HomePilihan RedaksiPendidikan yang Saling Menyalehkan

Pendidikan yang Saling Menyalehkan

Pendidikan adalah fondasi utama pembangunan bangsa. Pendidikan karakter akan membuat fondasi tersebut menjadi tangguh dari segala bentuk usaha yang merusak dan menghancurkan bangsa. Karena itu dibutuhkan kegiatan pembelajaran yang memberikan penguatan pada karakter anak didik di seluruh jenjang pendidikan. Pendidikan karakter itu terasa lebih urgen di tengah cobaan Pandemi Covid-19.

AIDA telah melaksanakan beberapa kegiatan Dialog Interaktif Virtual: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh yang diikuti oleh ribuan siswa SMA/SMK/MA dari beberapa kota di Jawa dan Sumatra. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk dialog secara daring, antara siswa dengan Tim Perdamaian. Tim terdiri atas mantan pelaku ekstremisme kekerasan dan korbannya. Mereka sudah saling memaafkan, melakukan rekonsiliasi, dan berkomitmen untuk menyuarakan perdamaian di Indonesia.

Baca juga Guru sebagai Penggerak Perdamaian

Pengalaman mantan pelaku yang pernah terpengaruh oleh paham ekstrem, bahkan melakukan aksi kekerasan, dan korban terorisme yang terdampak langsung oleh aksi kekerasan, sangat berkesan dan memberikan pelajaran yang nyata kepada siswa. Seorang siswa dari Bandung misalnya. Ia merasa bersyukur bisa mendengarkan kisah mantan pelaku terorisme, sehingga mengharapkan generasi muda lebih ‘melek’ mengenai hal ini dan tidak terjerumus dalam tindakan ekstremisme.

Siswa lain mendapatkan pelajaran tentang pentingnya menjadi sosok pemaaf. Apa pun musibah yang didapatkan dari orang lain, apa pun kejahatan yang kita terima dari orang lain, kunci awal untuk mencapai perdamaian adalah dengan memaafkan pelaku dan berdamai dengan diri sendiri. Banyak lagi pembelajaran lain yang didapatkan siswa.

Baca juga Guru dan Pendidikan Karakter

Dari berbagai dialog dan respons siswa tersebut, kita bisa mengambil pelajaran bagi pembangunan karakter bangsa ini:

Pertama, pentingnya segenap bangsa untuk bangkit dari segala bentuk kemunduran dan keterpurukan. Semua komponen bangsa harus saling bersatu, bersama bahu membahu untuk memperbaiki segala kekurangan di semua sektor kehidupan. Tidak perlu lagi saling ‘menyalahkan’, melainkan saling ‘menyalehkan’ (membuat lebih baik/saleh) satu sama lain. Hal ini menjadi lebih mendesak di tengah Covid-19 yang berdampak pada hampir seluruh aspek kehidupan.

Kedua, pentingnya segenap komponen bangsa untuk saling memaafkan, tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, atau tidak melakukan suatu tindakan yang tidak adil dan melanggar hukum dengan alasan membela saudaranya yang ditindas atau dizalimi. Sebab pada akhirnya, semua bentuk kekerasan dan ketidakadilan hanya akan merugikan bangsa ini.

Baca juga Sumpah Pemuda: Menyongsong Indonesia Emas

Ketiga, kepada para pihak yang berwenang, diharapkan dapat mengelola permasalahan bangsa ini secara inovatif, kreatif, dan edukatif agar permasalahan kebencian, kekerasan, dan ekstremisme tidak berkembang menjadi “bola liar” yang mengancam keutuhan bangsa.

Bangsa ini harus kembali dikuatkan dengan pendidikan dan karakter di atas. Semoga para siswa dan warga bangsa lainnya dapat terus belajar dari ketangguhan korban dan mantan pelaku. Agar ke depan, orang-orang akan lebih ‘saling menyalehkan’. Supaya harkat dan martabat bangsa ini semakin baik.

Baca juga Agen Sosialisasi Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...