HomeBeritaMengenang Tragedi Bom JW...

Mengenang Tragedi Bom JW Marriott 2003

Agustus bagi kebanyakan orang adalah bulan kemerdekaan, tetapi bagi para korban terorisme Agustus juga dikenang sebagai bulan terjadinya peristiwa tragis peledakan bom di Hotel JW Marriott Jakarta.
Masih jelas dalam ingatan para korban tentang apa yang terjadi di depan lobi Hotel JW Marriott, 5 Agustus 2003. Dentuman keras dari ledakan bom mobil disertai bola api besar yang menyambar terjadi begitu saja, menyasar ratusan orang. Peristiwa 14 tahun lalu itu menewaskan 12 orang dan mencederai 150 lainnya.
Mereka yang menjadi korban tak pernah menyangka ketenangan ibu kota siang itu bakal diganggu oleh aksi teror dari kelompok yang tak bertanggung jawab. Mereka tak mengira dampak aksi teror itu akan terbawa seumur hidup.
Salah satu korban luka peristiwa tersebut ialah Didik Hariyono, pemuda asal Kediri yang kala itu tengah berjalan di depan Hotel JW Marriott. Dia bermaksud untuk kembali ke kantornya di Menara Rajawali, berdekatan dengan Hotel JW Marriott, usai makan siang di sebuah warung. Saat bom meledak dia merasakan tubuhnya seketika terbakar dan terlempar cukup jauh.  Ledakan bom tak hanya membakar tubuhnya tapi juga menghancurkan kendaraan dan bangunan hotel.
Setelah jatuh ke tanah Didik mengguling-gulingkan badannya untuk memadamkan api. Selain luka bakar, dia juga mengalami patah tulang di beberapa bagian. Luka bakar mencapai 70 persen membuatnya koma selama dua pekan di rumah sakit. Perawatan lanjutan mengharuskannya dirawat secara intensif di ruang isolasi Rumah Sakit Pusat Pertamina Jakarta selama hampir setahun.
“Tubuh saya dibalut seperti mumi. Yang nggak terbakar hanya punggung. Tubuh saya sempat mengalami massa otot menyusut akibat setahun hanya terbaring di kasur,” ujarnya.
Akibat masa otot yang menyusut, Didik sempat mengalami kelumpuhan. Dia beruntung selamat dari kelumpuhan setelah fisioterapi yang dia lakukan sukses mengembalikan fungsi-fungsi otot. Dia mengaku bersyukur dapat pulih melakukan gerakan-gerakan secara normal walaupun bekas luka bakar di tubuhnya sangat nampak dan terasa gatal bila cuaca panas.
Apa yang dirasakan Didik saat ini adalah dampak yang terus melekat dari aksi teror 14 tahun lalu. Didik hanya seorang dari sekian banyak korban yang menderita luka parah akibat aksi-aksi teror di Indonesia. Ratusan korban lainnya juga mengalami penderitaan yang kurang lebih sama. Sebagian mereka bahkan kehilangan suami, istri, orang tua, anak atau orang terkasih. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...