HomeInspirasiAspirasi DamaiMencintai Diri Kunci Kebangkitan

Mencintai Diri Kunci Kebangkitan

“Saya harus belajar memaafkan. Bukan karena orang lain, tetapi karena diri saya. Saya memaafkan diri saya, untuk ikhlas, sadar, dan bangkit” (Nanda Olivia Daniel, korban Bom Kuningan 2004).

Nanda Olivia mengalami cedera cukup parah saat peristiwa ledakan bom di depan kantor Kedubes Australia di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Jari-jari tangannya nyaris putus. Meski sembuh, kini tak lagi berfungsi normal. Ia sempat sangat marah terhadap pelaku pengeboman, mengingat derita fisik yang menderanya dan empati atas perasaan orang-orang yang ditinggalkan oleh sosok terdekat untuk selamanya.

Baca juga Memilih Guru Damai

Dari penuturannya di pelbagai kegiatan bersama AIDA, Nanda mengisahkan bagaimana perjuangannya untuk memaafkan mantan pelaku aksi terorisme yang tidak mudah. Ia bergulat dengan beragam perasaan yang berkecamuk dalam dirinya. Hingga akhirnya ia mantap untuk berdamai dengan kenyataan dan memaafkan pelaku demi kebaikannya.

Alasan memaafkan untuk kebaikan diri sendiri sering penulis dengarkan dari banyak penyintas korban kekerasan. Para korban menganggap terus menyimpan dendam dan rasa benci seakan membawa beban dalam diri. Hal tersebut membuat mereka berat melangkah dan mudah menaruh curiga kepada orang lain. Sebaliknya, memaafkan membuat mereka dapat menjalani kehidupan tanpa beban dan bangkit dari keterpurukan untuk masa depan yang lebih baik.

Baca juga Menjaga Lingkaran Terdekat

Dalam perspektif psikologi, orang yang memaafkan untuk kebaikan dirinya bisa dikaitkan dengan teori self-love. Teori ini tidak sesempit dimaknai sebagai ekspresi hasrat narsistik, tetapi sepenggal dari cara menghargai dan mencintai diri sendiri.

Self-love tidak terbatas dari kecintaan seseorang akan dirinya secara fisik, seperti pakaian terbaik, merawat diri, atau lebih mementingkan diri sendiri ketimbang orang lain. Namun juga berkaitan pada upaya untuk menampilkan yang terbaik dari sisi mentalnya, seperti menyadari diri sendiri, menghargai diri sendiri, percaya diri, dan peduli pada diri sendiri.

Baca juga Pertobatan untuk Perdamaian

Self-love tidak semudah membalikkan telapak tangan, tetapi membutuhkan proses. Butuh perenungan dan kesadaran yang utuh untuk memahami diri. Kita membutuhkan waktu untuk mengetahui apa yang kita butuhkan. Semakin baik mengenali diri sendiri dengan menentukan apa yang kita butuhkan pada tubuh dan mental, maka semakin bisa kita mencintai diri.

Seseorang yang mampu mengaplikasikan self-love akan senantiasa terus berkembang dan memperbaiki diri dari waktu ke waktu. Ia akan tumbuh dengan kemampuan ‘berdamai’ atas segala hal baik dan buruk yang datang dalam kehidupannya.

Baca juga Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Nanda dan korban kekerasan lainnya terus tumbuh menerima dan memahami ‘dunia’ yang pernah memberinya ketidakadilan. Dengan kemampuan self-love yang baik mereka mampu ikhlas, sadar, dan bangkit dari keterpurukan. Mereka pun tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan, tetapi dengan pemaafan dan cinta kepada sesama.

Baca juga Keutamaan Memaafkan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....