HomePilihan RedaksiBangkit Karena Rasa Tanggung...

Bangkit Karena Rasa Tanggung Jawab (Bagian I)

Aliansi Indonesia Damai- Awal Oktober 2005 menjadi waktu yang tak mungkin terlupakan oleh I Ketut Suartana. Hari itu, tepat sehari sebelum upacara perayaan 100 hari kelahiran anak keduanya, ia terkena musibah yang lantas membuat kondisi fisiknya tak pulih seperti sedia kala. Tempatnya bekerja, Cafe Menega di Pantai Jimbaran Bali, diterpa teror peledakan bom. Peristiwa yang kemudian populer dengan Bom Bali 2005.

Awalnya, Ketut berniat mengambil cuti kerja karena harus menyiapkan upacara nelubulanin buah hatinya. Namun ia berubah pikiran. Tanggal 1 adalah hari penerimaan gaji. Ketut memutuskan untuk tetap masuk kerja supaya uang gajinya bisa menambah biaya acara selamatan itu.

Baca juga Bersahabat dengan Mantan Ekstremis

Hari itu Ketut agak terlambat tiba di tempat kerjanya lantaran sebelumnya harus menyiapkan upacara nelubulanin. Masih jelas di ingatan Ketut, malam itu sekitar pukul 7, ia melayani tamu asal Perancis. Anak dari tamu tersebut memesan minuman ringan. Ketut bergegas mengambilkannya. Namun baru tiga langkah berjalan, terdengar suara keras, suasana berubah gelap dan porak poranda.

“Tubuh saya terhempas. Saya terjatuh di pasir. Suasana begitu gelap. Lilin-lilin semua hancur. Meja banyak yang hancur. Banyak teriakan yang saya dengar,” ujar Ketut dalam salah satu kegiatan AIDA.

Baca juga 18 Tahun Bom Bali: Cinta untuk Mereka yang Tiada (Bag. I)

Ketut berusaha merangkak untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba ledakan kedua terjadi. Ledakan bersumber dari Nyoman Café yang berada sekitar 25 meter dari Menega Café. Ketakutan Ketut bertambah. Ia berusaha meminta pertolongan.

“Saya memanggil teman saya. Dia memapah saya ke Klinik Jimbaran dengan motor. Darah begitu banyak di perut bagian kanan dan lengan bagian kanan. Kaki kiri saya sudah tidak terasa. Saya raba telinga kanan ada cairan. Cairan yang keluar itu tenyata darah,” ucap Ketut mengenang momentum kritis yang dialaminya.

Baca juga 18 Tahun Bom Bali: Cinta untuk Mereka yang Tiada (Bag. II-Terakhir)

Di klinik, Ketut belum mendapatkan penanganan berarti. Tiga jam kemudian, ia dipindahkan ke Rumah Sakit Sanglah Denpasar. Saat itu pihak keluarga belum ada yang tahu karena jaringan telepon di dekat lokasi kejadian terputus. Ketika tiba di RS Sanglah, suasana ramai. Korban terus berdatangan. “Setelah dua jam di rumah sakit, saya belum mendapatkan perawatan apa-apa. Kaki saya, saya ikat pakai sobekan sarung,” ujarnya.

Ketika pagi tiba, Ketut mulai bertanya-tanya tentang apa yang menimpanya, sekaligus merutuki nasib. Seharusnya ia sedang sibuk mengurus nelubulanin anaknya, bukan terbaring di rumah sakit.

“Sakit badan saya, bisa saya tahan, tapi tugas dan kewajiban saya sebagai seorang bapak dari anak saya terbengkalai. Saya bersyukur saya punya istri yang begitu kuat dan tabah memberi support. Akhirnya acara itu berjalan dengan lancar walaupun tanpa kehadiran saya,” ujar Ketut dengan mata berkaca-kaca. (bersambung)

Baca juga Penyintas Bom Bali: Lawan Kekerasan dengan Menebar Kebaikan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...