HomeOpiniRefleksi Akhir Tahun Korban,...

Refleksi Akhir Tahun
Korban, Pelaku Terorisme, dan Nurani Kita

Oleh Ahmad Hifni
Mahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Menjelang akhir tahun ini, rasanya kita patut bersyukur. Meskipun segala sesuatunya tidak berjalan dengan baik lantaran wabah Covid-19, namun dalam hidup selalu ada sesuatu yang patut disyukuri. Bayangkan, ketika sebagian orang harus mengalami penderitaan karena terdampak Covid-19, lebih lagi tak sedikit di antara saudara-saudara kita yang meninggal dunia, sebagian dari kita masih diberikan kesehatan dan mampu bertahan sejauh ini.  

Meski demikian, bersyukur bukan berarti tidak peduli terhadap berbagai persoalan. Sepanjang tahun ini, kita menghadapi berbagai ujian untuk membawa Indonesia yang lebih damai. Tidak hanya masalah wabah, tetapi juga ekstremisme kekerasan yang masih terjadi. Masih teringat pada awal tahun ini peristiwa terorisme terjadi di tengah-tengah kesulitan yang ada. Ledakan bom bunuh diri di depan Gereja Katedral, Makassar (28/3/2021) dan penyerangan Mabes Polri (31/3/2021) telah menambah daftar panjang masalah terorisme di Indonesia.

Baca juga Distorsi Kaidah Ulil Amri: Upaya Memahami dan Menyikapi Kepemimpinan secara Utuh

Ironis, karena pada tahun ini aparat juga menangkap lebih dari 100 tersangka teroris yang terafiliasi dengan Jamaah Islamiyah. Belum lagi berbagai ancaman yang bisa saja datang dari jaringan Jamaah Ansharu Daulah ataupun “lone wolf” terorisme. Melihat rangkaian peristiwa dan potensi kekerasan di sepanjang tahun ini, rasanya masih panjang tugas dan tanggung jawab bersama untuk mengeratkan jalinan persaudaraan, kerukunan, perdamaian, persatuan dan solidaritas antarsesama. 

Tak berdosa

Tentu saja setiap kali melihat peristiwa kekerasan, pihak yang paling dirugikan adalah korbannya. Korban (victims) pada umumnya adalah orang-orang yang tidak tahu apa-apa tentang persoalan pelakunya, namun mereka harus menderita dengan bermacam kerugian, termasuk kerugian fisik, psikis atau mental, emosional, ekonomi, sampai masalah substansial terhadap hak-haknya yang paling fundamental. Mereka adalah korban yang tidak berdosa (innocent victims), tetapi mesti menanggung semuanya.

Apalagi persoalan terorisme seringkali dipandang hanya dari sisi pelakunya, seperti motif tindakan dan cara penanggulangannya. Relatif sedikit peristiwa terorisme yang dilihat dari perspektif korbannya. Korban masih hanya sebatas subjek yang seolah tidak penting dalam rangkaian tindakan pemberantasan terorisme, karena fokus dan perhatian masyarakat, media, dan bahkan aparat pemerintah tertuju pada pelakunya. Ketidakseimbangan ini menambah bentuk ketidakadilan berlapis bagi para korban. Mereka difungsikan sebagai sarana pembuktian dan angka-angka semata.

Baca juga Pemerintahan Ideal Menurut Islam

Perhatian pemerintah dan publik terhadap korban yang hanya bersifat sesaat setelah peristiwa terjadi makin menambah ironi itu. Bantuan mengalir di awal-awal kejadian, tetapi setelah kejadian berlalu banyak pihak kemudian lepas tangan. Belum lagi persoalan administrasi untuk mengurus hak-haknya seringkali sangat merepotkan para korban. Padahal, pelindungan dan hak-hak korban mutlak harus dipenuhi sebagai bentuk pertanggungjawaban negara atas ketidakmampuannya dalam melindungi masyarakat dari aksi terorisme.

Akibat peristiwa terorisme itu tidak sedikit para korban yang harus kehilangan fungsi sebagian organ tubuhnya. Mereka kehilangan kaki, rahang, penglihatan, jari, malahan sebagian yang lain baru mengetahui anggota tubuhnya bermasalah setelah beberapa waktu kemudian. Mereka harus menerima tubuhnya menjadi disabilitas. Bagi yang meninggal, keluarga yang ditinggalnya tak kalah menderita, seperti istri korban menjadi single parent dan tulang punggung keluarga, dan anak-anaknya menjadi yatim piatu.

Nurani pelaku

Persoalan lain dalam isu terorisme yang seringkali kita abaikan perihal latar belakang pelakunya. Mungkin sebagian besar di antara kita memandang pelakunya sebagai ‘musuh peradaban’ yang harus dibasmi dan diberantas selama-lamanya. Pandangan semacam itu tidak sepenuhnya salah. Karena para pelaku terorisme selama ini memang menjadi batu sandungan bagi terwujudnya perdamaian di Indonesia. Akan tetapi, dalam konteks kemaslahatan yang lebih besar, penanggulangan terorisme dan upaya pembangunan perdamaian tak mungkin mengabaikan pelakunya.

Para pelaku terorisme sejatinya juga anak bangsa, yang untuk ‘sementara waktu’ atau untuk ‘waktu yang lama’, tidak percaya terhadap Pancasila, kecewa dan frustasi pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dianggap thagut. Celakanya, mereka menemukan ideologi ekstrem dan menyimpang itu dari internet dan media sosial, yang membuat mereka menempuh jalan ‘sesat’ dan salah dalam menafsirkan Al-Qur’an dan hadis. Oleh sebab itu, mereka sejatinya membutuhkan pencerahan dan memerlukan ajaran Islam yang sejuk yang dapat membuka cakrawala keindahan Islam.

Baca juga Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Pada umumnya para pelaku terorisme memang anti-intelektualisme, bervisi sempit, bersumbu pendek, berwatak doktriner-dogmatis, dan berideologi radikal dengan pemahaman yang dangkal. Namun demikian, orang-orang berideologi keras tidak mungkin disadarkan melalui kekuatan koersi dan kooptasi, melainkan oleh daya bujuk dan kelembutan serta kehangatan dari keluarga dan teman-teman dekat mereka sendiri. Mereka membutuhkan lingkungan dan teman baru untuk mengenal tentang perbedaan dan keberagaman.

Hanya dengan cara yang humanis pintu kesadaran itu akan terbuka. Pendekatan yang mengandalkan pada perubahan ideologi semata, tidak mungkin efektif mengatasi persoalan terorisme. Banyak narapidana terorisme yang justru makin ekstrem dan menjadi-jadi setelah keluar dari penjara. Meski telah mendapatkan pendekatan deekstremisasi -atau apa pun istilahnya- selama di Lembaga Pemasyarakatan, namun mereka kembali melakukan teror.

Baca juga Pahlawan Perdamaian

Karena itu, mereka sesungguhnya perlu dibantu untuk melepaskan diri dari jaringan lama atau kelompok lama mereka dengan nurani dan lingkungan baru. Tanpa itu, mereka akan sulit melepaskan diri dari jaringan berbahaya dan ekstrem itu. Dengan cara pandang seperti itu, mereka tidak lagi kita lihat sebagai penjahat atau ‘sampah peradaban’ yang harus dibasmi, akan tetapi layaknya sesama manusia yang memiliki pertimbangan moral dan nurani, sehingga konflik dapat dibingkai kembali dalam cara yang lebih produktif.

Sudah terbukti ketidakhadiran keluarga, masyarakat terdekat, dan pemerintah untuk melepaskan mantan pelaku dari jaringan lama justru membuat mereka kembali ke dalam kelompoknya. Kita perlu mengajak para narapidana terorisme untuk berdialog dan bersosialisasi, tidak hanya dengan para ulama, akademisi dan tokoh-tokoh masyarakat semata, melainkan juga dengan keluarga, teman-teman dan komunitas terdekat.

Baca juga Proses Panjang Meninggalkan Ekstremisme

Pertemuan antara para pelaku dan korban terorisme juga turut menjadi salah satu cara untuk menyentuh hati mereka, sehingga membuat mereka sadar bahwa tindakan mereka telah menyebabkan penderitaan bagi orang lain. Kekerasan akan lebih mudah dihadapi dengan kelembutan dan cinta ketimbang dengan kekerasan dan kebencian itu sendiri. Pendekatan dari perspektif korban, teman dan keluarga dekat, akan membuat narapidana teroris bisa melepaskan diri dari belenggu keputusasaan dan keterkucilan sosial.

Inspirasi damai

Pada akhirnya, dari kedua belah pihak (mantan dan korban) kita harapkan bisa terjalin silaturahmi dan dialog dari hati ke hati. Puncaknya adalah rekonsiliasi (ishlah). Pengalaman AIDA mendampingi beberapa pelaku dan para korban membuktikan itu, bahwa tidak sedikit di antara mereka yang kemudian mampu menjalin spirit persaudaraan dan rekonsiliasi.

Secara logika, cukup mustahil kedua pihak bisa bertemu, apalagi saling meminta dan memberikan maaf. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Dengan proses panjang dan kemauan untuk melihat persoalan dari perspektif kemanusiaan, mereka saling berpegang tangan, bahkan bersama-sama mengampanyekan perdamaian kepada khalayak luas.

Baca juga Pentingnya Ibroh Terorisme

Rasa haru dan bergetar setiap melihat mereka saling berangkulan. Dengan keluasan hati, para korban memilih memaafkan dan bangkit dari semua masalah yang dihadapi. Sementara mantan pelaku memilih hijrah dari jalan kesesatan ke jalan perdamaian. Ketika uluran tangan itu bertemu, antara permintaan dan pemberian maaf, maka yang terjadi adalah dua pihak telah memberi inspirasi perdamaian. Meminta dan memaafkan adalah cara yang paling luhur untuk memulai kedamaian dan mewujudkan suasana harmoni di antara sesama.

Memasuki tahun 2022 ini harapan kita adalah mampu menyerap ibroh dari proses rekonsiliasi korban dan pelaku. Dari nurani mereka telah tercermin makna persaudaraan, persatuan, dan perdamaian yang hakiki. Rekonsiliasi mereka juga mengingatkan kita sebagai manusia, bahwa pada fitrahnya setiap kita membutuhkan ketenangan dan kedamaian untuk hidup bersama.

Baca juga Belajar Zuhud dari Penyintas Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak...

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...