HomeBeritaPendidik Sumber Perdamaian

Pendidik Sumber Perdamaian

Menjaga perdamaian merupakan tugas semua orang, termasuk para pendidik. AIDA berupaya memberikan perspektif perdamaian kepada para guru sekolah menengah atas di pelbagai daerah di Indonesia melalui kegiatan “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai.” Salah satu daerah yang dikunjungi adalah Bukittinggi Sumatera Barat, beberapa waktu silam. Kegiatan tersebut menghadirkan mantan pelaku ekstremisme kekerasan dan korban terorisme sebagai narasumber.

Yulfahyetti, salah satu peserta, mengaku memeroleh banyak pembelajaran berharga. Menurut dia, pemahaman agama sangat penting untuk menghentikan ekstremisme. Meski ia menyadari agama tidak mengajarkan kekerasan, tetapi cara memahami agama yang keliru bisa membuat orang menjadi ekstremis.

Baca juga Dialog Pelajar Bukittinggi dengan Mantan Ekstremis

“Dalam mempelajari agama (harus) secara penuh, tapi tidak fanatik dan berlebihan karena akan menimbulkan negatif. Memahami agama secara penuh dan tidak setengah-setengah,” ujar guru SMAN 3 Bukittinggi itu.

Ia menilai, guru dan orang tua harus bisa berperan sebagai teman bagi anak-anak, sebab dari penuturan kisah mantan pelaku, faktor pertemanan memberikan pengaruh cukup besar seseorang masuk dalam kelompok ekstremis. Karenanya orang tua dan guru  perlu memerhatikan dengan siapa anak-anak bergaul dan seperti apa pergaulannya.

Baca juga Komitmen Damai Pelajar SMK PGRI Wajak Malang

“Orang tua Bapak Ali Fauzi (mantan pelaku yang menjadi narasumber kegiatan: red) tidak tahu ia berteman dengan siapa dan bagaimana, Maka di sini jangan sampai hubungan anak, orang tua, guru, anggota masyarakat terputus. Jika ada sikap yang berbeda maka segera bisa dikomunikasikan,” katanya.

Yulfa, demikian sapaan akrabnya, juga mendapatkan inspirasi dari cerita korban terorisme. Korban yang mengalami luka berat bisa memaafkan pelakunya. Itu merupakan proses kemanusiaan yang sangat berat. Hal ini menjadikan Yulfa semakin yakin bahwa selalu ada hikmah di balik segala sesuatu yang telah dikehendaki Tuhan, termasuk memberi pelajaran bagi sesama tentang pemaafan yang tulus.

Baca juga Pesan Antikekerasan Pelajar Bukittinggi

Yulfa berpesan agar kegiatan pelatihan guru ini dapat terus dilakukan. Dalam hematnya, 20 orang peserta yang berasal dari 5 sekolah di Bukittinggi masih terlalu sedikit menghadapi masifnya kelompok ekstremis mengampanyekan paham kekerasan.

“Acara ini sangat bagus untuk guru. Berharap bahwa AIDA melakukan acara ini pada guru-guru yang lain, bukan hanya kami saja yang di sini, termasuk untuk anak-anak kita, semua anak-anak SMA kita libatkan. 1 kali per tahun ajaran,” ujarnya memungkasi. [MSH]

Baca juga Berbagi Kisah Pertobatan Mantan Teroris di SMAN 1 Kraksaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...