HomeOpiniTimur Tengah Baru

Timur Tengah Baru

Oleh: Hasibullah Satrawi

Pengamat politik Timur Tengah dan dunia Islam

Artikel ini terbit di laman mediaindonesia.com edisi 30 Juli 2025

Hingga menjelang dua tahun sejak serangan yang dilakukan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023 lalu, belum ada tanda-tanda situasi di Timur Tengah akan kembali damai dan stabil. Situasi terbaru justru semakin kritis, yang ditandai dengan terjadinya pelbagai macam pelanggaran perang dan kebarbaran tak berperikemanusiaan yang dilakukan Israel di Gaza. Bahkan Timur Tengah mutakhir berada dalam kerentanan yang sangat rawan, khususnya pascaperang Israel-Iran.

Pada tahap tertentu, perang Israel-Iran yang berlangsung selama 12 hari (13-24 Juni) bisa menjadi salah satu faktor bagi terbentuknya Timur Tengah baru. Secara subjektif, Israel dan Iran sama-sama mengeklaim memenangi perang yang ada. Namun, secara faktual Iran lebih banyak mengalami kerugian fisik (minimal dari jumlah korban meninggal yang mencapai 935 orang). Sebagaimana juga secara faktual, Israel tak mampu menangkis seluruh roket maupun drone dari Iran. Hingga akhirnya banyak roket Iran yang menghancurkan bangunan-bangunan di Israel dengan puluhan orang menjadi korban meninggal (tanpa laporan resmi).

Baca juga ”Golden Period” Perang Israel-Iran

Padahal Israel telah dibekali dengan banyak persenjataan canggih, seperti pesawat tempur, drone, dan yang lainnya. Sebagaimana Israel juga telah ditopang oleh sistem pertahanan udara yang paling canggih di dunia, mulai sistem pertahanan udara buatan Amerika Serikat (AS), Thaad, hingga pertahanan udara yang dibuat sendiri oleh Israel (Iron Dome).

Di sini dapat ditegaskan, perang 12 hari antara Israel dan Iran telah melahirkan fakta baru di Timur Tengah, yakni kekuatan persenjataan Iran yang mampu memorak-porandakan Israel. Seperti efek domino, kenyataan ini bisa melahirkan dampak-dampak lanjutan di Timur Tengah, seperti kerentanan kawasan Timur Tengah terhadap perang besar antara Israel dan Iran kembali, menguatkan kelompok-kelompok perlawanan di kawasan. Hadirnya Iran sebagai pendatang baru di kalangan negara-negara yang bisa membuat persenjataan canggih hingga terbentuknya Timur Tengah baru (sebagaimana telah disampaikan di awal tulisan ini).

Baca juga Gaza dan Kemanusiaan Perang

Ditambah lagi dengan rekonstruksi Gaza baru pascaperang. Gaza pascaperang akan menjadi faktor lain dari terbentuknya Timur Tengah baru dalam skala lokal di Gaza, tapi bisa berdampak dalam konteks regional Timur Tengah. Apakah Gaza ke depan akan tetap dikuasai oleh Hamas? Apakah Gaza ke depan akan diserahkan kepada otoritas Palestina yang mungkin akan disetujui Hamas tapi justru ditolak oleh Israel? Atau Gaza justru akan dicaplok kembali oleh Israel yang akan ditolak oleh semua pihak kecuali AS? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas akan menjadi salah satu bentuk nyata dari Timur Tengah baru.

Damai Terpaksa

Semenjak perang Arab-Israel terakhir (1973), Timur Tengah dipaksa untuk damai dengan Israel (dalam pengertian tidak berperang). Pemaksaan ini dilakukan dalam bentuk mendukung persenjataan Israel secanggih mungkin, mulai dari persenjataan udara, sistem pertahanan, laut hingga darat. Hingga akhirnya Israel menjadi negara superpower di Timur Tengah.

Baca juga Manuver Trump di Timur Tengah

Sedangkan negara-negara lain di kawasan tidak ada yang memiliki kecanggihan persenjataan seperti yang dimiliki Israel. Alih-alih Palestina yang bahkan didesain untuk menjadi negara tanpa senjata (kalaupun menjadi negara merdeka), bahkan negara-negara lain yang masuk di barisan sekutu utama AS di kawasan tidak memiliki senjata canggih seperti yang dimiliki Israel, mulai dari Turki yang sama-sama anggota NATO (dengan AS), Mesir, Yordania, hingga negara-negara Arab Teluk.

Walaupun masyarakat di kawasan ‘panas-membara’ akibat sikap-sikap Israel yang acap semena-mena terhadap rakyat Palestina, negara-negara itu (khususnya kalangan elite) tidak berdaya menghadapi AS dan Israel pada tahap selanjutnya, bahkan walaupun rakyat Gaza sudah dibantai seperti sekarang! Kalaupun ada yang melawan, mereka adalah kelompok milisi kecil yang dikenal dengan istilah poros perlawanan (mihwarul muqawamah).

Baca juga Timur Tengah 2025

Kelompok-kelompok inilah yang selama ini acap memberikan perlawanan secara terbatas terhadap Israel hingga terjadi beberapa perang dan krisis dalam skala terbatas, seperti perang tahun 2006 (Israel-Hizbullah, 2009, 2012, 2014, dan 2021 (Israel-Hamas). Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 adalah serangan paling besar dari kelompok perlawanan ini. Dan perang Israel-Iran selama 12 hari menjadi letusan ‘ibu gunung’ kelompok perlawanan yang bisa menjadi faktor bagi tatanan Timur Tengah baru.

Timur Tengah Baru

Di satu sisi, perang Israel-Iran bisa membawa kawasan Timur Tengah dalam kerentanan baru. Mengingat perang di antara dua negara ini bisa terjadi kapan saja, khususnya kalau Israel ataupun sekutunya menyerang Iran. Namun, di sisi lain, realitas ini bisa mendorong para pihak terkait Timur Tengah untuk mendesain Timur Tengah baru yang bisa melahirkan perdamaian secara lebih permanen, khususnya dengan hal-hal sebagaimana berikut.

Pertama, perdamaian sebagai kebutuhan bersama, bukan paksaan dari pihak mana pun dengan desain persenjataan yang tidak berimbang sebagaimana di atas. Perdamaian sebagai kebutuhan akan melahirkan sikap bersama yang lebih kokoh. Negara-negara di kawasan, contohnya, menerima dan berdampingan dengan Israel bukan karena tidak berdaya atau tidak mungkin untuk melawan negara yang disebutkan namanya terakhir, melainkan karena Israel memiliki hak untuk diperlakukan secara damai dan terhormat. Pun demikian sebaliknya; contoh lain, Israel menerima dan berdampingan dengan negara-negara di kawasan tanpa meremehkan mereka karena negara-negara tersebut juga memiliki hak untuk diperlakukan secara damai dan terhormat.

Baca juga Lompat Lari Arab Saudi

Kedua, kesetaraan dan saling menghormati di antara negara-negara kawasan. Prinsip kesetaraan dan saling menghormati antarnegara akan lebih mudah tercipta manakala negara-negara di kawasan tidak mengidap ketakutan tertentu (seperti ancaman kekuasaan). Dengan prinsip kesetaraan dan saling menghormati, negara-negara di kawasan akan fokus pada pengembangan pembangunan nasional masing-masing dan tidak saling mengganggu.

Ketiga, kemerdekaan Palestina. Harus diakui bersama, kondisi Palestina yang tidak merdeka telah menjadi sumber instabilitas, tak hanya dalam konteks kawasan, tapi juga dalam konteks global. Sebagaimana bangsa-bangsa lain, Palestina berhak dan harus didukung untuk menjadi negara merdeka di semua lini kehidupannya, termasuk dalam mengembangkan pasukan keamanan dan bahkan persenjataan. Hingga tidak ada negara lain yang semena-mena seperti dilakukan Israel selama ini.

Baca juga Menyambut Gencatan Senjata Israel-Hamas

Keempat, solusi dua negara. Palestina yang merdeka tidak boleh mengancam atau mengganggu Israel. Justru Palestina yang merdeka harus bertetangga secara damai dan mengakui keberadaan Israel. Tak hanya Palestina, negara-negara lain di kawasan sejatinya bisa menerima Israel. Inilah cita-cita dari solusi dua negara. Bila semua hal di atas tercipta, Timur Tengah baru tidak hanya menjadi sebuah nama, melainkan menjadi realitas yang berbeda dari situasi Timur Tengah terdahulu. Bila Timur Tengah terdahulu acap menjadi jadi sumber konflik, Timur Tengah baru bisa berubah menjadi kiblat perdamaian. Semoga.

Baca juga Strategi “Dua Tangan” Trump di Timur Tengah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman...

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....