HomeBeritaPeristiwa Iman untuk Pemaafan

Peristiwa Iman untuk Pemaafan

Sejumlah acara refleksi peringatan 2 tahun Bom Surabaya digelar secara daring pada Rabu (13/05) malam. Satu di antaranya adalah Misa Online yang digelar Gereja Santa Maria Tak Bercela (GSMTB), salah satu gereja yang menjadi target serangan dua tahun silam.

Misa ini dipimpin oleh Romo Agustinus Eka Winarno. Romo Eka, demikian sapaan akrabnya, menyatakan bahwa peristiwa bom yang terjadi dua tahun lalu bukanlah tragedi, melainkan peristiwa iman yang semestinya membuat manusia menjadi lebih tangguh, mampu membebaskan diri dari rasa benci, dan membuka persaudaraan.

Baca juga Refleksi 2 Tahun ‘Peristiwa Iman’ 13 Mei 2018

“Peristiwa ini sudah seharusnya meneguhkan iman kita sehingga mampu menghasilkan buah yang nyata, yaitu pengampunan, ungkapan syukur, dan ikut terlibat menciptakan perdamaian, bukan hanya di gereja tapi untuk semua orang,” ujar Eka dalam kegiatan yang ditayangkan secara langsung di kanal Youtube ‘Santa Maria Tak Bercela Paroki’.

Eka menuturkan, dalam perjalanannya mendampingi para korban, tidak satu pun dari mereka yang menyimpan dendam. Karena itu ia mengajak masyarakat untuk belajar dari para korban dalam hal mengampuni pelaku pengeboman yang mencederai mereka secara fisik maupun psikis.

Baca juga Dua Tahun Bom Surabaya: Ikhlas Obat dari Segala Obat

“Awalnya ada pertanyaan, peristiwa iman seperti apakah yang terjadi sehingga menyebabkan ada darah dan air mata? Namun seiring berjalannya waktu ada rekonsiliasi besar yang terjadi. Ada penyadaran yang didapatkan dari pengampunan yang mampu dilakukan oleh para korban,” ujarnya.

Pernyataan Romo Eka menuai dukungan dari Romo Didik. Dalam kegiatan dialog daring  “Refleksi 2 tahun Peristiwa 2 Tahun Bom Surabaya” yang diselenggarakan oleh idenera.com, Didik menyatakan bahwa masyarakat harus meneladani pengampunan para korban.

Baca juga Memuliakan Rumah Ibadah

Dalam istilah pastor Paroki Hati Kudus Yesus (HKY) Surabaya ini, para korban berhasil menjadi subjek otonom yang berhasil membebaskan dirinya dari rasa bersalah dan berpikiran untuk menyalahkan keadaan.

“Para korban mampu menjadi subjek otonom dengan mengambil pilihan terbaik untuk hidupnya dengan cara memaafkan. Yang saya tahu, beberapa korban tidak membutuhkan waktu yang lama untuk mampu memaafkan pelaku,” tutur Didik.

Baca juga Self-Healing untuk Penyembuhan Luka Batin

Salah satu korban yang dimaksud oleh Romo Didik adalah Desmonda Paramartha. Dalam kesempatan ini, ia membagikan kisah pemaafannya terhadap pelaku. Gadis 21 tahun ini mengaku telah mengubur rasa dendam dan kebencian.

“Memang belajar pengampunan itu sulit dilakukan tapi bagaimana pun pelaku ini tidak tahu apa yang mereka perbuat,” ujarnya. [FS & LADW]

Baca juga Membangun Ketahanan Keluarga: Belajar dari Bom Surabaya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...