HomeInspirasiAspirasi DamaiFase-Fase Hijrah; Belajar dari...

Fase-Fase Hijrah; Belajar dari Mantan Ekstremis

Manusia tak pernah luput dari kesalahan. Tatkala waktu bergulir, semua hal bisa berubah. Tapi tidak dengan kesalahan. Ia akan tetap berada di masa lalu, tercatat sebagai riwayat manusia dalam mengarungi hidup.

Kita memaklumi bahwa kesalahan adalah bagian tak terpisahkan dari hidup. Tetapi bukan berarti seenaknya melakukan kesalahan terus-menerus. Ini tentu bahaya. Apabila dibiarkan, tidak hanya berdampak negatif pada diri sendiri, melainkan merugikan orang lain.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Spirit Kedamaian

Banyak di antara kita yang tidak mau hijrah dari kesalahan. Bagi sebagian yang lain, jangankan hijrah, mengakui kesalahannya saja tidak. Padahal kesalahan hendaknya dijadikan sebagai pembelajaran agar bisa menjadi pribadi yang lebih baik. Untuk itulah, kesadaran pentingnya memperbaiki diri harus terus dipupuk.

Salah satu contoh terbaik hijrah adalah pertobatan mantan pelaku ekstremisme kekerasan. Setelah mendengar kisah-kisah mereka, penulis mencermati empat fase hijrah yang dapat dijadikan sebagai teladan bagi siapa pun yang pernah melakukan kesalahan.

Baca juga Mencintai Diri Kunci Kebangkitan

Fase hijrah pertama yaitu kontemplasi. Pada tahap ini, si pelaku kesalahan melakukan perenungan terhadap tindak tanduk yang dia lakukan. Kontemplasi diperlukan agar pelaku kesalahan menyadari konsekuensi perbuatannya. Tentu fase ini harus disertai dengan pemicu, karena hampir mustahil pelaku mau berkontemplasi tanpa ada dorongan kuat melakukannya.

Kontemplasi bisa dilakukan dengan banyak cara. Jika berkaca pada kisah mantan pelaku, kontemplasi diwujudkan dalam bentuk dialog. Mereka berbincang dengan orang yang memiliki pemahaman keagamaan yang berbeda hingga berdialog dengan korban terorisme. Hasil dialog tersebut kemudian menyadarkan mereka bahwa perbuatan masa lalunya adalah kesalahan.

Baca juga Memilih Guru Damai

Fase berikutnya mengakui kesalahan. Pelaku yang sudah menyadari bahwa dia berbuat salah harus berani mengakui kesalahan itu. Pengakuan akan kesalahan adalah sikap ksatria karena menjadi bukti bahwa dia mau menaklukkan egonya dan tunduk di hadapan kebenaran.

Mantan pelaku ekstremisme kekerasan banyak mengajarkan soal ini. Setelah mengetahui bahwa ajaran yang dianut selama ini justru banyak melukai sesama muslim, mereka tak malu mengoreksi doktrin tersebut. Mereka secara gentle mengakui cacat pikir dalam doktrin kekerasan, meskipun dulu meyakininya sebagai kebenaran.

Baca juga Menjaga Lingkaran Terdekat

Fase berikutnya yaitu meminta maaf. Pada prinsipnya, fase ini mendorong pelaku kesalahan untuk bertanggung jawab atas hal-hal buruk yang telah dia lakukan. Sebab kesalahan yang dilakukannya justru melukai orang lain. Selain untuk menebus kesalahan, minta maaf juga berfungsi sebagai perekat hubungan yang renggang.

Kisah rekonsiliasi mantan pelaku dan korban terorisme adalah role model terbaik dari fase ini. Dengan penuh penyesalan, mantan pelaku meminta maaf atas perbuatannya yang telah menyakiti korban. Soal apakah korban mau memaafkan atau tidak, kembali pada masing-masing pribadi korban. Yang jelas, dengan meminta maaf, mantan pelaku telah menunjukkan itikad baiknya. Sebagian korban menyambut positif permohonan maaf mantan pelaku.

Baca juga Pertobatan untuk Perdamaian

Jika kesalahan berkaitan dengan Sang Pencipta, maka hendaklah meminta ampun. Allah SWT Mahapengasih dan Mahapenyayang selalu membuka pintu tobat bagi hamba-hamba-Nya.

Adapun fase terakhir adalah berjanji tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Fase ini membutuhkan komitmen kuat. Dengan tidak mengulangi kesalahan, juga menunjukkan seberapa tulus menjalani tiga fase sebelumnya; seberapa tulus kita merenung, mengakui kesalahan, dan meminta maaf. Pada fase ini diharapkan mantan pelaku kesalahan telah bertransformasi seutuhnya menjadi pelaku kebaikan.

Hampir semua mantan pelaku ekstremisme kekerasan yang penulis temui memiliki komitmen kuat (insya Allah) untuk tidak kembali ke kelompok kekerasan. Mereka bahkan terlibat dalam kampanye perdamaian agar tidak ada orang lain yang terjerumus pada kesalahan yang pernah mereka lakukan. Mereka benar-benar bertransformasi menjadi pribadi baru yang hangat dan mencerahkan.

Baca juga Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....