HomeOpiniPembangunan Karakter Melalui Buku...

Pembangunan Karakter Melalui Buku Cerita Anak

Oleh: Ananda Fitria Ramadhanti
Mahasiswi Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Pendidikan merupakan instrumen yang amat penting dalam proses pembentukan karakter anak. Tujuannya tentu menghasilkan SDM yang berkualitas. Guru atau orang tua selaku pihak yang berperan utama dalam mendorong dan memengaruhi karakter anak dapat menggunakan berbagai media pendukung. Salah satunya buku cerita anak yang di dalamnya mengandung pengayaan kepribadian.

Buku cerita anak biasanya dilengkapi dengan gambar-gambar yang mengandung nilai positif dalam proses penanaman karakter, selain hikayat-hikayat yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Tujuan visualisasi melalui gambar kartun adalah menarik minat baca anak. Guru atau orang tua dapat terlibat menjelaskan kepribadian-kepribadian yang terkandung dalam buku cerita. Guru atau orang tua juga dapat memahami karakter masing-masing anak melalui tanggapan-tanggapan yang diberikan.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Salah satu contoh buku pengayaan kepribadian adalah Beruang Kutub dan Panda, karya Matthew J. Baek. Inti buku tersebut mengajarkan bahwa perbedaan merupakan hal yang menarik dan unik, bukan menjadi halangan untuk membentuk sekaligus mengeratkan tali persaudaraan dengan orang lain. Guru atau orang tua dapat memberikan pemahaman pada anak bahwa kita tetap dapat bersatu meski dalam perbedaan. Tentu masih banyak buku pengayaan kepribadian lain yang dapat membentuk karakter anak sejak dini.

Aspek-aspek yang dikembangkan dalam pendidikan karakter, antara lain kesadaran, kemampuan menilai, memiliki sikap pengertian, serta kemampuannya dalam memecahkan masalah, baik secara individual maupun kelompok (Munthe & Halim, 2019).

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Aspek-aspek tersebut merupakan fondasi bagi anak untuk menjalani kehidupan di masa berikutnya. Dengan penanaman pendidikan karakter sejak dini, anak diharapkan memiliki perilaku yang baik dan bermoral sesuai dengan lokasi di mana ia tinggal, menjadi manusia cerdas dan berakhlak mulia.

Dalam konteks ini, guru atau orang tua memainkan peran penting dengan menempatkan diri sebagai pengarah sekaligus pembina dalam rangka mengembangkan karakter anak. Kemampuan guru atau orang tua dalam berkomunikasi dengan anak menjadi faktor penentu keberhasilan pendidikan karakter.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Guru atau orang tua harus bisa menyampaikan gagasan dengan sebaik mungkin agar menghindari multitafsir. Selain itu juga harus memiliki sikap yang terbuka dengan menampung apa yang menjadi keluh kesah anak dan memberikan saran yang tepat kepada setiap anak.

Pengayaan literasi melalui buku cerita anak dapat dilakukan dengan berbagai cara. Untuk anak-anak yang belum bisa membaca, guru atau orang tua dapat menjadi pembaca. Menjadi pembaca cerita bukanlah tugas yang mudah karena harus menata strategi agar anak tidak merasa jenuh dan bosan. Dalam konteks ini, alat bantu atau alat peraga dapat digunakan untuk mendukung visualisasi cerita. Setelah pembacaan cerita, guru atau orang tua dapat meminta tanggapan anak atas isi cerita. Pada akhir sesi, guru atau orang tua menyampaikan pesan-pesan moral apa saja yang dapat diambil dari cerita tersebut.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.3)

Sementara untuk anak yang sudah lancar membaca, guru atau orang tua dapat menjadi pengarah dan pembimbing. Dalam sehari, anak ditugaskan untuk membaca 1 buku cerita. Kemudian anak diminta merefleksikan isi cerita dan pesan moral dari buku tersebut. Setelah itu bisa didiskusikan mengenai perilaku apa saja yang dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari berdasarkan cerita yang telah dibaca.

Buku cerita memiliki banyak manfaat. Pertama, anak akan memiliki sikap dan karakter yang baik. Buku cerita anak mengandung banyak pesan moral. Apabila guru atau orang tua berhasil menyalurkan literasi pengayaan kepribadian tersebut, niscaya anak dapat menyerap pesan moralnya dan dapat menerapkannya ke dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag. 4-terakhir)

Kedua, buku cerita dapat mengembangkan daya imajinatif anak. Anak dapat mengeksplorasi setiap hal yang ada pada cerita tersebut.

Ketiga, anak lebih kreatif dalam memecahkan persoalan. Dalam buku cerita tersaji beragam pemecahan masalah atas konflik yang ada. Setiap persoalan tidak diselesaikan dengan satu solusi saja, melainkan banyak opsi.

Keempat, memerkenalkan banyak hal baru kepada anak. Buku cerita menyediakan banyak pengalaman baru kepada anak. Pengalaman baru dapat membuka daya pikir anak bahwa dunia yang sedang mereka geluti bukan hanya dunia yang saat ini mereka alami aja, melainkan banyak sekali dunia di luar sana.

Baca juga Istikamah dalam Perdamaian: Support System untuk Mendukung Pertobatan Mantan Pelaku

Hal tersebut dapat memacu siswa untuk memiliki rasa ingin tahu yang tinggi. Rasa ingin tahu yang tinggi mendorong anak lebih bahagia karena menurunkan kadar kecemasan. Selain itu anak juga cenderung memiliki rasa empati dan pengertian yang tinggi pada lingkungan sekitar.

Dengan rasa empati dan pengertian yang tinggi, anak akan mudah berinteraksi dan berkomunikasi dengan orang lain di sekitarnya. Dengan begitu akan menumbuhkan sikap supel dalam berinteraksi dengan orang lain. Perlahan karakter anak pun akan terbentuk seiring waktu.

Baca juga Ekstremisme Berlawanan dengan Fitrah Manusia: Refleksi Mantan Pelaku

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...