HomeBeritaDialog Pelajar Serang dengan...

Dialog Pelajar Serang dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- AIDA bekerja sama dengan Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud Ristek kembali menggelar Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di beberapa SMA di Kota Serang, Banten. Pada Selasa (12/10/2021), kegiatan dilaksanakan di SMAN 2, SMAN 3, dan SMAN 4 Serang.

Salah satu narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme (napiter). Kurnia mengaku terpapar ekstremisme kekerasan sejak duduk di bangku SMA di Bandar Lampung. Saat kuliah di Bandung, ia semakin aktif di kelompok ekstrem. Bahkan Kurnia dan rekan-rekannya merakit bom sebagai bentuk persiapan jihad.

Baca juga Menguatkan Karakter Melalui Kisah Penyintas Bom

Karena perbuatannya, ia harus berurusan dengan hukum dan menjalani hukuman beberapa tahun di Lapas Cipinang Jakarta. Penjara lantas menjadi titik balik perubahannya menjadi pribadi yang cinta damai.

Usai sesi paparan Kurnia, salah satu peserta bertanya kepada Kurnia, “Apakah saat pertama kali terpapar, lingkungan sekitar Bapak tidak mengetahui hal tersebut?”

Baca juga Dialog Pelajar Serang dengan Penyintas Bom Kampung Melayu

Kurnia menjelaskan, karakter para anggota kelompok teror memang cenderung tertutup dan eksklusif. Seseorang yang baru masuk ke dalam kelompok teror mengalami perubahan sikap yang sangat kentara.

“Orang yang baru terpapar akan langsung tertutup, bahkan di keluarga yang biasanya dia ngobrol dengan orang tua, jadi tidak mau ngobrol lagi. Kalau ada acara keluarga yang bertentangan dengan keyakinannya, seperti arisan atau pesta, dia akan menghindarinya. Bahkan dia akan cenderung mudah memvonis lingkungan sekitarnya,” ucap Kurnia.

Baca juga Dialog Pelajar Malang dengan Mantan Napiter

Hal seperti itulah yang juga sempat dialami oleh Kurnia. Saat masih aktif di jaringan teror, ia menutup diri, bahkan dari keluarganya. Kurnia tidak memberitahukan aktivitasnya di jaringan ekstrem ke orang tua atau bahkan istrinya sendiri. “Banyak di antara kita dahulu yang benar-benar tertutup. Terus tiba-tiba dapat kabar di berita sudah ngebom aja,” kata Kurnia.

Peserta lain menanyakan tentang motivasi Kurnia keluar dari kelompok teror. Kurnia menceritakan kondisinya di Lapas saat itu. Penjara menjadi tempat Kurnia berkontemplasi dan merenungkan kembali perbuatannya di masa lalu. Pikiran kritisnya muncul. Pertemuan dengan korban terorisme semakin memantapkan langkahnya untuk bertobat.

Baca juga Dialog Pelajar Malang dengan Penyintas Bom Bali

Kurnia tidak menampik bahwa ada ancaman yang ia terima tatkala memutuskan bertobat. “Kelompok radikal ini ketika kita masuk sangat mudah. Tapi ketika keluar, banyak halangan dan ancaman. Misalnya kita dianggap murtad, karena sudah tidak sepaham dengan mereka. Kita bahkan diancam akan dibunuh. Pokoknya ancaman secara fisik dan mental dilakukan oleh mereka,” kata Kurnia mengenang.

Kurnia lantas berpesan agar para pelajar memiliki wawasan yang luas dan kritis. Ia mengkritik pola pendidikan saat ini yang masih kurang mengembangkan nalar kritis peserta didik. “Ini yang harus diubah, sehingga kita bisa bersikap kritis. Seperti yang saya alami, karena sikap kritis, saya bisa keluar dari tempurung yang sempit itu,” tutur Kurnia. [FAH]

Baca juga Kemendikbud: Generasi Muda Jangan Terseret Ekstremisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....