HomePilihan RedaksiKisah Agum Meredam Benci...

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang lebih parah dari saya. Dan mereka itu masih santai saja. Jadi, saya pikir orang yang lebih parah dari saya, mereka masih bisa ngobrol, maka saya tidak boleh down.”

Demikian pengakuan Muhammad Al Agum Pangestu, seorang korban bom di Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur, 24 Mei 2017 silam dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) beberapa waktu lalu. Agum, begitu ia kerap disapa, tidak pernah menyangka dirinya bakal menjadi korban aksi terorisme. 

Agum adalah seorang pemuda yang berasal dari Siantar, Sumatera Utara. Ia berprofesi sebagai anggota Polri yang berdinas di Polda Metro Jaya. Pada saat kejadian, Agum beserta rekan-rekan dinasnya ditugaskan untuk mengamankan kegiatan pawai obor masyarakat dalam rangka menyambut bulan suci Ramadhan. Aparat dibagi ke beberapa titik, dan Agum beserta rekan-rekan dinasnya ditugaskan mengamankan di kawasan Terminal Kampung Melayu.

Baca juga Menemukan Kedamaian di Tengah Kegelapan

Sekitar pukul 21.40, bom meledak di kawasan Terminal Kampung Melayu. Seketika Agum merasakan suasana mencekam dan seperti ada peluru yang berdesing di telinganya. Agum memejamkan matanya sekitar sepuluh detik dan saat membuka mata, asap putih mengepul. Namun saat itu Agum belum menyadari ledakan tersebut adalah bom.

“Di dekat saya ada ibu-ibu jualan kopi. Saya pikir itu (ledakan) tabung gas. Saya belum kepikiran itu bom. Handphone saya buang, saya lari,” kenang Agum.

Di tengah kepanikan itu, Agum berupaya keluar dari kepulan asap. Secara tak sengaja dia menabrak korban lainnya. Namun karena kebingungan, Agum terus saja berlari dan bertemu dengan rekan dinasnya. Agum pun diberitahu bahwa peristiwa itu adalah ledakan bom.

Baca juga Suara yang Tak Boleh Terlupakan

Kondisi Agum sudah lemas, ia pun berusaha mencari pertolongan. Dia dirujuk ke rumah sakit menggunakan angkutan kota. Namun situasi jalanan sangat ramai dan dilanda kepanikan, akhirnya ia tak bisa segera tiba di rumah sakit. Ketika ia tiba di rumah sakit langsung menerima tindakan medis.

Agum menjalani perawatan medis di rumah sakit sekitar seminggu. Beruntung masa pemulihannya medisnya cukup cepat. Selama menjalani perawatan dan pemulihan, Agum diberikan izin tidak bekerja selama sebulan oleh tempat dinasnya. Hingga sekarang, Agum merasa tidak ada kendala lagi. Dia sudah bisa beraktivitas seperti biasanya.

Agum mampu mulai bangkit dari keterpurukan saat bertemu para korban bom lainnya yang bernaung di Yayasan Penyintas Indonesia (YPI). Sebelum bertemu YPI, Agum selalu merasa minder dengan luka-lukanya. Namun setelah mengetahui ada korban bom lain yang lukanya lebih parah, Agum merasa lebih bersyukur. Apalagi saat para korban lainnya masih bisa tersenyum, membantu Agum untuk tetap semangat.

Baca juga “Bertemu Sesama Korban Menambah Semangat Hidup”

Agum tak menampik sempat marah kepada pelaku terorisme. Namun Agum menyadari bahwa tidak ada gunanya ia menyimpan dendam. “Kalau saya masih menyimpan dendam, terus saya melampiaskan dendam saya, pertama risiko buat saya sendiri. Kedua, mungkin ini sudah garis tangan (saya), lalu untuk apa saya dendam,” terang Agum.

Agum mengaku sudah berdamai dengan mantan pelaku terorisme. Dukungan sesama korban terorisme, membuat Agum mulai membuka diri. Dia mengaku berdamai dapat membantunya mengurangi rasa sakit.

Baca juga Naluri Menolong Sesama Insan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Nasib Perdamaian di Gaza

Konflik Israel-Palestina sudah berlangsung selama delapan bulan dan telah menelan korban...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...