HomeBeritaDialog Siswa SMAN 1...

Dialog Siswa SMAN 1 Makassar dengan Korban Bom Thamrin

Aliansi Indonesia Damai – Sembari menahan isak tangis, Nurman Permana, korban Bom Thamrin 2016, mengisahkan sepenggal pengalaman hidupnya di hadapan 52 pelajar SMAN 1 Makassar, dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang  dilaksanakan AIDA, Senin (02/08/2021).

Nurman, sapaan akrabnya, mengaku tak memiliki firasat apa pun sebelum musibah itu menimpanya. Memang kakaknya sempat melarangnya pergi ke Plaza Sarinah di kawasan Jalan MH Thamrin Jakarta Pusat. Tetapi karena Nurman bersikeras, mereka berdua memutuskan tetap berangkat untuk membereskan masalah kartu selulernya.

Baca juga Melahirkan Pelopor Perdamaian di SMAN 1 Makassar

Ketika melintasi jalan MH Thamrin, Nurman sempat membatin bahwa Jakarta sedang absen dari pemberitaan terorisme. Tak lama berselang ia melihat asap mengepul dari gerai Starbucks. Kakaknya mengira itu hanyalah ledakan tabung gas, sedangkan Nurman beranggapan ledakan bom. Belakangan diketahui bahwa asap tersebut memang berasal dari bom yang meledak di dalam gerai.

Tanpa berpikir panjang, mereka melanjutkan berjalan menyeberangi sisi yang lain. Ketika sampai di separator busway, tiba-tiba bom lain meledak sekitar 7 meter dari posisinya.

Baca juga Menyemai Ketangguhan di SMK Budi Mulia Malang

“Sebelum pos polisi meledak, saya sempat melihat seseorang sedang ngomong ‘telah terjadi ledakan di Starbucks Sarinah’. Pas kedua kalinya dia ngomong, tiba-tiba di belakang dia langsung meledak. Posisi saya ada di depan orang itu,” ucapnya mengenang.

Nurman yang panik langsung berlari sehingga terpisah dari kakaknya. Ia pun tak sadar bahwa kondisi badannya berlumuran darah. Beberapa bagian badannya robek. Saat itu, ia berpikir bahwa kakaknya sudah tiada karena sempat melihat korban lain tergeletak.

Baca juga Dialog Siswa SMK Budi Mulia Malang dengan Penyintas Bom

Saat dirinya ditolong oleh warga, Nurman melihat kakaknya yang selamat. Ia langsung merasa bersalah karena tidak mendengarkan perkataan kakaknya untuk menunda pergi ke Plaza Sarinah.

Sesampainya di rumah sakit, barulah Nurman merasakan sakit yang luar biasa. Telinga kirinya terbakar. Hingga sekarang masih sering terasa mendengung. Tangan kirinya pun terkena serpihan berbagai macam mur dan baut hingga harus menjalani perawatan selama 30 hari untuk proses pengambilan serpihan.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Malang dengan Mantan Ekstremis

Selain dampak fisik, Nurman juga mengalami dampak psikologis. Selama lebih dari 2 tahun ia tidak berani untuk melewati kawasan MH Thamrin. Ia pun trauma dengan orang berciri tertentu.

Namun semuanya terlewati. Nurman kembali mendapatkan semangat hidup setelah bertemu dengan korban bom yang lain. Ia melihat banyak korban yang lebih menderita tapi masih terus semangat menjalani hidup. Ia memilih belajar untuk ikhlas. Karena keikhlasan akan membuat hidupnya lebih bermakna. Ia juga mengajak kepada para siswa untuk tidak pernah menyerah.

Baca juga Generasi Muda Duta Perdamaian

Beberapa siswa mengapresiasi ketangguhan Nurman yang berhasil bangkit pascakejadian mengerikan tersebut. Beberapa di antaranya lantas menanyakan bagaimana Nurman mengatasi perasaan traumanya.

Ia menceritakan bahwa baginya trauma adalah perihal waktu. Beberapa bulan setelah kejadian tersebut, Nurman pernah memaksakan diri untuk kembali melewati lokasi kejadian lantaran merasa sudah bugar dan sehat. Sayangnya, hal tersebut justru berujung tangisan dan teriakan bahkan sebelum sampai di lokasi.

Baca juga Generasi Muda Cinta Damai

“Buat saya pribadi, jujur, trauma belum seratus persen sembuh. Akhirnya berani lewat jalan itu lagi karena waktu, sembuh karena waktu,” demikian ia menjelaskan kepada siswa.

Seorang siswa mengaku bahwa apa yang disampaikan oleh Nurman menjadi pembelajaran hebat baginya. “Ikhlas adalah kunci. Ketika ikhlas menerima apa yang terjadi, maka kita pasti bisa menemukan jalan keluarnya. Jangan takut untuk bangkit kembali dan memulai hidup yang jauh lebih baik,” ujar seorang siswi pada sesi akhir kegiatan. [WTR]

Baca juga Pelajaran Damai dari Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...