HomePilihan RedaksiKetika Ekstremis Mengaku Khilaf...

Ketika Ekstremis Mengaku Khilaf (Bagian 2- terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Awal mula keterlibatan Iswanto dalam jaringan ekstrem lantaran diajak oleh guru-gurunya. Pun demikian keputusannya untuk keluar dari kelompok itu karena pengaruh gurunya. Hal itu terjadi sekitar tahun 2000-an. Iswanto diminta kembali dari medan konflik Ambon dan Poso menuju kampung halamannya di Jawa Timur. Tak lama setelah itu ia pun melangsungkan akad pernikahan. Pada saat itulah hal tak terduga terjadi. Ia mendapatkan kado berupa kumpulan peluru senjata api.

Menurut Iswanto kado itu merupakan pesan tersirat sang guru bahwa walaupun dia telah menikah, namun tujuan yang sesungguhnya adalah melaksanakan jihad dalam arti perang. Guru Iswanto cukup khawatir ia akan lebih fokus pada urusan keluarga dibandingkan dengan jihad yang menjadi program kelompoknya. Namun karena merasa tidak berhak atas kado tersebut, ia mengembalikannya kepada pemberi.

Baca juga Ketika Ekstremis Mengaku Khilaf (Bag. 1)

Beberapa tahun usai peristiwa Bom Bali 2002, beberapa guru dan rekannya ditangkap aparat. Saat menyambangi salah satu gurunya di tahanan, Iswanto dinasehati agar berhenti dari kelompok ekstrem.

Di tengah kegalauannya, ia membaca ulang buku-buku tentang jihad. Ia menemukan bahwa ternyata makna jihad begitu luas, tidak hanya sebatas perang. “Itulah bagian penting dari proses titik balik saya. Saya merasa harus meninggalkan aksi-aksi kekerasan. Awal mula saya masuk jaringan ini karena diajak teman dan guru. Dan saya memutuskan meninggalkan kelompok ini juga karena guru saya,” ungkap pria yang pernah punya nama alias Isy kariman alias Zaim itu.

Baca juga Saat Napiter “Kehilangan” Anaknya

Tidak hanya itu, Iswanto juga meyakini bahwa dalam ajaran Islam menuntut ilmu adalah bagian dari jihad. Karena itu ia melanjutkan pendidikannya ke jenjang S2 di Universitas Muhammadiyah Surabaya. Pada tahun 2009 pun ia dipercaya menjadi petugas haji non-kloter untuk membantu jemaat haji asal Indonesia agar bisa melaksanakan ibadah dengan baik. Ketika itu, ia mengaku ada perubahan yang sangat drastis.

Dulu sewaktu SMA, Iswanto sangat anti dan bahkan mengharamkan upacara dan penghormatan terhadap bendera merah-putih, termasuk juga menyanyikan lagu kebangsaan. Perbuatan semacam itu ia nilai sebagai bentuk kesyirikan karena menyekutukan Allah Swt. Namun ketika menjadi petugas haji yang mewakili negara Indonesia, ia justru merasa bangga membawa bendera merah-putih dan nama baik negara.

Baca juga Hati-Hati Mencari Ilmu

Malahan, ketika memakai seragam dan topi yang tertempel bendera merah-putih, ia merasa terharu dan makin mencintai negara Indonesia. “Saat saya menjadi petugas haji, saya terharu dan sangat bangga bisa menjadi bagian dari orang yang membawa nama baik negara ini. Sekarang saya memahami mencintai negara juga bagian dari iman. Tidak perlu berperang karena itu yang menyakiti sesama,” kata pria kelahiran Lamongan, Jawa Timur itu.

Puncak keinsafan Iswanto terjadi saat AIDA memertemukannya dengan sejumlah korban terorisme. Ia tidak hanya mengaku sedih melihat kehidupan korban yang ternyata penuh derita dan keterpurukan. Lebih dari itu, Iswanto merasa perbuatan kelompoknya tidak pernah mencapai apa yang dicita-citakannya karena korbannya ternyata orang-orang tak bersalah dan tak tahu apa-apa. Apalagi ketika melihat korban sudah kehilangan anggota tubuhnya.

Baca juga Jalan Hijrah Mantan Ekstremis

“Di situ ada yang sudah kehilangan anggota tubuhnya. Di situ saya banyak berbincang dan pertemuan itu membuat saya semakin menyadari apa yang saya lakukan dulu adalah bentuk kesalahan,” ujarnya.

Ia bahkan merasa lemah karena para korban ternyata memaafkan kesalahannya. Kini bersama AIDA, Iswanto menyuarakan nilai-nilai perdamaian kepada masyarakat luas. Selain beraktivitas sebagai guru di sekolah, ia juga berdagang toko kelontong dan pembimbing jemaat haji dan umroh. Saat momen upacara dan pengibaran bendera rutin di sekolah, ia mengaku senang dan bangga menjadi warga negara Indonesia. “Dulu saya tidak pernah upacara bahkan membenci upacara, tapi sekarang saya lakukan itu dengan sepenuh hati, senang dan bangga,” ujarnya.

Baca juga Merajut Ukhuwah Merawat Perdamaian

Dalam setiap kegiatan bersama AIDA, Iswanto selalu menekankan bahwa agama Islam adalah agama perdamaian, dan bukan kekerasan. Kepada generasi muda ia berpesan agar pandai memilih guru agama yang mengajarkan Islam dengan nilai-nilai perdamaian. “Poin penting dalam seluruh perjalanan hidup saya adalah memahami agama sebagai ajaran perdamaian bukan permusuhan dan kekerasan. Generasi muda harus memilih guru dan teman yang mendukung perdamaian,” ucapnya berpesan. [AH]

Baca juga Mereka yang Menemukan Jalan Kembali (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...