,” katanya menerangkan.

Menurut Bukhari, fenomena kekerasan itu mulai terjadi di zaman sejarah Islam awal (masa sahabat Nabi), yaitu ketika muncul kelompok khawarij yang melegitimasi kekerasan atas nama agama. Kelompok ekstrem yang acapkali menggunakan dalil-dalil agama itulah yang saat ini bisa diasumsikan sebagai kelompok Neo-Khawarij.

Baca juga Ekstremisme Rentan di Era Pandemi

Ia kemudian mengajak para tokoh agama untuk tidak salah mengidentifikasi kelompok ekstrem. Dalam pandangannya, kelompok teroris tidak bisa dilihat dari simbol-simbol dan cara pakaian semata, melainkan ideologi mereka. “Tidak menghakimi orang yang memakai cadar, berjenggot, dan celana cingkrang, karena bisa jadi mereka ternyata Jama’ah Tabligh yang memang seperti itu kostumnya,” pungkas pembina PP An-Nahdlah tersebut.

Pondok Pesantren An-Nahdlah merupakan salah satu Lembaga Pendidikan Agama Islam yang dirintis oleh AG. KH. Muh Harisah AS pada tahun 1982.  Pesantren yang berlokasi di Makassar Sulawesi Selatan itu bekerjasama dengan AIDA untuk menyuarakan perdamaian bagi masyarakat luas. [AH]

Baca juga Dialog Mahasiswa UHO Kendari dengan Ahli Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...