HomePilihan RedaksiSepekan Bersama Eks Napiter

Sepekan Bersama Eks Napiter

Aliansi indonesia Damai- November 2022 menjadi salah satu bulan yang cukup berkesan dalam hidup saya. Sejak bergabung dengan AIDA pada Agustus 2020, untuk pertama kalinya saya diberikan kesempatan untuk berinteraksi intensif dengan salah seorang eks napi terorisme. Sebelumnya saya hanya menyimak dari kawan-kawan tentang hikayat mantan pelaku terorisme yang sudah bertobat. Pernah sekali bertemu dengan dua orang mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang tergabung dalam Tim Perdamaian AIDA, namun sekadar bersalaman.

Mukhtar Khairi namanya. Dari teman-teman saya diinformasikan bahwa dia merupakan mantan narapidana terorisme yang aktif dalam kampanye-kampanye perdamaian AIDA. Berdasarkan pertimbangan komposisi tim yang terlibat dalam rangkaian safari perdamaian di Payakumbuh, Sumatera Barat, saya ditempatkan sekamar dengan Mukhtar di hotel.

Baca juga Penderitaan Korban Menyayat Batinnya

Sebagai “anak baru” dalam aktivisme pembangunan perdamaian, pikiran saya kala itu masih dipenuhi dengan stigma-stigma. Bahwa teroris itu, bahkan meskipun sudah berstatus mantan, tetaplah sosok berbahaya, harus dihindari, karena kita bisa terpapar ideologi ekstremnya. Tak ayal kecanggungan bahkan ketegangan menyelimuti saya.

Secara perlahan stigma dan perasaan itu luruh seiring kebersamaan kami. Tak ada kesan menyeramkan dalam rona wajah Mukhtar. Sosoknya low profile. Dalam beberapa perbincangan, ia kerap menyelipkan candaan. Hari pertama interaksi kami berjalan mulus meski saya belum mengenal penuh latar belakang dia. Kisah detail perjalanan hidupnya baru saya tahu ketika dia menjadi narasumber di salah satu sekolah yang dikunjungi AIDA.

Baca juga Menuju Kedamaian yang Kafah

Ternyata ia pernah bergabung dengan kelompok ekstrem yang mengkafirkan NKRI dan terlibat dalam pelatihan semimiliter di pegununungan Jalin Jantho, Aceh Besar, pada tahun 2010. Ia mengaku pernah belajar perakitan bom, penggunaan senjata laras panjang maupun pendek, map reading yang bisa digunakan dalam situasi pertempuran, dan keterampilan militer lainnya.

Akibat perbuatannya itu, Mukhtar harus berurusan dengan aparat penegak hukum dan menjalani hukuman penjara di Lapas Cipinang. Bukannya bertobat, di Lapas, paham esktremnya justru kian menebal. Pasalnya ia berguru langsung dengan sejumlah tokoh utama di jaringan ekstremisme, salah satunya Aman Abdurrahman. Mukhtar bahkan berani memvonis kafir kedua orang tuanya lantaran pelbagai alasan.

Baca juga Ketika Ekstremis Mengaku Khilaf (Bag. 1)

Ketika paham ekstremnya memuncak, Mukhtar justru merasakan kegelisahan. Ia merasakan beragam kejanggalan dalam internal kelompoknya. Walhasil ia memberanikan diri untuk melakukan hal-hal yang menjadi pantangan dalam kelompoknya, misalnya membaca buku-buku yang mengkritik pahamnya, mengikuti acara-acara yang diadakan oleh mitra-mitra kerja Lapas, dan mengikuti pengajian di luar kelompoknya.

Pengayaan literasi dan dukungan dari keluarga mendorong Mukhtar untuk memutuskan keluar dari paham dan jaringan ekstremisme kekerasan. Perubahannya semakin kokoh kala Mukhtar dipertemukan langsung dengan korban-korban bom terorisme. Hingga akhirnya Mukhtar bertransformasi menjadi juru kampanye perdamaian yang giat berikhtiar mengajak publik agar tidak terbuai narasi-narasi kelompok ekstremis yang kerap bertameng agama dan iming-iming surga. Ia ingin bangsa ini terbebas dari paham-paham kekerasan yang rawat membuat NKRI terpecah belah.

Baca juga Ketika Ekstremis Mengaku Khilaf (Bagian 2- terakhir)

Saya bisa merasakan getaran-getaran perubahan positif dari dalam diri Mukhtar sepanjang lima hari penuh interaksi kami. Vibrasinya seperti menular ke saya. Ada dorongan yang kuat agar saya bisa menjadi pribadi yang lebih salih, secara personal maupun sosial. Mukhtar menasehati saya tentang banyak hal, terutama seputar praktik ibadah keseharian dan juga trik membangun mahligai rumah tangga.

Pada titik ini saya teringat sabda Nabi Muhamad Saw, “Semua orang pasti pernah melakukan kesalahan. Tapi pendosa terbaik adalah mereka yang bertobat (memperbaiki diri).” Saya juga yakin sepenuhnya bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang bertobat.

Baca juga Saat Napiter “Kehilangan” Anaknya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengurai Amarah Meraih Bahagia

Emosi adalah luapan perasaan atau gejolak jiwa yang diekspresikan dalam tingkah...

Seni untuk Perdamaian

Seni adalah ungkapan rasa keindahan, kebahagiaan, maupun kesedihan. Ekspresinya bisa berupa...

Kebersihan Sebagian dari Perdamaian

Dalam kehidupan ini, di mana pun berada pasti kita ingin tempat...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...