HomeOpiniMengimunisasi Remaja

Mengimunisasi Remaja

oleh Rohmi Ummu Fithriyah
Guru SMP Citra Alam Ciganjur Jakarta Selatan

Ada tiga virus besar yang saat ini menjangkiti generasi remaja Indonesia: penyalahgunaan narkoba; pergaulan bebas; dan ekstremisme kekerasan. Tanpa mengabaikan problem-problem lainnya, ketiganya sangat mengancam perkembangan remaja lantaran daya rusaknya yang besar. Dampak terjauh adalah kehancuran masa depan bangsa, pasalnya remaja adalah pengurus negeri ini kelak.

Tentang penyalahgunaan narkoba, Badan Narkotika Nasional (BNN) menyatakan, pada tahun 2018, penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar (dari 13 ibukota provinsi di Indonesia) mencapai angka 2,29 juta orang. Salah satu kelompok masyarakat yang rawan terpapar adalah rentang usia 15-35 tahun atau generasi milenial (https://bnn.go.id/penggunaan-narkotika-kalangan-remaja-meningkat).

Soal pergaulan, dalam skala nasional, Komnas Perlindungan Anak pernah melakukan survei yang melibatkan 4500 remaja sebagai responden. Hasilnya bikin miris. 93,7% responden mengaku pernah berciuman hingga petting, sebanyak 32% responden berusia 14-18 tahun mengaku pernah berhubungan seks, serta 21,2% responden putri pernah melakukan aborsi  (Jawa Pos, 8 Oktober 2012).

Baca juga Guru dan Pendidikan Karakter

Terkait ekstremisme kekerasan, ada sejumlah aksi terorisme yang melibatkan remaja. Pada tahun 2011, enam anggota kelompok ightiyalat divonis bersalah oleh pengadilan karena terlibat serangkaian percobaan teror bom di Klaten Jawa Tengah. Semuanya masih berumur belasan tahun. Sedangkan pada 2012, ada 7 orang dalam kategori usia anak yang ditangkap polisi karena kasus terorisme. Fakta yang paling mencengangkan adalah rangkaian aksi Bom Surabaya Mei 2018 yang melibatkan beberapa anak sebagai pelaku aktif.

Pergaulan bebas banyak memicu problem kesehatan reproduksi bagi para remaja. Biasanya akibat kehamilan di usia dini yang tak dikehendaki, memicu terjadinya tindakan aborsi ilegal yang membahayakan nyawa. Di samping itu para remaja juga rentan untuk terjerumus dalam aktivitas-aktivitas negatif lain, termasuk kriminalitas dan penggunaan obat-obat terlarang.

Adapun bahaya kecanduan narkoba tak perlu dibicarakan lagi. Seorang yang kecanduan rela melakukan apa pun untuk mendapatkannya, termasuk aksi kriminal. Kasus kematian remaja akibat overdosis narkoba tak terhitung lagi jumlahnya di Indonesia.

Baca juga Bersyukur Pantang Mengeluh

Sementara benih ekstremisme kekerasan pada remaja juga terekspresikan dalam bentuk tawuran yang terkadang menyebabkan hilangnya nyawa sendiri dan orang lain. Sedangkan dalam bentuk teror dilakukan oleh sejumlah pelaku bom bunuh diri berusia remaja, seperti serangan di Hotel JW Marriot Jakarta Juli 2009 dan Bom Surabaya Mei 2018, yang menyebabkan beberapa nyawa melayang dan puluhan lainnya cedera. Kerugian material tak terhingga, kedamaian negeri terkoyak virus.

Remaja adalah aset negara yang sangat berharga. Mereka pengelola negara masa depan. Jika masa remaja dipenuhi dengan “penyakit-penyakit” tersebut, kelak masa dewasanya hanya disibukkan oleh usaha penyembuhan diri sendiri.

Problem ini adalah tanggung jawab semua pihak, bukan hanya sektor pendidikan formal. Tak perlu ada kurikulum tambahan yang justru membuat remaja rentan stres akibat tumpukan pelajaran, hingga malah mencari pelepasan kepenatan melalui aksi-aksi negatif.

Baca juga Fenomena Post-Truth dan Tantangan Perdamaian

Dari sisi mata pelajaran, sejak dulu kita sudah diberi pendidikan moral dan agama. Namun generasi remaja memang tak memiliki daya kebal yang tangguh atas penularan virus-virus amoral yang disebarkan oleh beragam media, terutama internet.

Di sini pola asuh orang tua dan regulasi negara jauh lebih penting. Maka yang diperlukan sesungguhnya adalah kurikulum “kekebalan (imunitas)”. Inilah yang saya maksud mengimunisasi remaja. Dengan daya imunitas yang terpatri, seberapa pun kuatnya arus penularan virus amoral, karakter asli remaja tak tergoyahkan.

Semua virus di atas tak bisa didekati secara hitam putih, dengan kaca mata dosa dan neraka. Penyalahgunaan narkoba dan pergaulan bebas tidak bisa dicegah dengan sekadar ancaman normatif bahwa semua itu haram, dosa besar, dan akan diganjar dengan siksa neraka. Saat masih duduk di bangku sekolah dulu, saya kerap “diancam” dengan pernyataan, “Jika kalian mengonsumsi minuman keras, maka kelak di akhirat tidak akan bisa menikmati lezatnya khamr surga. Jika kalian berzina, maka di akhirat tak akan ditemani oleh bidadari-bidadari surga.” Melarang ini dan itu tanpa rasionalisasi yang kuat, justru membuat remaja kian penasaran.

Baca juga Mensyukuri Nikmat di Tengah Pandemi

Bukan berarti mengecilkan peran pendidikan agama dan moral, namun pendekatan psikologis dan sosiologis juga perlu diprioritaskan. Dampak-dampak merusak bagi diri sendiri, keluarga, dan masyarakat atas tiga virus di atas, itulah yang semestinya diurai dan diterangkan. Dalam hal hubungan lawan jenis misalnya, guru atau orang tua bisa menunjukkan fakta-fakta kerusakan psikis dan sosial yang diakibatkan pergaulan bebas.

Sementara dalam ekstremisme kekerasan, tindakan nekat mereka banyak dipengaruhi oleh ideologi keagamaan. Inilah yang membedakan virus ini. Dalam hal pergaulan bebas dan penyalahgunaan narkoba, pelaku masih menyadari dalam relung batinnya bahwa tindakannya adalah salah dan dosa, walaupun secuil.

Sementara dalam ekstremisme kekerasan berbasis agama, pelaku justru yakin bahwa tindakannya yang mencederai, bahkan menghilangkan nyawa, ialah bagian dari perintah agama. Dalam konteks ini, sangat penting untuk menumbuhkan nalar kritis agar remaja tak mudah dirasuki ekstremisme yang sejatinya menyempal dari arus utama ajaran Islam.

Baca juga Ketangguhan Melawan Ekstremisme

Bagi saya, adalah tanggung jawab negara meningkatkan kualitas guru melalui bermacam cara, salah satunya peningkatan kesejahteraan agar mereka bisa mencurahkan segenap energinya untuk mendidik generasi bangsa.

Sementara di luar sekolah, cinta kasih tanpa batas dari orang tua adalah keniscayaan. Komunikasi yang dialogis, bukan instruktif apalagi menghakimi, antara orang tua dengan anak, membuat anak tidak perlu mencari tempat curhat atas segala masalahnya, termasuk persoalan seksual yang selama ini dianggap tabu. Orang tua wajib berusaha menjadi konselor bagi buah hatinya, bukan hakim yang mengadili atau bos yang menyuruh dan memberi bayaran.

Baca juga Sumpah Pemuda: Menyongsong Indonesia Emas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...