HomeInspirasiAspirasi DamaiUrgensi Ukhuwwah dan Bahaya...

Urgensi Ukhuwwah dan Bahaya Perpecahan

Indonesia merupakan salah satu negara besar dengan kemajemukan yang sangat tinggi.  Bermacam ras, suku, dan agama menjadi kekayaan bangsa ini. Termasuk di dalamnya adalah umat Islam sebagai mayoritas. Komunitas dan organisasi Islam pun secara kuantitas sangat banyak. Kemajemukan ini harus disyukuri dengan cara menjaga persaudaraan (ukhuwwah).

Meski fakta di lapangan, ada sebagian kelompok Islam yang bersikap eksklusif, menganggap kelompok lain sesat, menolak mengucapkan salam, bahkan yang lebih memprihatinkan enggan melakukan shalat bersama dengan kelompok yang berbeda. Pangkal persoalannya adalah karena perbedaan pendapat dalam beberapa masalah keagamaan.

Baca juga Mengimani Takdir

Dalam sejarah Islam, perpecahan merupakan masalah klasik, yang juga menjadi perhatian para ulama terdahulu. Idealnya umat Islam dengan berbagai macam kelompok dan pemikiran tetap bisa menjalin ukhuwwah walau berbeda pendapat dan pemahaman.

Ukhuwwah dalam perspektif Islam

Dalam Islam, ukhuwwah merupakan hal urgen yang hukumnya wajib. Sebaliknya perpecahan merupakan perkara yang diharamkan. Perbedaan pendapat tak semestinya mengakibatkan timbulnya kebencian, celaan, dan hinaan satu sama lain, bahkan sampai terjadi pertumpahan darah. Karena itu hukumnya dikembalikan berdasarkan dampaknya tadi, yaitu diharamkan.

Sedangkan ukhuwwah diwajibkan agar menghindari kerusakan. Dengan ukhuwwah maka akan timbul perdamaian, rasa saling menghargai dan menghormati sehingga agama ini terjaga dengan mulia.  Salah satu cara menjaga ukhuwwah adalah dengan mengamalkan bagi masing-masing individu atau kelompok sesuai dengan keyakinan dan pemahamannya, tanpa saling menyalahkan selama masing-masing memiliki dasar.

Baca juga Ketangguhan Penyintas Bom Kuningan, Ram Mahdi Maulana: dari Amarah Menuju Pemaafan

Hal ini juga dicontohkan oleh para ulama klasik khususnya di bidang fikih. Ada banyak mazhab dalam Islam di mana meski para ulama mazhab memiliki pendapat masing-masing, misalnya dalam tata cara beribadah, tetapi mereka saling menghormati dan  bahkan mau mengikuti cara beribadah yang berlaku di wilayah tertentu di mana ia sedang berada.

Cara lain adalah dengan mengembalikan asal hukum dalam Islam terkait mu’amalah atau bersosialisasi antarsesama manusia, yaitu bersikap lemah lembut, saling menasehati dengan cara yang baik, tidak saling mencela dan menghina. Tujuannya tidak lain agar ukhuwwah tetap terjaga dalam nuansa perdamaian.

Baca juga 16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hal ini dicontohkan dalam kisah sahabat yang masih mengonsumsi khamr (minuman keras) padahal sudah masuk Islam. Nabi tidak lantas mencelanya, apalagi sampai menumpahkan darah. Namun Nabi menasehati secara perlahan dan lemah lembut agar persaudaraan sesama muslim tetap terjaga, sehingga inti dari ajaran Islam dapat dipahami dengan benar.

Korelasi ukhuwwah dengan al-wala (loyalitas)

Kajian tentang ukhuwwah juga tidak bisa lepas dari konsep loyalitas atau al-wala. Yang perlu dipahami adalah bahwa orang beriman hanya memiliki loyalitas kepada Allah dan Rasul-Nya. Maka bagi siapa pun yang mengaku beriman harus disifati dengan sifat umum tersebut, meski memosisikan diri pada bangsa, mazhab, atau kelompok tertentu.

Dasar utama al wala adalah taat kepada Allah, Rasul, dan ulil amri (pemimpin). Taat kepada Allah dan Rasul bersifat mutlak, sedangkan kepada ulil amri bersifat fleksibel dalam arti ketaatan tersebut wajib diikuti selama tidak melanggar aturan Allah dan Rasul-Nya. Pemimpin setelah Rasul tidak benar-benar terjaga dari kesalahan. Bisa jadi ia memimpin dengan adil atau sebaliknya sewenang-wenang (abuse of power).

Baca juga Tangis Ketangguhan Penyintas

Dalam konteks ukhuwwah ini, jika pemimpin suatu kelompok bersikap atau mengeluarkan aturan yang bisa menimbulkan perpecahan, maka tidak wajib untuk diikuti. Hal tersebut diambil berdasarkan hadis Nabi bahwa tidak ada ketaatan dalam kemaksiatan kepada Allah. Perpecahan dapat dikategorikan maksiat karena sangat bertentangan dengan ketentuan-ketentuan dalam Islam. Perpecahan dapat menimbulkan kerusakan dan kerugian bagi masyarakat secara luas.

Maka dalam upaya mempraktikkan ukhuwwah, setiap orang harus memiliki ilmu yang mumpuni. Harus ada kesadaran mengenai pentingnya berilmu sebelum beramal agar dijauhkan dari prasangka buruk terhadap yang lain, juga perasaan bahwa hanya diri kita yang benar, sedangkan yang lain salah. Juga klaim bahwa hanya kita yang memahami agama sedangkan yang lain berada dalam kebodohan.

Baca juga Mengelola Amarah

Selain ilmu yang mumpuni, upaya mengamalkan sikap ukhuwwah harus pula dengan adab. Mayoritas ulama menyatakan bahwa adab berada di atas ilmu. Dengan adab maka akan dijauhkan dari kesombongan, yaitu merasa bahwa hanya diri atau kelompoknya yang berada di atas kebenaran. Dengan adab pula maka akan tecermin cahaya dari ilmu yang dimiliki.

Para ulama terdahulu juga mencontohkan pentingnya adab. Mereka tetap merendahkan hati dan mengambil faedah (istifadah) di hadapan dan dari ulama-ulama lain, bahkan yang berbeda pemahaman, dengan tidak saling merendahkan satu sama lain.

Belajar dari kisah korban dan mantan pelaku

Berangkat dari konsep ukhuwwah di atas kita bisa belajar dari contoh lain, misalnya dari beberapa korban bom terorisme. Salah satunya Mulyono, korban Bom Kuningan di depan Kedubes Australia pada September 2004. Saat itu ia sedang mengendarai mobil untuk bertemu dengan mitra kerjanya. Saat melewati kantor Kedubes Australia di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, tiba-tiba terjadi ledakan besar. Mulyono mengalami luka sangat serius. Rahang bawahnya hancur sehingga harus dioperasi berkali-kali.

Baca juga Beragama dengan Aman

Mulyono harus merasakan sakit yang luar biasa karena dokter harus mengambil tulang betisnya untuk dicangkok menjadi rahang baru. Operasi pertama gagal karena konstruksi rahangnya terlalu berat. Tak ayal harus dilakukan operasi kembali untuk merekonstruksi agar lebih seimbang. Rasa sakit yang Mulyono alami saat dan setelah operasi membuatnya hampir putus asa. Bahkan ia sempat berprasangka buruk kepada Tuhan atas “ketidakadilan” yang ia terima.

Akan tetapi secara perlahan, ia menyadari bahwa semua yang terjadi pada dirinya adalah kehendak Allah. Ia pun merasa bersyukur masih diberi kesempatan hidup dan terus berupaya melewati masa-masa terpuruk. Namun kisah yang lebih menggetarkan hati adalah ketika ia harus bertemu dengan mantan pelaku bom. Melalui proses yang panjang, Mulyono akhirnya mampu memaafkan para pelaku.

Baca juga Mengarifi Konflik

Ia mengatakan bahwa pelaku pengeboman sebagai sesama muslim adalah saudara. Bahwa mereka hanya keliru dalam memahami agama dan terhasut oleh ideologi kebencian. Setiap orang pernah berbuat kesalahan, tapi yang penting adalah tidak mengulangi perbuatannya kembali.

Kisah Mulyono tersebut adalah wujud nyata dari adab. Ia mengakui bahwa ilmu agamanya tidak banyak, akan tetapi ia berusaha mengamalkannya dengan baik. Adab yang mementingkan persaudaraan. Berdasarkan ungkapannya bahwa “kita bersaudara”, menyembah Tuhan yang sama, dan beribadah dengan cara yang sama. Marilah sejenak kita berpikir, seorang korban bom yang demikian menderita masih menganggap para pelaku sebagai saudara. Padahal mereka sudah menghancurkan hidupnya dan membuatnya mengalami disabilitas.

Baca juga Meneladani Penyintas Bom

Sebaliknya para ekstremis yang meyakini kekerasan sebagai cara absah meraih tujuan, meskipun mungkin sudah cukup lama belajar agama, paham tentang dasar dan nilai-nilai ukhuwwah, tetapi karena meninggalkan adab, maka yang timbul justru perpecahan karena beranggapan orang lain salah dalam beragama.

Kita bisa mengambil contoh dari mantan ekstremis tentang bahaya perpecahan, salah satunya Kurnia Widodo. Mantan narapidana terorisme ini telah puluhan tahun bergabung dengan kelompok ekstremisme, yaitu sejak SMA. Kurnia diajak oleh temannya untuk mengikuti pengajian di luar kegiatan sekolah. Ia tertarik dan aktif mengikutinya. Ia mendapatkan banyak pengetahuan keislaman yang belum pernah ia peroleh.  Lama-lama ia disuruh untuk bersumpah setia dengan kelompok pengajian tersebut yang ternyata berafiliasi dengan jaringan terorisme.

Baca juga Penyintas Bom Melampaui Ketangguhan

Ia diajari banyak pemahaman yang cenderung berbeda jauh dari ajaran Islam pada umumnya. Misalnya menganggap umat Islam di luar kelompoknya salah, sehingga berdampak pada pengkafiran dan perpecahan di antara umat Islam sendiri. Bahkan lebih berbahaya mereka menghalalkan aksi kekerasan untuk mencapai tujuan dengan mengabaikan dampak korban dari masyarakat umum. Pada puncaknya, Kurnia bersama kelompoknya membuat bom sebagai bentuk persiapan jihad. Akibatnya Kurnia harus berurusan dengan hukum dan dijebloskan ke penjara.

Kisah Kurnia tersebut merupakan pelajaran penting tentang bahaya perpecahan. Pelbagai aksi pengeboman di Indonesia telah menelan ratusan korban, mayoritas adalah umat Islam. Berawal dari perpecahan berujung pada kerusakan dan kehancuran. Tidak ada kebaikan sama sekali di dalamnya. Hal ini juga telah diperingatkan oleh para ulama terdahulu, bahwa mereka yang bercerai-berai (berpecah belah) telah keluar dari sunnah yang disyariatkan oleh Rasulullah SAW.

Maka dari itu, kisah korban dan mantan pelaku tersebut merupakan hikmah yang dicontohkan dan diajarkan oleh para ulama terdahulu tentang urgensi ukhuwwah dan bahaya perpecahan. Wallahu ‘alam.

Baca juga Menghargai dan Mengasihi Sesama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....