HomeInspirasiAspirasi DamaiMembangun Persaudaraan

Membangun Persaudaraan

Teknologi informasi memudahkan  setiap pengguna gawai untuk mengakses berbagai jenis konten media sosial. Message (pesan) yang disampaikan harus mengandung unsur yang menyenangkan. Terlebih generasi milenial cenderung dikenal dengan generasi digital native. Oleh karenanya penting untuk mengedepankan berbagai hal yang membangun kesadaran akan kedamaian, bukan dengan konten-konten yang mengandung unsur kekerasan.

Sejatinya, manusialah yang memengaruhi konten media sosial, bukan sebaliknya. Namun demikian, tidak sedikit informasi dan provokasi kekerasan dengan menggunakan alat teknologi dan media sosial.

Baca juga Beragama yang Bermaslahat

Anjuran untuk membangun perdamaian (silmiyah) juga berarti membangun kepada perubahan yang lebih baik (ishlah). Ayat al-Quran yang menegaskan tentang pentingnya ishlah adalah:

إنَّما المُؤْمِنُونَ إخْوَةٌ فَأصْلِحُوا بَيْنَ أخَوَيْكم واتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكم تُرْحَمُونَ

Artinya: Sesungguhnya orang-orang beriman itu seperti saudara, maka damaikanlah di antara saudara-saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu menjadi orang yang dirahmati (QS. Al-Hujurat: 10).

Ayat ini menerangkan bahwa sesama orang beriman itu bagaikan saudara. Ayat ini juga memerintahkan, jika ada konflik dan pertentangan antarsaudara maka harus didamaikan agar tidak ada permusuhan. Mengutip penafsiran para ulama, kata ikhwah di ayat tersebut mengharuskan rasa persaudaraan yang kuat sebagai sebuah ikatan yang menghubungkan satu sama lainnya sebagaimana hubungan darah.

Baca juga Belajar dari Mantan Ekstremis

Menurut al-Sa’di dalam tafsirnya, jika terjadi saling memusuhi antara dua kelompok, maka jadilah juru damai di antara keduanya. Al-Sa’di mengutip hadis Nabi Muhammad Saw, “Kunu ibadallahi ikhwanan, al-mu’minu akhul mu’min, la yuzhlimuhu wa la yakhdziluhu wa la yuhqiruhu (Jadilah hamba Tuhan yang bersikap seperti saudara. Seorang mukmin adalah saudara bagi mukmin lainnya, tidaklah ia menzaliminya dan tidak menghardiknya dan tidak mencelanya).”

Senada dengan hal tersebut, Muhammad Tahir ibnu Asyur, penulis kitab al-Tahrir wa al-Tanwir mengatakan bahwa menegakkan ishlah di antara orang beriman ketika terjadi permasalahan yang meruncing di antara mereka adalah kewajiban. Dan harus didamaikan jika terjadi perselisihan.

Baca juga Konsep Pertobatan Mantan Ekstremis

Lebih jauh, Ibnu Asyur menjelaskan, ayat ini berkaitan dengan terbangunnya persaudaraan (ikha’) antara orang-orang yang hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah yang diartikan secara lahiriah akan menciptakan perdamaian. Secara maknawi, hijrah juga bisa diartikan perubahan dari pemahaman yang gemar membolehkan kekerasan beralih kepada perdamaian dan ajaran yang penuh kasih sayang.

Di antara sikap untuk membangun perdamaian itu adalah dengan berlaku adil kepada kelompok yang tidak disukai. Sebagaimana firman Allah:

 وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَـَٔانُ قَوْمٍ عَلَىٰٓ أَلَّا تَعْدِلُوا۟ ۚ ٱعْدِلُوا۟ هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ ۖ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرٌۢ بِمَا تَعْمَلُونَ

Artinya: Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah mahamengetahui apa yang kamu kerjakan (QS Al-Maidah:8).

Baca juga Seni Mengelola Dendam

Agama menekankan kepada perdamaian dan berlaku adil kepada kelompok yang berbeda. Sikap adil kepada kelompok yang berbeda dicontohkan oleh para penyintas korban terorisme dan mantan pelaku yang telah bertobat. Dengan berlaku adil, para penyintas tidak menghakimi masa lalu para mantan pelaku yang telah insaf dari pemahaman kekerasan.

Sementara mantan pelaku ekstremisme dulu meyakini bahwa pemahaman keagamaan mereka dahulu yang paling benar. Konsekuensi dari pemahaman tersebut, orang yang berada di luar kelompoknya dianggap sesat dan kafir bahkan dihalalkan darah dan hartanya. Namun seiring perjalanan waktu, mereka mengubah pandangannya.

Baca juga Kesabaran dan Pemaafan

Salah satu upaya membangun perdamaian juga ditunjukkan oleh permintaan maaf mantan pelaku ekstremisme kepada para korbannya, sekalipun mereka tidak terlibat langsung. Dengan keterbukaan hati para penyintas terorisme, kita belajar tentang perdamaian.

Dengan meminta maaf, seseorang tidak akan kehilangan harga dirinya di hadapan orang yang dimintai maaf. Sedangkan orang yang memberikan maaf atas kesalahan orang lain sejatinya mengajarkan agar orang tidak melakukan kesalahan yang sama.

Baca juga Menjaga Akhlak di Medsos

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...

Menebar Benih Perdamaian di Jepara

Aliansi Indonesia Damai- Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustaz Hery Huzaery menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/01/2026). Sebanyak 56 asatidz/asatidzah...