HomeOpiniPahlawan Perdamaian

Pahlawan Perdamaian

Oleh Ahmad Hifni
Alumni Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Hari Pahlawan yang diperingati setiap 10 November menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pahlawan dalam menanam bibit-bibit perdamaian di negeri ini. Momentum ini menjadi pengingat sejauh mana perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raganya mampu menjadi penyala semangat kaum muda untuk membangun dan mewujudkan kehidupan negerinya yang damai.

Meskipun kemerdekaan bangsa Indonesia atas penjajahan telah diraih, persatuan terus dieratkan, kedaulatan rakyat telah digenggam, akan tetapi tata kehidupan masyarakat masih sangat membutuhkan perdamaian yang harus terus diperjuangkan. Mungkin masih banyak di antara kita yang belum sepenuhnya melihat bahwa para pahlawan yang berjasa bagi bangsa dan negara sejatinya tidak semata-mata bertujuan meraih kemerdekaan dalam arti yang sempit.

Baca juga Proses Panjang Meninggalkan Ekstremisme

Lebih dari itu, makna kemerdekaan yang sejati adalah kita bebas dari segala bentuk konflik sosial, pertikaian, ketidakadilan, hingga kekerasan yang berujung pada aksi-aksi terorisme. Maka dari itu, saat ini tolok ukur kepahlawanan tidak lagi identik dengan aksi heroik mengangkat senjata, tetapi yang paling penting adalah upaya-upaya kolektif untuk  membangun kehidupan masyarakat yang damai, rukun, adil, tenteram, dan sejahtera bersama.

Tentu saja pemuda memiliki peran penting dan sentral dalam mewujudkan perdamaian. Dalam sejarah, terekam jelas heroisme pertempuran 10 November 1945 di Surabaya sebagai penjelmaan karakter gerakan pemuda Indonesia yang gagah berani dan pantang menyerah. Di tangan para pemuda, perlawanan terhadap penjajahan begitu dahsyat dan tercatat oleh sejarah sebagai kontribusi besar pemuda bagi kemerdekaan Indonesia. Perjuangan mereka tidak hanya untuk mengusir penjajah semata, walakin juga demi terciptanya kedamaian di negerinya sendiri.

Baca juga Pentingnya Ibroh Terorisme

Perjuangan para pahlawan tersebut selaras dengan intisari ajaran Islam yang menganjurkan umatnya agar memerjuangkan dan mewujudkan perdamaian. Karena hanya melalui perdamaian manusia sebagai makhluk Allah bisa hidup dan membangun peradaban. Bahkan dalam salah satu ayat Al-Qur’an disebutkan bahwa Allah Swt mengutus Nabi Muhammad Saw sebagai rahmat bagi semesta alam (wamā arsalnāka illā rahmatan lil’ālamīn). Itu artinya, manusia membutuhkan kedamaian dalam hidupnya, bukan permusuhan, kekerasan, konflik, apalagi tindakan terorisme.

Pada hakikatnya, perdamaian adalah tujuan luhur agama Islam dan setiap umat manusia. Sayangnya, tujuan luhur itu masih acapkali dinodai oleh tindakan kekerasan yang terus terjadi dengan korban yang begitu besar jumlahnya. Dalam kasus terorisme di Indonesia misalnya, ada ratusan korban meninggal dunia dan ribuan lainnya mengalami luka-luka sampai dengan cacat seumur hidup. Mereka yang selamat atau keluarga yang ditinggalnya mesti menanggung beban yang berlapis-lapis.

Baca juga Belajar Zuhud dari Penyintas Bom

Selain kesedihan yang teramat mendalam, para korban harus menanggung beban fisik, psikis, dan ekonomi. Sebagian korban menjadi disabilitas seumur hidup, anak-anak mereka menjadi yatim piatu, para pemuda kehilangan mimpi dan masa depannya, dan perempuan mesti menjadi single parent serta tulang punggung bagi keluarganya. Sementara para korban lain harus kehilangan pekerjaannya. Karena luka fisik dan keterbatasan-keterbatasan itu tak mungkin mengembalikan kemampuannya.

Tentu kekerasan atas nama apa pun, termasuk terorisme telah menjadi kejahatan terburuk yang mengisi jejak peradaban umat manusia. Ini adalah kenyataan yang paradoks, karena agama mengajarkan nilai-nilai luhur, tetapi banyak pelaku ekstremisme kekerasan justru berdalih sebagai perintah dari agama.

Baca juga Menggelorakan Ketangguhan

Meski demikian, tidak sedikit kemudian di antara pelaku kekerasan itu memilih insaf dan mengakui kesalahan-kesalahannya. Selain faktor-faktor tertentu, salah satu faktor yang mendorong keinsafan itu adalah sikap kepahlawanan korban yang mampu menyadarkan mereka akan kesesatan paham kekerasan.

Sebagian dari pelaku terorisme memilih insaf setelah melihat langsung penderitaan-penderitaan para korbannya. Mereka tak hanya mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada para korban, akan tetapi juga bertekad untuk mewujudkan perdamaian bagi masyarakat luas. Salah seorang mantan pelaku ekstremisme kekerasan, Ali Fauzi, kini turut aktif dalam kampanye-kampanye perdamaian di Indonesia bersama mantan narapidana terorisme lain.

Baca juga Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Ali melihat para korban sebagai pahlawan bagi kehidupannya. Pasalnya, mereka membuka pintu maaf seluas-luasnya atas kesalahan di masa lalunya. Padahal, para korban harus menderita secara ekonomi dan psikis karena ditinggal orang-orang yang dicintainya atau harus menanggung cedera fisik yang tak gampang diobati. Akan tetapi dengan kebesaran hati, para korban mampu menjadi pahlawan bagi pertobatan pelakunya. “Mereka para penyintas terorisme adalah pahlawan-pahlawan saya,” tutur Ali dalam salah satu kegiatan bersama AIDA.

Sebagian kisah kehidupan para korban telah menjadi inspirasi bagi pertobatan pelakunya. Hal ini mengingatkan kita pada momen hari Pahlawan, bahwa setiap kita ingin memiliki jiwa pahlawan yang tidak saja membela dan bertekad memertahankan kemerdekaan bangsanya, akan tetapi juga mampu menciptakan perdamaian, membela kebenaran, dan menegakkan keadilan bagi segenap warga negara. Kita berharap Indonesia menjadi negara yang terus damai, jauh dari konflik dan perpecahan.

Baca juga Asep Wahyudi: Potret Ketangguhan Korban Bom Kuningan 2004

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...