HomePilihan RedaksiIlham Perdamaian

Ilham Perdamaian

Peristiwa teror Bom Kuningan 2004 membuat Ram Mahdi Maulana mengalami cedera parah. Hingga kini ia masih harus menggunakan penyangga leher. Kebencian, amarah, dan dorongan untuk balas dendam kepada para pelaku pengeboman sempat menghinggapi dirinya. Namun semua perasaan itu justru membuat batinnya tidak tenang.

Usai beri’tikaf di salah satu masjid di Jakarta, ia menjumpai peristiwa yang mengilhaminya untuk mengikhlaskan apa yang telah menimpanya dan berdamai dengan kondisi fisiknya yang tak lagi sempurna.

Baca juga Korban Bom Kuningan Berdamai dengan Kenyataan

Mahdi, demikian sapaan akrabnya, kini adalah ayah bagi ketiga putra-putrinya. Saat ledakan bom terjadi ia seorang bujangan yang tengah bersemangat meniti karir. Ia hampir selalu berangkat bekerja pada pagi buta dengan sepeda motor, menempuh waktu sekira satu setengah jam dari rumahnya di Bogor menuju kawasan Kuningan, Jakarta Selatan.

Tak seperti biasanya, 9 September 2004, setelah shalat subuh ia merasa sangat nyaman di atas sajadahnya sembari berzikir. Ia baru sadar harus berangkat kerja saat mentari pagi di ufuk timur mulai merekah. Meski demikian ia tidak telat tiba di kantornya, Kedubes Australia. Mahdi lekas menempatkan diri di pos jaga petugas keamanan.

Baca juga Ketegaran Korban Bom Kuningan

Sekira jam 10, ledakan keras terjadi di depan kantornya. Mahdi terhempas dan kepalanya terbentur. Setelah beberapa saat kehilangan kesadaran, Mahdi bangkit dan segera memeriksa kondisi rekan-rekannya. Sebagian besar dari mereka mengalami luka parah. “Saya tidak bisa prioritaskan salah satu di antaranya karena pikiran saya terpecah,” ungkapnya.

Hingga dua hari setelah peristiwa, Mahdi tak pulang ke rumahnya karena merasa bertanggung jawab menjaga lokasi kejadian. Ia tak dapat menghubungi keluarga karena telepon seluler miliknya hilang pada saat kejadian. Pihak keluarga sempat menduga Mahdi menjadi salah satu korban tewas sehingga menggelar kenduri tahlilan.

Baca juga Berjuang untuk Sesama Korban Bom

Baru pada hari keempat pascamusibah, ia memutuskan pulang ke rumah dan disambut dengan tangis haru keluarga besarnya. Beberapa jam kemudian, saat berkumpul dengan keluarga besarnya, tiba-tiba kepalanya terasa sangat sakit hingga membuatnya pingsan.

Mahdi dibawa ke rumah sakit terdekat untuk menjalani pertolongan pertama. Pihak keluarga lantas melaporkan kondisi Mahdi kepada atasannya. Pihak Kedubes lantas merujuknya ke salah satu rumah sakit di Karawaci Tangerang. Dari pemeriksaan diketahui bahwa Mahdi mengalami patah tulang rahang sebelah kanan, rahang lepas sebelah kiri, kerusakan parah pada gendang telinga kanannya, dan penggumpalan darah di otak.

Baca juga Korban Bom Kuningan Merasa Beruntung Meski Cidera

Walhasil Mahdi harus menjalani serangkaian operasi pemulihan dan terus mengonsumsi 14 jenis obat untuk mengurangi rasa sakit yang dideritanya. Kondisi itu diperburuk oleh emosinya yang tak stabil. Amarah dan kebencian mengisi hari-harinya.

Emosi negatif itu perlahan terkikis oleh beberapa peristiwa inspiratif. Saat keluar dari masjid, ia berjumpa dengan perempuan yang memberi makan seekor kucing yang kakinya patah sembari mendoakan orang yang menzalimi kucing tersebut agar diberikan hidayah.

Baca juga Memahami Rencana Tuhan

Mahdi juga dipertemukan dengan seorang ulama sufi. Selama belum bisa manunggaling kersane gusti (tidak menyatu dengan kehendak Allah), maka Mahdi akan terus berkeluh kesah. Peristiwa dan nasehat ulama itu menohok kesadaran Mahdi. Rupanya musibah yang menimpanya adalah bagian dari takdir Allah. Ia lantas menghaturkan syukur kepada Allah karena masih memberinya kesempatan hidup. Hatinya jauh menjadi lebih ikhlas, tenang, dan damai.

Beberapa waktu lalu, dalam kegiatan AIDA, Mahdi dipertemukan dengan mantan narapidana terorisme. Dari perjumpaan tersebut, ia mengetahui bahwa mantan pelaku juga mengalami keadaan hidup yang tidak mudah setelah menyadari kesalahannya. Ia pun memaafkannya dan berkomitmen untuk mensyiarkan perdamaian bersama.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berempati kala Kritis

Aliansi Indonesia Damai- Pagi menjelang siang, 9 September 2004, di dalam Bus...

‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Usai melaksanakan shalat idulfitri, warga Desa Genito, Windusari, Magelang, Jawa Tengah...

Kala Penyintas Bom Memerjuangkan Hak Asuh

Aliansi Indonesia Damai- “Setelah kejadian itu, Ibu tidak bisa melukiskan perasaan...

Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Marah adalah sifat manusiawi ketika seseorang merasa tidak nyaman atau merasa...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....