HomeBeritaDialog Pelajar Bukittinggi dengan...

Dialog Pelajar Bukittinggi dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- Dalam beberapa tahun terakhir AIDA menggelar kampanye perdamaian untuk kalangan pelajar di berbagai wilayah. Salah satu daerah yang dikunjungi AIDA adalah Bukittinggi, Sumatera Barat. Tim perdamaian yang terdiri dari unsur mantan pelaku ekstremisme kekerasan dan korban terorisme berbagi kisah ketangguhan.

Mantan pelaku yang dihadirkan adalah Iswanto. Ia berbagi pengalaman hidup kepada sekitar 50 siswa di setiap sekolah di kota itu. Kegiatan yang dikemas dalam bentuk Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” memberikan kesempatan kepada peserta untuk berdialog dengan Iswanto. Redaksi merangkum dialog para pelajar Bukitinggi dengan Iswanto.

Baca juga Komitmen Damai Pelajar SMK PGRI Wajak Malang

Siswa SMAN 1 Bukittinggi: Sebenarnya apa yang menjadi tujuan dari organisasi bapak dan apa yang membenarkan aksi terorisme tersebut?

Iswanto: Pertama, yang menyebabkan saya bergabung dengan kelompok ekstremisme, karena apa yang ditanamkan kepada saya dulu adalah ingin menjadikan negara ini negara Islam (Khilafah), meskipun caranya dipaksakan dengan kekerasan. Kedua, bentuk pembalasan (atas kezaliman terhadap) kaum muslimin yang ada di luar negeri pada waktu itu, mau dibalaskan di negeri kita ini. Meskipun dampaknya sangat besar daripada hasilnya. Ketiga, Undang-Undang yang dibuat manusia dianggap menggantikan hukum dari Tuhan. Itulah yang membuat aksi tersebut tidak pernah memikirkan sampai sejauh mana dampaknya pada masyarakat. Padahal kalau baca sejarah, Rasulullah sangat memperhatikan dampak kebaikan bagi masyarakat.

Baca juga Berbagi Kisah Pertobatan Mantan Teroris di SMAN 1 Kraksaan

Siswa SMAN 4 Bukittinggi: Kenapa ada orang Islam juga menjadi korban aksi terorisme tersebut?

Iswanto: Simpelnya untuk semua kasus bom di seluruh Indonesia, baik bom Bali maupun bom yang lain, kelompok ekstremisme ingin berbuat aksi balas dendam terhadap kaum muslim di luar negeri lalu membalas di Indonesia. Meskipun di situ ada orang Islamnya juga. Jadi ketika mereka tahu ada korban dari orang Islam, sebagian dari mereka baru ada yang sadar. Mulai berpikir ulang tentang yang mereka lakukan.

Baca juga Penyintas Bom Menginspirasi Siswa SMK Turen Malang

Siswa SMAN 2 Bukittinggi: Bapak telah menyadari apa yang bapak lakukan. Bagaimana bisa bapak menyadari hal tersebut, apa karena orang lain atau diri bapak? Apa ada penyesalan?

Iswanto: Kesadaran saya dari guru saya dahulu (lebih dahulu bertobat) dan belajar lagi, kemudian saya bertemu korban. Saya mendengarkan kisah-kisahnya. Jadi berubah pikiran saya dan sadar, tentu saya pun mengalami penyesalan dan banyak risikonya, seperti dibenci oleh teman-teman lama saya dulu. Akan tetapi tidak apa-apa, saya punya teman baru seperti AIDA. Itu semua wujud dari penyesalan saya.

Baca juga Pesan Antikekerasan Pelajar Bukittinggi

Siswa SMAN 3 Bukittinggi: Bagaimana cara kami, pemuda-pemuda ini mengetahui kelompok bapak dahulu? Mengantisipasi agar tidak ada hal-hal negatif, seperti ekstrem tadi?

Iswanto: Kelompok ekstrem merekrut anak-anak muda. Cara paling mudah yang sering direkrut adalah anak muda yang punya semangat tinggi, labil, pintar, dan sangat pintar dipengaruhi dengan iming-iming surga. Kalau misalnya diarahkan untuk mengaji, hampir dan rata-rata mengajinya itu mengarah kepada kekerasan, bukan kepada amalan-amalan tabligh ibadah. Kemudian kadang anak sekolah, ditanamkan kalau pelajaran PKN (pendidikan kewarganegaraan) dan upacara bendera diminta untuk tidak ikut. Apalagi kalau orang tua kamu pegawai negeri, pasti akan diminta dimusuhi. Karena kelompok ini sangat benci terhadap pemerintahan.

Baca juga Cerdas Bermedia Sosial

Siswa SMAN 5 Bukittinggi: Bagaimana kiat dari bapak menghindari ekstremisme?

Iswanto: Ini termasuk membentengi diri dari kelompok kekerasan. Pertama ilmu agama yang sempurna, dipelajari dengan benar, karena kelompok ini semua mengatasnamakan agama. Kedua, bergaul dengan orang yang tidak suka kekerasan, tidak suka menganggap dirinya paling benar. Kalau ikut pengajian ambil yang baik-baik. Ketiga, jangan hanya bermodal semangat saja tanpa ilmu yang baik. Orang punya semangat saja tanpa didasari ilmu akan mudah diajak oleh mereka. Keempat, isilah berkegiatan yang bermanfaat dan tidak kosong yang akhirnya diisi oleh orang lain. [MSH]

Baca juga Pesan Damai Kepala SMA Hasyim Asy’ari Batu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...