HomeBeritaPerdamaian Wajib Diperjuangkan

Perdamaian Wajib Diperjuangkan

Aliansi Indonesia Damai- Perdamaian merupakan sesuatu yang harus diperjuangkan. Butuh komitmen serius dari seluruh umat manusia untuk memerjuangkannya demi mewujudkan kemaslahatan bersama di muka bumi ini.  

Pernyataan tersebut disampaikan Bendi Juantara, Pembina Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Ilmu Pemerintahan Universitas Lampung (Unila) saat memberikan sambutan dalam Diskusi “Mengukuhkan Peran Mahasiswa dalam Membangun Perdamaian” yang digelar AIDA di Bandar Lampung pada November 2023 lalu. Kegiatan ini diikuti oleh 75 mahasiswa Unila.

Baca juga Mahasiswa Unila: “Kisah Korban dan Mantan Pelaku Penuh Wawasan”

Menurut Bendi, perdamaian terkait erat dengan niat dan prinsip manusia sendiri. Apakah ingin menciptakan kebaikan atau sebaliknya malah kerusakan. Jika memang ingin hidup damai, maka seharusnya menjauhkan pikiran kita dari paparan paham-paham kekerasan. 

“Kegiatan ini menjadi penting sebagai bagian dari edukasi kita dalam memperjuangkan kata damai. Khususnya adik-adik sebagai agen yang akan dilepas ke masyarakat,” ucapnya di hadapan para mahasiswa peserta Diskusi.

Baca juga Mahasiswa Duta Perdamaian Bangsa

Dalam kegiatan ini, bertindak sebagai narasumber adalah Rosa Apriliani dan Puput Cahya Dewi, dua orang mahasiswi Unila yang pernah mengikuti kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA di Bandar Lampung beberapa waktu sebelumnya. 

Rosa menjelaskan, dari pengalamannya menyimak langsung testimoni mantan pelaku terorisme, ada cita-cita yang begitu kuat diperjuangkan oleh para pelaku terorisme, yaitu menegakkan kemuliaan agama dengan cara apa pun, termasuk pengeboman. Mereka meyakini kebenaran pahamnya sehingga akan menumpas siapa pun yang dianggap menghalangi idealismenya.

Baca juga “Kita Harus Lebih Kritis dan Tidak Mudah Terpengaruh”

Sedangkan realitasnya, apa yang dilakukan oleh para teroris ini adalah tindak kejahatan yang menyengsarakan umat manusia, sebagaimana yang ia dengar dan lihat langsung dari korban-korban terorisme yang dihadirkan AIDA dalam kegiatan pelatihan yang diikutinya. “Ada perempuan yang kehilangan suaminya dan akhirnya menjadi tulang punggung keluarga, bekerja dari pagi hingga malam,” ujar Rosa.

Sementara Puput menerangkan tentang komitmen perdamaian dari mantan pelaku terorisme yang sudah bertobat dan korbannya. Dari sisi korban, sangat berat memaafkan pihak-pihak yang telah mengakibatkan derita dalam hidupnya. Sebaliknya dari sisi mantan pelaku, bukan hal mudah menyadari kekeliruan dari hal yang selama ini dianggapnya kebenaran mutlak.

Baca juga Mahasiswa UML Belajar Resiliensi dari Kisah Penyintas

Namun, tantangan besar itu bisa diatasi dengan dialog kemanusiaan. Melalui proses tersebut kedua belah pihak bisa saling memahami perspektif masing-masing. “Menurut salah satu mantan teroris yang saya temui, ada satu hal yang membuat hidup mantan tersebut berubah, adalah saat dia bertemu dengan korban. Yang selama ini mereka anggap benar, ternyata salah, ternyata menimbulkan kerugian bagi orang lain,” ujarnya. [F]

Baca juga Salah Cara Membela Saudara

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....