HomeInspirasiAspirasi DamaiSelf-Healing untuk Penyembuhan Luka...

Self-Healing untuk Penyembuhan Luka Batin

Setiap orang pasti pernah merasakan luka, entah fisik maupun batin. Luka fisik berupa penyakit yang menyerang organ tubuh manusia, bisa dilihat atau diraba. Sementara luka batin menyerang perasaan manusia. Berbeda dengan luka fisik, ia tidak terlihat dan tidak mengeluarkan darah, tetapi penderitaannya tidak kalah hebat dari cedera fisik.

Tidak seperti luka fisik yang bisa berangsur membaik berkat bantuan obat-obatan, luka batin kerap berlangsung lama, hingga terkadang menimbulkan depresi dan kehilangan gairah hidup. Penyebabnya bisa bermacam-macam, mulai dari pengalaman pernah disakiti sampai kehilangan orang yang dicintai.

Baca juga Membangun Ketahanan Keluarga: Belajar dari Bom Surabaya

Luka batin bisa disembuhkan dengan komitmen yang kuat dari penderita dan dukungan dari orang-orang sekitarnya. Sekarang banyak layanan konseling atau konsultasi untuk membantu penyembuhan penderita luka batin. Selain menggunakan bantuan pihak ketiga, penderita luka batin juga bisa menyembuhkan luka itu sendiri. Prosesnya dikenal dengan istilah self-healing.

self-healing adalah proses sederhana dalam membantu menyembuhkan luka batin dengan melibatkan kekuatan diri secara penuh untuk beranjak dan bangkit dari penderitaan, tanpa bantuan siapa pun dan media apa pun. Karena pada dasarnya, setiap manusia memiliki kemampuan terapeutik (kekuatan menyembuhkan) bagi dirinya sendiri (pijarpsikologi.org).

Baca juga Fathu Makkah dan Spirit Perdamaian

Ketika terjerumus ke dalam suasana yang tidak menyenangkan, kita dihadapkan pada dua opsi; apakah tetap membiarkan kesedihan meliputi diri atau mengubah kesedihan itu menjadi kebangkitan. Tidak banyak yang sanggup memilih opsi kedua. Padahal, kita punya peran yang besar untuk mengubah suasana hati sendiri menjadi damai, dengan cara mengenali kesedihan yang bersemayam dalam kalbu. Ini dilakukan bukan untuk mengungkit-ungkit masalah yang membebani, melainkan untuk lebih memahami diri.

Setelah berhasil mengenali dan memahami, kita bisa mulai menerima faktor-faktor yang membuat kita bersedih, biasanya berkaitan dengan peristiwa yang menimpa kita. Penerimaan terhadap realita kehidupan akan mendorong kita untuk bisa berdamai dengan keadaan, serta memaafkan apa yang telah melukai hati.

Baca juga Belajar Perdamaian dari Islandia

Ada banyak metode yang bisa digunakan agar proses self-healing ini berhasil. Di antaranya adalah menikmati waktu “Me Time”. Jika masalah yang menghimpit terlalu berat, kita bisa menepi sejenak dari keramaian dalam rangka mencari ketenangan. Ini penting mengingat suasana yang tenang akan menyegarkan kembali suasana hati dan pikiran. Di samping itu, dengan meluangkan waktu untuk diri sendiri, kita bisa lebih banyak merenung dan merasakan hidup lebih bermakna.

Metode berikutnya yaitu berdialog dengan diri sendiri. Tanyakan kepada diri sendiri, mau sampai kapan akan larut dalam kesedihan? Apa yang kita dapatkan dengan terus menerus bersedih? Bisakah kesedihan tersebut mengembalikan hal-hal yang telah hilang di masa lalu? Selanjutnya bisa dikembangkan dengan pertanyaan lainnya. Alih-alih meratapi apa yang telah hilang, ajaklah diri untuk lebih memilih mensyukuri apa yang dimiliki.

Baca juga Tangguh Melawan COVID-19

Meratapi masa lalu hanya akan membuat kita jalan di tempat. Peratapan tidak memberikan manfaat apa pun bagi kehidupan kini maupun akan datang. Sudah sepantasnya kita menempatkan masa lalu pada tempatnya, karena ia tidak bisa diubah secuil pun. Masa lalu adalah bahan refleksi atau pembelajaran agar kita lebih memaknai kehidupan ke depan.

Ketika berhasil melakukan self-healing, maka kita akan bertransformasi menjadi pribadi yang tangguh. Pribadi yang menganggap masalah sebagai bagian dari permainan nasib yang sudah digariskan dan tidak dapat ditolak. Pribadi yang siap untuk kembali beraktivitas dan menjalani hidup setelah beberapa saat terpuruk. Pribadi yang kuat dan tegar, yang apabila kembali ditimpa masalah di kemudian hari, tidak menyurutkan langkahnya untuk tetap melangkah maju.

Baca juga Solidaritas di Tengah Pandemi: Belajar dari Korban Terorisme

Dari sekian banyak kisah inspiratif mengenai proses self-healing, salah satunya kita dapat belajar dari kisah para korban terorisme. Dampak dari aksi terorisme tidak hanya membekas pada fisik korban, melainkan juga psikis dan mental mereka. Adapun bagi korban tak langsung, mereka dirundung oleh kesedihan karena orang terkasih –suami, istri, ayah, ibu, anak, saudara– menjadi korban meninggal akibat serangan mematikan itu.

Seiring berjalannya waktu, para korban memilih berdamai dengan keadaan. Mereka ikhlas menerima peristiwa yang telah terjadi dan fokus menatap ke masa depan. Mereka bahkan memaafkan pelaku terorisme yang telah merenggut kebahagiaan mereka. Itu semua dilakukan setelah para korban banyak merenung dan berdialog dengan diri sendiri.

Para korban menyadari bahwa memendam luka batin terlalu lama tidak akan mengembalikan apa pun. Sebaliknya, mereka justru merasa semakin sakit. Oleh karenanya, para korban memutuskan untuk melepaskan emosi negatif yang bersemayam dalam hati, meskipun tentu membutuhkan waktu panjang. Efeknya luka batin yang mendera lambat laun sembuh.

Baca juga Membudayakan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...