HomeBeritaMenyeimbangkan Otak Akademis dan...

Menyeimbangkan Otak Akademis dan Kebijaksanaan

Aliansi Indonesia Damai- “Begitu ada informasi maka otak berproses. Jadi, kalau yang ada itu radikal, maka respons otak itu pasti radikal. Anak-anak yang dididik dengan kesantunan maka ketika tasnya diambil oleh temannya, maka otaknya akan merespons santun. Tapi anak-anak yang dididik dengan radikal oleh orang tuanya begitu tasnya diambil oleh temannya, apa yang dia lakukan, pukul, tarik, rebut. Itu cara kerja otak yang normal.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Nur Wahid, Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Samarinda, Kalimantan Timur, dalam Pengajian “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren (PP) Istiqamah Muhammadiyah, Batu Besaung, Samarinda, beberapa waktu silam.

Baca juga Keluarga Harmonis Kunci Terciptanya Perdamaian

Pengajar Anatomi Fisiologi di salah satu perguruan tinggi di Samarinda itu menjelaskan tentang pentingnya memprogram mindset seseorang agar bisa menyeimbangkan antara otak akademis dan otak kebijaksanaan.  Menurut dia, otak akademis sudah mulai aktif sejak kecil. “Diajari matematika, fisika, sejarah, sudah masuk semua. Bahkan ada anak SD yang sudah hafal 15 juz, bahkan 30 juz. Itu otak kecerdasan, otak akademis namanya,” ujarnya.

Wahid mencontohkan, ketika ada orang secara spontan menolak dimintai duit oleh temannya atau bahkan orang yang tidak dikenal, maka respons itu merupakan hasil dari kerja otak akademis. “Kalau kamu punya 10 ribu, kamu kasihkan 5 ribu, tinggal 5 ribu dong. Begitu otak akademis itu. Dan, itu diperkuat di sekolah-sekolah dengan pelajaran matematika,” katanya.

Baca juga Membentengi Generasi Muda dari Paham Kekerasan

Ia menilai respons tersebut adalah normal, tetapi semestinya harus diimbangi dengan otak kebijaksanaan yang terletak di pre-frontal cortex (PFC) yang terisi dengan norma, aturan, hukum, dan agama.

“Ketika pre–frontal ini mengambil keputusan bijaksana, itu karena ada informasi, hukum, norma, aturan, dan agama di dalam otak itu. Kalau norma, aturan, hukumnya bermasalah, radikal juga, sama, kembali ke otak akademis tadi,” katanya.

Baca juga Dinamika Hubungan Korban dan Mantan Teroris

Karena itu Wahid menegaskan pentingnya memilah informasi yang masuk setiap saat karena memengaruhi proses pemrograman otak. Informasi-informasi itu sangat memengaruhi pembentukan otak akademis dan otak kebijakan dalam diri manusia.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh AIDA bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar di Samarinda sebelumnya. Puluhan santri dan ustaz Ponpes Istiqamah menghadiri kegiatan ini. [MLM-MSY]

Baca juga Dialog Santri dengan Tokoh Agama di Samarinda

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....