HomeBeritaPesan Ketangguhan SMAN 1...

Pesan Ketangguhan SMAN 1 Gemuh Kendal

Aliansi Indonesia Damai- Keterbatasan fisik tak selayaknya diratapi sepanjang waktu. Sejumlah korban terorisme harus mengalami disabilitas lantaran terkena bom. Namun hal itu tidak menyurutkan semangat mereka untuk bangkit dan menyongsong kehidupan baru di masa depan.

Salah seorang pelajar SMAN 1 Gemuh, Kabupaten Kendal mengatakan, kisah ketangguhan korban terorisme layak menjadi inspirasi bagi generasi muda. Meski harus menjadi penyandang disabilitas akibat tragedi kemanusiaan itu, para korban mampu membuktikan bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berbagi kebaikan kepada orang lain.

Baca juga Meneladani Kisah Korban Bom Bali

“Yang bisa kita tunjukkan kepada orang lain bukanlah fisik, tapi apa (manfaat: red) yang bisa kita lakukan kepada orang lain, meskipun kita tidak memiliki fisik yang sempurna,” ujarnya dalam kegiatan dialog interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA secara virtual, beberapa waktu lalu.

Seorang pelajar lain mengaku bersyukur atas kondisinya setelah mendengar kisah pilu kehidupan korban. Di tengah terpaan penderitaan, korban masih bersemangat untuk melanjutkan hidup. Ia mengetahui ternyata begitu banyak orang yang memiliki keterbatasan justru masih semangat melanjutkan hidup. “Kita harus semangat melanjutkan hidup karena setiap orang pasti memiliki kelebihan masing-masing yang tertanam dalam dirinya,” ungkapnya.

Baca juga Semangat Damai dalam Perbedaan

Selain pembelajaran dari kisah korban, para pelajar juga mengambil pelajaran dari kisah hidup mantan pelaku terorisme yang telah insaf. Salah seorang pelajar mengatakan bahwa paham-paham yang membenarkan kekerasan sangat berbahaya. Namun demikian, setiap kita mempunyai tanggung jawab untuk menyelamatkan saudara-saudara kita yang terpapar paham kekerasan.

“Paham ekstrem itu harus kita lawan. Namun orang yang pernah terpapar harus kita jaga dan kita rawat, agar bisa kembali berbaur dengan masyarakat,” ucapnya.

Di sesi akhir, Ketua Pengurus AIDA, Hasibullah Satrawi meminta pelajar agar menjauhi kelompok yang membenarkan aksi-aksi kekerasan. “Siapapun dan dari kelompok mana pun, kalau sudah mengajak pada kekerasan, tidak hanya kekerasan bom, tetapi juga kekerasan bullying, tidak perlu diikuti. Karena itu menjadi jalan untuk menjadi pelaku kekerasan,” ucapnya berpesan.

Baca juga Motivasi Kebangkitan dari Korban Bom

Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan Susi Afitriani alias Pipit, korban Bom Kampung Melayu 2017, dan Choirul Ikhwan alias Irul, mantan narapidana terorisme. Pipit membagikan kisahnya saat terkena ledakan bom di kawasan Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur pada 24 Mei 2017 usai pulang kuliah. Akibat peristiwa itu, pangkal lengan kanannya patah. Serangkaian upaya medis tak memulihkan kondisi tangannya seperti sediakala. Kendati kondisi fisiknya terbatas, Pipit tetap berjuang meneruskan kuliahnya yang sempat terhenti selama masa penyembuhan, demi menggapai cita-cita menjadi sarjana.

Sementara Irul menuturkan sepak terjangnya selama bergabung dalam kelompok ekstremisme kekerasan. Karena perbuatannya, Irul harus menjalani hukuman penjara selama beberapa tahun. Ia telah menginsafi perbuatannya dan kini berkomitmen untuk menyuarakan perdamaian kepada khalayak luas. [AH]

Baca juga Siswa Tasikmalaya Belajar Menjadi Generasi Tangguh

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...