HomeOpiniMenggelorakan Ketangguhan

Menggelorakan Ketangguhan

Oleh Fahmi Suhudi
Alumni Darus-Sunnah International Institute for Hadith Sciences Ciputat

Setiap orang tentunya pernah mengalami musibah atau ujian hidup. Bisa berupa sakit, bencana alam, atau kehilangan sosok terdekat. Musibah memberikan pembelajaran berharga bagi siapa pun yang terkena dampaknya. Selain itu juga memunculkan sifat sabar dan rasa syukur karena masih bisa merasakan kenikmatan Allah yang lain.

Ketika mengalami musibah apa pun, manusia dianjurkan untuk melantunkan kalimat istirja’, yakni inna lillahi wa inna ilaihi rajiun yang bermakna sesungguhnya semua makhluk adalah milik Allah dan akan kembali pada-Nya. Hari-hari ini, kalimat istirja’ sangat sering muncul, baik dari pengeras-pengeras suara di kampung maupun di grup pertemanan media sosial.

Baca juga “Ketangguhan Mental Para Penyintas dan Mantan Pelaku Terorisme”

Dalam situasi pandemi yang masih mengkhawatirkan, berseliweran berita tentang kematian. Anak harus ditinggalkan orang tua, suami ditinggal istri atau bahkan sekeluarga meninggal dunia. Di tengah keprihatinan tersebut, penting rasanya untuk menggelorakan semangat ketangguhan menghadapi segala musibah.

Ada banyak ayat Al-Qur’an yang menyerukan pentingnya bersabar ketika terkena musibah dan ujian hidup. Salah satunya adalah ayat berikut:

وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ ۝ الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُمْ مُصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ ۝ أُوْلَئِكَ عَلَيْهِمْ صَلَوَاتٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ

Artinya: Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, yaitu mereka yang ketika mendapatkan musibah mereka mengatakan, ‘sesungguhnya kami milik Allah dan kami sungguh akan kembali kepada-Nya.’ Merekalah yang mendapatkan pujian dari Tuhannya dan kasih sayang, dan mereka itulah orang-orang yang mendapatkan petunjuk (QS. Al-Baqarah: 155-157).

Baca juga Menghargai Kearifan Budaya

Ayat tersebut didahului dengan ayat yang menjelaskan bahwa Allah akan menguji umat manusia dengan rasa takut akibat kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan tumbuhan-tumbuhan/ buah-buahan. Padahal semua itu merupakan hal-hal yang biasa dinikmati.

Menurut Imam al-Thabari dalam kitab tafsir Tafsir Jami’ul Bayan, sikap bersyukur atas nikmat kehidupan yang diberikan Tuhan merupakan salah satu tanda kesempurnaan beragama (ikmal al-syariah huwa itmam al-syukr). Bersyukur juga bisa dipraktikkan ketika tertimpa musibah. Tentu tidak hanya sekadar ucapan, melainkan dengan sikap dan perbuatan. Dengan kata lain, musibah adalah keadaan dan ujian setelah seseorang diberikan nikmat yang seharusnya senantiasa disyukuri (Tafsir At-Thabary, Vol. 3, Hal 221). 

Baca juga Memaknai Hijrah dalam Bingkai Perdamaian

Pandangan hampir senada diungkapkan Imam Fakhrudin al-Razi dalam Tafsir al-Kabir li Al-Qur’anil Karim atau yang populer dengan Mafatih al-Ghaib. Kesabaran saat mendapatkan musibah merupakan ujung tombak dari ajaran Islam. Kesabaran dan usaha sekuat tenaga untuk melewati musibah dan ujian yang dialami merupakan bagian dari iman. Karenanya, ketika seseorang terkena musibah, maka dianjurkan melihat apa yang masih dimiliki. Faktanya ketika masih merasakan musibah, berarti kita masih diberi nikmat kehidupan dunia.

Hal itu menunjukan kesempurnaan iman seseorang. Al-Razi mengutip hadis Nabi Muhammad Saw, “Al-Imanu nishfani, nishfu shabrin wa nishfu syukrin: keimanan itu terbagi dua, sebagian adalah kesabaran dan sebagian lainnya adalah syukur (Tafsir Mafatih al-Ghaib, Vol. 4, Hal. 128).

Baca juga Mengembangkan Dakwah, Menyuburkan Damai (Bag. 1)

Rasa syukur dengan cara lebih berfokus pada apa yang telah diberikan Tuhan merupakan salah satu wujud ketangguhan. Ini memang mudah dikatakan, sulit untuk dipraktikkan. Terlebih di tengah musibah pandemi seperti sekarang. Namun bagaimana pun setiap orang harus terus melatih diri dengan sikap ini.

Salah satu amal baik yang dianjurkan dalam Islam adalah menjenguk orang yang sakit dan mendoakan kesembuhannya. Anjuran ini sejatinya mengajarkan bahwa seseorang tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Artinya mesti bersosialisasi dalam kehidupan sehari-hari. Di sisi lain juga mengajarkan tentang pentingnya solidaritas, saling membantu dan menguatkan satu sama lain.

Baca juga Mengembangkan Dakwah, Menyuburkan Damai (Bag. 2-Terakhir)

Jika seseorang menderita sakit, maka kewajibannya juga adalah berobat agar diberikan kesembuhan. Kecuali jika ia meyakini sepenuh hati bahwa sakit adalah bagian dari karunia Tuhan yang harus dinikmati, sebagaimana dalam hikayat ahli tasawuf (sufi). Karena sejatinya tidak ada penyakit kecuali ada obatnya. Sebagaimana hadis Nabi, “Likulli da’in dawa’un: setiap penyakit pasti memiliki obatnya.”

Dalam konteks ini kita bisa memetik pelajaran dari ketangguhan para korban terorisme. Ada di antara mereka yang harus menderita cedera di sekujur tubuhnya, bahkan sebagian mengalami disabilitas. Mereka tetap berikhtiar untuk berobat demi menyembuhkan luka fisik yang dialaminya, pun trauma psikis.

Baca juga Cermat dengan Stigma Sosial

Selain itu mereka tetap bersyukur. Meski pernah mengalami peristiwa tragis, mereka masih diberikan kesempatan menghirup udara dunia. Sebagaimana kisah Andi Dina Noviana atau Andin, korban Bom Thamrin 2016. Ia memang pernah merasa sangat terpuruk, bahkan sempat tiga kali mencoba bunuh diri. Namun kini Andin justru mensyukuri musibah itu, karena telah membuatnya lebih menghargai setiap detak nafas yang dianugerahkan Allah. Pun ia memiliki pengalaman hidup yang bisa dibagikan kepada orang lain (baca: Keikhlasan dan Pengampunan Menyembuhkan Luka: Kisah Andi Dina Noviana, Penyintas Bom Thamrin)

Pandemi ini mengharuskan semua orang berjuang melawan virus Covid-19. Karenanya setiap orang penting untuk memiliki sifat ketangguhan, yakni sabar dan syukur.

Baca juga Jihad untuk Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....