HomeOpiniFenomena Post-Truth dan Tantangan...

Fenomena Post-Truth dan Tantangan Perdamaian

Oleh: Faruq Arjuna Hendroy,
Sarjana Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah

Kemajuan teknologi informasi yang dibarengi kebebasan sipil membuat media sosial semakin digandrungi. Dewasa ini hampir semua lapisan kelompok masyarakat memiliki akun media sosial. Keperluannya beragam, dari urusan pekerjaan, komunikasi, atau sekadar sarana hiburan.

Di tengah segudang manfaatnya, media sosial tak lepas dari catatan buruk. Kebebasan di media sosial terkadang susah untuk dikendalikan. Siapa pun bisa mengekspresikan pikirannya dalam pelbagai bentuk dan menaruh komentar apa saja, tak peduli baik atau buruk. Minimnya daya saring media sosial berdampak pada meruncingnya konflik vertikal maupun horizontal. Acapkali kasus yang bermula di media sosial berlanjut ke dunia nyata.

Baca juga Mensyukuri Nikmat di Tengah Pandemi

Dalam beberapa tahun ini kita menyaksikan buktinya. Isu-isu yang menjadi sumbu konflik tak jauh dari faktor perbedaan agama, suku, ideologi, hingga pandangan politik. Baik kasusnya berlanjut ke dunia nyata atau tidak, polarisasi adalah tontonan sehari-hari di media sosial. Setiap kelompok membela mati-matian apa yang mereka anggap benar dan keras menolak apa yang dianggap salah. Objektivitas seakan mati dalam diri pengguna media sosial yang biasa disebut warganet ini.

Karakter unik warganet ini oleh Kamus Oxford disebut dengan istilah post-truth. Dilansir dari tirto.id, Kamus Oxford menjadikan post-truth sebagai bahasa tahunan pada 2016 silam untuk merefleksikan peristiwa Referendum Brexit (keluarnya Inggris dari Uni Eropa) dan Pemilihan Presiden Amerika Serikat 2016. Dalam dua peristiwa itu, masyarakat terlibat dalam perdebatan yang lebih mengedepankan emosi.

Baca juga Ketangguhan Melawan Ekstremisme

Post-truth didefinisikan sebagai fenomena di mana fakta-fakta objektif menjadi kurang penting dalam membentuk opini publik dibandingkan dorongan emosi dan kepercayaan seseorang. Fenomena tersebut telah menjalar ke seluruh dunia termasuk Indonesia. Dampaknya, post-truth seketika menjadi fenomena baru dalam diskursus ilmu sosial dan politik.

Akibat mengenyampingkan objektivitas, post-truth menumbuhsuburkan hoaks. Ada pihak-pihak yang memproduksi informasi palsu dengan tujuan menggiring opini masyarakat. Informasi dibumbui dengan narasi-narasi provokatif yang mengundang emosi. Masyarakat post-truth yang memang mengedepankan emosi dengan mudah terperangkap dalam jebakan itu. Hoaks dianggap sebagai kebenaran hanya karena perasaan mereka bilang itu benar.

Baca juga Sumpah Pemuda: Menyongsong Indonesia Emas

Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia turut melanggengkan penyebaran hoaks. Seringkali kita menemukan di antara teman atau keluarga kita yang gemar membagikan informasi tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Mereka teperdaya oleh judul informasi yang bombastis sehingga alpa mengecek validitasnya. Tak jarang kondisi ini juga ditemui di kalangan akademisi yang seharusnya memiliki kualitas literasi tinggi.

Jika tidak diantisipasi, fenomena post-truth dapat merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara. Masyarakat post-truth cenderung bertumpu pada kebohongan dalam bertindak. Semakin banyak kebohongan yang dibuat, semakin dahsyat silang pendapat yang terjadi. Dikarenakan tiap orang hanya mempercayai kebohongannya sendiri-sendiri. Kondisi inilah yang membuat bangsa rawan terbelah.

Baca juga Strategi Lunak Penanganan Terorisme (Bagian I)

Akan selalu ada pihak-pihak yang menciptakan kebohongan demi kebohongan untuk kepentingannya. Penangkalnya sekarang berada di tangan pemerintah maupun masyarakat sendiri. Pemerintah lewat kebijakannya melakukan konter-narasi terhadap kebohongan yang tersebar dan menjatuhkan hukuman bagi produsen dan penyebar kebohongan. 

Sedangkan masyarakat perlu menguatkan budaya literasi. Sebagaimana disampaikan oleh Duta Baca Indonesia, Najwa Shihab, memperkuat literasi tak hanya sekadar rajin membaca, akan tetapi mengkritisi bahan bacaan itu, mengecek sumber informasi untuk memeriksa kevalidannya, sebelum memutuskan akan membagikannya atau tidak. Tidak susah sebenarnya berpikir kritis. Tergantung kita mau melakukannya atau tidak.

Bagaimanapun fenomena post-truth ini telah menunjukkan, pada titik tertentu ada kalanya manusia lebih mengedepankan perasaan ketimbang akal sehat. Ini gejala yang perlu kita khawatirkan. Kita tidak bisa menghilangkan perasaan, karena itu adalah pemberian dari Tuhan. Namun kita bisa mengendalikannya dengan tetap menggunakan akal sehat. Keseimbangan antara perasaan dan akal sehat adalah penawar bagi fenomena post-truth.

Baca juga Strategi Lunak Penanganan Terorisme (Bagian II-terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...