HomePilihan RedaksiEka Laksmi, Ketangguhan Istri...

Eka Laksmi, Ketangguhan Istri Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai – Meskipun sudah 17 tahun berlalu, kenangan pahit tragedi Bom Bali 1 masih terus melekat di benak korbannya. Selalu saja ada yang menyesak tatkala mengingatnya, meski jiwa telah tangguh melewati itu semua. Setidaknya itulah yang dialami Hayati Eka Laksmi, ibu dua putra yang tidak akan pernah bisa melupakan tragedi tersebut. Ledakan yang terjadi pada 12 Oktober 2002, menewaskan lebih dari 200 orang, termasuk mendiang suaminya, Imawan Sarjono. 

Imawan, atau yang akrab dipanggil Iwan, turut menjadi korban terorisme di usia 33 tahun. Takdir membuatnya harus meninggalkan Eka sendiri dengan kedua anaknya yang masih balita. Pada saat kejadian, anak pertama mereka masih berusia 3,5 tahun dan anak kedua baru menginjak usia 2,5 tahun. Eka mengingat betapa sedihnya ditinggal sang suami saat anak-anak mereka masih kecil dan lucu. Terlebih, anak pertama mereka, Alif, selalu diasuh oleh sang suami. 

Eka semakin sedih saat mengenang kalimat terakhir Iwan sebelum berangkat kerja. Ia tidak menyangka bahwa kalimat tersebut akan menjadi kata-kata terakhir suaminya. Saat itu mereka baru sebulan menempati rumah barunya. Sambil duduk di jendela, Iwan mengucap, “Alhamdulillah, Mah, sudah nyaman buat anak-anak, karena biasanya kontrak,” kenang Eka di hadapan siswa-siswi SMA Muhammadiyah Haurgeulis, Indramayu pada kegiatan Dialog Interaktif yang diadakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) pada akhir Agustus 2019 lalu.

Eka menceritakan, pada malam itu Iwan sempat menelepon sang ibu dan menitipkan anak-anaknya. Padahal sang ibu selalu menemani Eka menjaga anak-anaknya ketika Iwan bekerja. “Kan biasanya kalau Nak Iwan masuk malam nenek selalu nginep di sini,” ujar Eka menirukan jawaban sang ibu. 

Baca juga Memompa Ketangguhan Generasi Muda Indramayu

Menurut Eka, sang bunda tidak merasakan adanya firasat apapun. Perasaan tidak enak baru dirasakan oleh ibunya pada tengah malam ketika terdengar jeritan kencang yang memanggil namanya hingga membuat ia terbangun. Pada saat itulah bom meledak. Namun, mereka masih belum mengetahui apapun terkait kejadian tersebut.

Hanya Mampu Menangis

Pagi di keesokan harinya, Eka menanti kedatangan Iwan yang sebelumnya berpamit untuk tugas malam. Biasanya, sang suami pulang pada pukul 7 pagi. Namun, di hari itu bukan Iwan yang menemui melainkan petugas dari penyewaan mobil langganan suaminya. Eka baru menyadari bahwa hal buruk sedang terjadi ketika petugas mengatakan bahwa mobil yang sedang dipinjam Iwan ditemukan di lokasi kejadian bom. 

Tidak percaya, Eka langsung mengambil motornya untuk pergi ke tempat suami bekerja. Meski jaraknya cukup jauh, dia nekat menemui atasan sang suami dan menanyakan keberadaannya. 

Perasaan Eka semakin kacau ketika atasan mengatakan bahwa sejak semalam Iwan belum kembali setelah mengantarkan tamu makan malam. Dengan terburu-buru, dia kembali mengendarai motor menuju hotel tempat tamu tersebut menginap dan memastikan apakah suaminya sedang di sana. Sayangnya, Eka mendapatkan jawaban yang sama dari pihak hotel bahwa tamu yang dimaksud juga belum kembali sejak semalam. 

Baca juga Kisah Tim Perdamaian Menginspirasi Pelajar di Haurgeulis

Mendengar jawaban yang sama, Eka mulai lemas dan tidak sanggup membayangkan apa yang sedang terjadi. Di saat itu pula dia bertemu polisi yang memberikan secercah harapan untuk menemukan suaminya. Eka menceritakan bagaimana polisi tersebut membuatnya bersemangat untuk mencari Iwan, “Ibu jangan panik dulu, jangan resah dulu. Silakan cari di 13 rumah sakit di Denpasar karena memang korban disebar di sana. Siapa tahu, suami ibu sedang membutuhkan ibu saat ini, jangan dulu berpikir yang aneh-aneh.” 

Eka kemudian bergegas menuju semua rumah sakit yang ada di Denpasar. Namun, sang suami tak juga berhasil ditemukan. Sambil terus berharap, dia bergegas ke Rumah Sakit Sanglah yang merupakan rumah sakit terbesar di Denpasar. 

Tiba di rumah sakit Eka menyaksikan kesibukan yang luar biasa. Ambulans datang dan pergi. Petugas medis bergantian mendorong brankar pasien yang baru diturunkan. 

Eka memaksa pihak rumah sakit untuk mengizinkannya masuk ke ruang Intensive Care Unit (ICU). Namun Iwan tidak juga ditemukan. “Lari lagi masuk ke UGD, liat orang yang kesakitan. Ke ruang jenazah, (lihat) diturunkan jenazah banyak dari truk sudah kaya buang sampah saking banyaknya. Itu adalah mayat manusia yang sudah tidak bisa dikenali,” kenangnya.

Baca juga Berhijrah ke Jalan Damai

Tak juga menemukan sang suami, akhirnya Eka memutuskan pulang. Sesampai di rumah  dia hanya mampu menangis. Beban dan kesedihannya makin berat saat anak-anak menanyakan apa penyebabnya dia menangis. 

Titik Terang

Tak tenang, Eka lantas pergi ke lokasi kejadian. Satu kilometer menjelang lokasi ledakan bom, jalan ditutup petugas berwajib. Dari jarak tersebut dia bisa melihat mobil-mobil yang hancur dan hangus habis terbakar. Mengikuti beberapa wartawan, dia lantas naik ke rumah penduduk untuk melihat lokasi kejadian. Dari situlah Eka menyaksikan secara langsung mobil yang digunakan oleh suaminya ikut terbakar. 

Meskipun telah menemukan mobil yang dikemudian suaminya hancur, Eka tetap berusaha menemukan jenazah Iwan. Dia merasa memiliki tanggung jawab untuk mencari bukti tentang suaminya agar bisa ditunjukkan kepada anak-anaknya yang masih kecil. 

Beruntung, Eka akhirnya menemukan sepatu sang suami setelah enam hari melakukan pencarian yang tiada henti. Namun, sepatu tentu masih belum cukup untuk membuat anak-anaknya mengerti.

Di saat yang bersamaan, ibunda Eka pergi ke rumah sakit dengan harapan mendapatkan petunjuk tentang Iwan. Didampingi petugas rumah sakit, sang ibu diperlihatkan jenazah satu per satu hingga membuatnya tidak sanggup dan memutuskan untuk berpasrah seraya membaca Al Fatihah agar diberikan petunjuk.

Baca juga Tiga Kisah Kebangkitan Penyintas

Benar saja, tidak lama setelahnya ibunda Eka memiliki firasat tentang telapak kaki jenazah yang ada di dekatnya. “Dibuka ciri-cirinya, disebut seperti orang Asia, gigi dalam keadaan rapi dan ada yang tersisa pakaian rusak. Nenek (sebutan Eka kepada sang ibu) menjawab, maaf saya tidak mengenali, mungkin istrinya mengenali,” cerita Eka.

Mendengar cerita dari sang ibu, Eka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dengan membawa kain kafan untuk suaminya. Sesampainya di rumah sakit, dia berharap ada potongan pakaian yang dapat dikenalinya karena selalu menyiapkan pakaian untuk Iwan. Ternyata yang ditemukan justru lebih dari itu, Eka mendapati nametag yang membuatnya yakin bahwa jenazah tersebut Iwan. “Semakin dibuka semakin jelas tulisan PT. Persero Angkasa Pura,” kenangnya dengan suara lirih.

Eka segera membawa jenazah suaminya ke rumah dan berusaha menjelaskan kepada anak-anaknya yang menangis tidak terima. Di balik sakit yang luar biasa dirasakan, dia harus menahan tangis dan kesedihan agar terlihat tegar di depan anak-anaknya. 

Eka masih belum percaya bahwa mobil L300 yang berisikan bahan peledak seberat 1 ton meledak begitu dekat dengan mobil suaminya. Dia membayangkan bagaimana Iwan yang sedang melintas untuk kembali ke kantor tanpa tahu apapun ikut menjadi korban. Termasuk membayangkan warga yang berupaya mendorong mobil tersebut ke pinggir jalan karena ditinggal begitu saja dan menyebabkan jalanan menjadi macet. Di saat warga berkerumun itulah bom diledakkan menggunakan remot dari jarak jauh.

Memaafkan demi Masa Depan 

Menjadi orangtua tunggal bagi anak-anak yang masih kecil tentu bukanlah hal mudah bagi Eka. Dia harus menahan di dalam hati segala beban yang dirasakan untuk tampil kuat di depan kedua putranya. Di samping itu, dia masih harus mencari pekerjaan agar anak-anaknya terus berkecukupan. 

Meskipun tidak mudah, Eka bertekad untuk tidak pernah menunjukkan beban yang dihadapi di depan putra-putranya. Meski akibat menyimpan beban sendirian, tidak jarang dia berteriak sambil menangis di jalanan saat mengendarai motor. Bahkan, sempat berteriak saat sedang dalam sebuah pertemuan bersama teman-teman penyintas karena tidak kuasa lagi untuk menahan siksaan batin sejak kepergian suaminya. 

Baca juga Memaafkan untuk Ketenangan Hati

Atas saran teman sesama korban, Eka menjalani konseling untuk mengurangi beban yang dia sandang. Juga agar selalu kuat untuk anak-anak.

“Karena anak-anak ibu bangkit. Kalau ibu rapuh, anak-anak akan rapuh, siapa yang akan merawatnya, yang akan mengurusnya? Kalau ibu kuat, anak-anak ibu pasti akan kuat. Ibu harus menyelamatkan masa depan anak-anak. Imanlah yang membangkitkan batin kami. Semua adalah atas kehendak Allah, tidak mungkin Allah memberikan ujian di luar batas kemampuan,” pesannya kepada para siswa yang menyimak kisahnya dengan haru.

Eka kemudian menceritakan bagaimana anak pertamanya sempat memiliki dendam kepada teroris dan bercita-cita untuk menjadi polisi agar bisa membalas apa yang terjadi kepada bapaknya. Sang anak juga pernah memberontak karena merasa tidak ada yang peduli dan sayang kepadanya. 

Eka merasakan bahwa anak-anaknya pun turut mengalami trauma yang terpendam karena tidak tahu harus bercerita kemana. Trauma tersebut dikhawatirkan akan memperparah rasa dendam yang dimiliki sang anak jika tidak diiringi dengan afirmasi positif darinya. karena itulah, Eka pun berusaha untuk memaafkan pelaku meskipun dengan proses yang tidak instan. Dia merasa harus memaafkan terlebih dahulu sebelum membuat anaknya melupakan dendam kepada para teroris. 

Eka cukup kaget ketika anak salah satu pelaku terorisme datang ke rumah dan meminta maaf kepada anak pertamanya. Dia sempat khawatir dendam yang dimiliki keduanya akan menimbulkan pertikaian besar. Namun, apa yang terjadi justru sebaliknya. Mereka saling berjabat tangan dan memaafkan.

“Kami memaafkan apa yang mereka lakukan supaya jangan melakukannya lagi dan menyuarakan perdamaian, tidak membalasnya dengan kekerasan. Bukan hal yang mudah untuk memaafkan. Bagaimana mungkin kita tidak punya rasa marah dan dendam? Tapi kita tidak melakukan hal seperti itu, karena kami merasakan cukup kami (saja) merasakan betapa sakitnya itu, jangan orang lain,” tutur Eka.

Tak hanya itu, menurut Eka memberikan maaf agar hidup bisa berjalan dan menatap masa depan secara lebih baik. “Tidak perlu ada dendam karena dendam itu tidak akan mengembalikan yang mati jadi hidup kembali. Cukuplah kami yang jadi korban, jangan ada korban yang lain. Kejadian itu tidak akan pernah bisa ibu lupakan, tapi memaafkan lebih baik. Karena dendam tidak akan pernah mengembalikan sesuatu,” pungkasnya. [WTR]

Baca juga Mewujudkan Harapan Mendiang Suami

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...