HomeBeritaMembalas Ketidakadilan dengan Kekeliruan

Membalas Ketidakadilan dengan Kekeliruan

Aliansi Indonesia Damai- Tidak semua aksi terorisme diawali oleh niat yang sepenuhnya jahat. Sebagian dari para pelaku teror mengklaim tindakannya sebagai bentuk kepedulian terhadap kaum muslimin yang terzalimi di wilayah-wilayah yang dirundung konflik. Lantaran mereka tidak bisa terlibat langsung membela saudara seagamanya di sana.

Sayangnya, para pelaku membalas ketidakadilan itu dengan menciptakan ketidakadilan baru dalam bentuk serangan pengeboman di wilayah lain, hingga mengakibatkan jatuhnya korban-korban tak bersalah.

Baca juga Dialog Tokoh Agama Wajo dengan Mantan Napiter

Menurut Hasibullah Satrawi, penulis buku  La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, para pelaku terorisme bukanlah orang-orang dengan gangguan kejiwaan. Mereka waras dan peduli terhadap penderitaan umat di Palestina, Afghanistan, dan wilayah-wilayah konflik. Namun karena adanya ideologi kekerasan yang bertali temali dengan situasi itu, mereka justru melakukan aksi yang melanggar hukum, agama, dan kemanusiaan.

“Mereka sampai berani keluar negeri karena kepedulian, ada umat yang ditindas. Kemudian ada iming-iming surgawi. Inilah yang membuat mereka rela melakukan apa pun. Masalahnya, mereka melakukan aksi-aksi kekerasan dan serangan. Ini kekeliruan,” ujar Hasibullah saat menjadi narasumber dalam diskusi dan bedah buku karyanya itu beberapa waktu silam. Kegiatan diselenggarakan AIDA bekerja sama dengan Ponpes An Nahdlah Makassar.

Baca juga Mendorong Narasi Keagamaan yang Damai

Ia menjelaskan, faktor yang sering mendorong para pelaku terorisme adalah narasi pembelaan terhadap umat Islam yang ditindas. Sebagai reaksi atas terjadinya ketidakadilan. “Membalas ketidakadilan di Palestina atau di Poso dengan menciptakan ketidakadilan baru di Bali, Jakarta, dan di mana-mana adalah cara yang sangat keliru,” ujarnya.

Dalam konteks ini para pelaku terorisme seolah-olah mengusung aspirasi umat Islam, namun yang terjadi sebaliknya. Justru umat secara umum tidak setuju dengan aksi-aksi mereka. Pasalnya mencoreng agama. “Akhirnya tidak ada orang yang ingin mendekat. Bukannya menawarkan kehidupan, mereka malah menawarkan kematian,” kata Hasibullah.

Baca juga Ketua Baznas Wajo: Kisah Penyintas Menggugah Kemanusiaan

Terlebih aksi serangan-serangan itu menimbulkan korban yang tidak terperikan penderitaannya. Dari pengalaman Hasibullah mendampingi para korban bom, mereka sesungguhnya tidak tahu apa-apa dengan persoalan pelakunya. Namun karena aksi-aksi yang oleh pelakunya dianggap sebagai tugas mulia, malah timbul korban-korban yang harus menanggung derita.

Kendati demikian, dalam hemat Hasibullah, setiap muslim mesti menolong kedua belah pihak, yaitu pelaku dan korbannya, sebagaimana diperintahkan dalam salah satu hadis Nabi Muhammad Saw. Caranya dengan menyerap ibroh atau pembelajaran dari kisah-kisah kedua belah pihak.

Baca juga Ketua MUI Sulbar: Jadilah Dai Ramah

Dari kisah pelaku dan korbannya terkandung begitu banyak pembelajaran untuk membangun kehidupan yang lebih damai. “Spirit penulisan dari buku La Tay’as ini untuk tolong-menolong sesama manusia, baik yang zalim maupun yang terzalimi,” katanya. 

Pendekatan ibroh dalam pandangan Hasibullah selaras dengan ajaran-ajaran yang termaktub dalam Al-Qur’an. Menurut dia, sebagian besar kandungan kitab suci umat Islam itu adalah kisah. Dibandingkan dengan ayat-ayat hukum, ayat kisah lebih dominan disinggung.

Baca juga Mencegah Ekstremisme dengan Literasi

“Dalam Al-Qur’an sebagian besar ayat-ayatnya tentang ibroh. Memang ada ayatul ahkam, namun tidak lebih banyak. Kelebihan pendekatan ibroh adalah tidak mudah menghakimi. Pasti ada pembelajaran di setiap kisah,” kata Lulusan Universitas Al Azhar, Kairo, Mesir ini. [AH]

Baca juga Dialog Tokoh Agama Sulbar dengan Ahli Jaringan Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....