HomeOpiniMembangun Damai Berbasis Kearifan...

Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. III): Mendalami Konsep Tepa Salira

Oleh: Linda Astri Dwi Wulandari
Alumni Magister Kajian Tradisi Lisan Universitas Indonesia

“Kabeh manungso kudu nduweni tepo seliro marang wong liyo”

Begitulah nasehat yang kerap dilontarkan oleh guru saya di Sekolah Dasar belasan tahun yang lalu. Nasehat itu kerap muncul di antara omelan kemarahannya ketika saya dan beberapa teman terlibat perselisihan. Secara sederhana makna dari nasehat berbahasa Jawa itu adalah semua manusia harus memiliki tepa selira kepada orang lain.

Bagi orang Sunda atau Jawa, kata tepa salira atau tepo seliro, pasti tidak asing untuk didengar. Dalam budaya Jawa, tepa selira dapat diartikan sebagai sikap individu untuk mengontrol pribadinya berdasarkan kesadaran diri. Hal tersebut kemudian diwujudkan dalam sikap saling menjaga dan saling menghormati siapa pun dalam pergaulan. Orang Jawa menanamkan jiwa tepa selira-nya untuk bisa menempatkan diri pada lingkungan apa pun.

Baca juga Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. I): Kesadaran tentang Keberagaman

Frasa tepa selira yang menjadi falsafah hidup orang Jawa tak sekadar mengajarkan tentang cara menghargai. Lebih dari itu, sikap tersebut dimaknai dengan cara berusaha ikut merasakan apa yang dirasakan orang lain. Falsafah ini kemudian menjadi dasar hidup orang jawa untuk terus memupuk empati dalam bermasyarakat. Tepa selira mengandung makna tenggang rasa, peka terhadap perasaan orang lain, dan kemampuan mengambil sikap dalam menghormati hak-hak sesamanya.

Ajaran tepa selira yang telah dipupuk sejak kecil oleh masyarakat Jawa kepada anak-anaknya rupanya menarik banyak pihak untuk mempelajarinya lebih dalam. Pada tahun 2015, dalam acara Asia Pasific Regional Workshop and Juniors Asia Pasific Regional Conference, tepa selira dijadikan tema khusus yang dikampanyekan sebagai upaya Indonesia membangun perdamaian dunia.

Baca juga Membangun Damai Berbasis Kearifan Lokal (Bag. II): Satu Tungku Tiga Batu Papua

Dalam acara yang dihadiri sekitar 185 peserta dari 15 negara Asia Pasifik di Lembang Bandung tersebut, Indonesia melalui delegasinya berusaha untuk menyuarakan nilai kearifan lokal tepa selira sebagai salah satu nilai luhur bangsa Indonesia dalam menghormati perbedaan dan menyelesaikan suatu permasalahan. Bukan hanya itu, dilansir dari Kompas  (19/01/2015), mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin pun pernah mengatakan bahwa ajaran tepa selira sudah selayaknya bisa ditawarkan pada dunia untuk berkontribusi dalam perdamaian.

Saya yakin, jika kita mampu menjiwai keluhuran sikap tepa selira dan menerapkannya dalam pergaulan sosial baik dunia nyata maupun jagat maya, harmoni bangsa akan terus terjaga. Falsafah ini sangat layak dikampanyekan dalam konteks kebebasan berekspresi dan berpendapat seperti sekarang. Sudah selayaknya, orang tetap bersikap tepa selira meskipun itu di media sosial. Jika demikian, kita akan sangat percaya diri mengenalkan falsafah ini kepada dunia internasional.

Baca juga Agen Sosialisasi Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...