19/10/2023

Sepekan Bersama Eks Napiter

Aliansi indonesia Damai- November 2022 menjadi salah satu bulan yang cukup berkesan dalam hidup saya. Sejak bergabung dengan AIDA pada Agustus 2020, untuk pertama kalinya saya diberikan kesempatan untuk berinteraksi intensif dengan salah seorang eks napi terorisme. Sebelumnya saya hanya menyimak dari kawan-kawan tentang hikayat mantan pelaku terorisme yang sudah bertobat. Pernah sekali bertemu dengan dua orang mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang tergabung dalam Tim Perdamaian AIDA, namun sekadar bersalaman.

Mukhtar Khairi namanya. Dari teman-teman saya diinformasikan bahwa dia merupakan mantan narapidana terorisme yang aktif dalam kampanye-kampanye perdamaian AIDA. Berdasarkan pertimbangan komposisi tim yang terlibat dalam rangkaian safari perdamaian di Payakumbuh, Sumatera Barat, saya ditempatkan sekamar dengan Mukhtar di hotel.

Baca juga Penderitaan Korban Menyayat Batinnya

Sebagai “anak baru” dalam aktivisme pembangunan perdamaian, pikiran saya kala itu masih dipenuhi dengan stigma-stigma. Bahwa teroris itu, bahkan meskipun sudah berstatus mantan, tetaplah sosok berbahaya, harus dihindari, karena kita bisa terpapar ideologi ekstremnya. Tak ayal kecanggungan bahkan ketegangan menyelimuti saya.

Secara perlahan stigma dan perasaan itu luruh seiring kebersamaan kami. Tak ada kesan menyeramkan dalam rona wajah Mukhtar. Sosoknya low profile. Dalam beberapa perbincangan, ia kerap menyelipkan candaan. Hari pertama interaksi kami berjalan mulus meski saya belum mengenal penuh latar belakang dia. Kisah detail perjalanan hidupnya baru saya tahu ketika dia menjadi narasumber di salah satu sekolah yang dikunjungi AIDA.

Baca juga Menuju Kedamaian yang Kafah

Ternyata ia pernah bergabung dengan kelompok ekstrem yang mengkafirkan NKRI dan terlibat dalam pelatihan semimiliter di pegununungan Jalin Jantho, Aceh Besar, pada tahun 2010. Ia mengaku pernah belajar perakitan bom, penggunaan senjata laras panjang maupun pendek, map reading yang bisa digunakan dalam situasi pertempuran, dan keterampilan militer lainnya.

Akibat perbuatannya itu, Mukhtar harus berurusan dengan aparat penegak hukum dan menjalani hukuman penjara di Lapas Cipinang. Bukannya bertobat, di Lapas, paham esktremnya justru kian menebal. Pasalnya ia berguru langsung dengan sejumlah tokoh utama di jaringan ekstremisme, salah satunya Aman Abdurrahman. Mukhtar bahkan berani memvonis kafir kedua orang tuanya lantaran pelbagai alasan.

Baca juga Ketika Ekstremis Mengaku Khilaf (Bag. 1)

Ketika paham ekstremnya memuncak, Mukhtar justru merasakan kegelisahan. Ia merasakan beragam kejanggalan dalam internal kelompoknya. Walhasil ia memberanikan diri untuk melakukan hal-hal yang menjadi pantangan dalam kelompoknya, misalnya membaca buku-buku yang mengkritik pahamnya, mengikuti acara-acara yang diadakan oleh mitra-mitra kerja Lapas, dan mengikuti pengajian di luar kelompoknya.

Pengayaan literasi dan dukungan dari keluarga mendorong Mukhtar untuk memutuskan keluar dari paham dan jaringan ekstremisme kekerasan. Perubahannya semakin kokoh kala Mukhtar dipertemukan langsung dengan korban-korban bom terorisme. Hingga akhirnya Mukhtar bertransformasi menjadi juru kampanye perdamaian yang giat berikhtiar mengajak publik agar tidak terbuai narasi-narasi kelompok ekstremis yang kerap bertameng agama dan iming-iming surga. Ia ingin bangsa ini terbebas dari paham-paham kekerasan yang rawat membuat NKRI terpecah belah.

Baca juga Ketika Ekstremis Mengaku Khilaf (Bagian 2- terakhir)

Saya bisa merasakan getaran-getaran perubahan positif dari dalam diri Mukhtar sepanjang lima hari penuh interaksi kami. Vibrasinya seperti menular ke saya. Ada dorongan yang kuat agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih salih, secara personal maupun sosial. Mukhtar menasehati saya tentang banyak hal, terutama seputar praktik ibadah keseharian dan juga trik membangun mahligai rumah tangga.

Pada titik ini saya teringat sabda Nabi Muhamad Saw, “Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi pendosa terbaik adalah mereka yang bertobat (memperbaiki diri).” Saya juga yakin sepenuhnya bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang bertobat.

Baca juga Saat Napiter “Kehilangan” Anaknya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *