HomeBeritaTantangan Pemenuhan Hak Korban...

Tantangan Pemenuhan Hak Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Akhir Juni lalu, AIDA menyelenggarakan Diskusi Kelompok Terfokus secara Daring “Mengawal Implementasi Pemenuhan Hak-Hak Korban Terorisme.” Kegiatan dihadiri di antaranya oleh perwakilan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) dan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), wadah korban terorisme di Indonesia.

Nanda Olivia Daniel, Sekretaris YPI, mengungkapkan sejumlah kerumitan yang sempat dialami oleh rekan-rekannya dalam proses permohonan pemenuhan hak-hak korban terorisme kepada lembaga yang berwenang.

Baca juga Layanan Kesehatan Jangka Panjang Bagi Penyintas

Salah satu kendala yang dihadapi oleh para korban terorisme masa lalu adalah ketiadaan dokumen yang membuktikan bahwa dirinya menjadi korban, seperti rekam medis dan semacamnya. Salah seorang korban Bom Kuningan yang dulu berstatus mahasiswa STIE Perbanas hanya mengandalkan data Kedutaan Besar Australia dan situs STIE Perbanas yang mencantumkan namanya sebagai korban.

Namun ketika pihak berwenang mengecek ke Rumah Sakit MMC, di mana ia menjalani perawatan usai terkena ledakan, ada kesalahan penulisan nama. “Situasi pascabom penuh dengan kepanikan. Petugas hanya menulis apa yang mereka dengar tanpa mengoreksi nama sebenarnya. Kemudian ini menjadi masalah,” ujar Nanda.

Baca juga Aksesibilitas Data Kompensasi Korban Terorisme

Dari kasus tersebut, Nanda berharap agar jejak digital dapat dijadikan bahan untuk mengonfirmasi status korban. 

Temuan lain yang diutarakannya adalah korban yang “buku hijaunya” tertahan di LPSK. Dokumen ini diterbitkan oleh LPSK bagi korban tindak pidana yang berhak mendapatkan treatment pengobatan secara gratis. Saat melakukan wawancara dengan LPSK, yang bersangkutan diminta untuk membawa buku hijau. Namun baik korban maupun LPSK lupa untuk meminta atau mengembalikannya sehingga kedaluwarsa. Walhasil saat korban membutuhkan, buku hijau tidak bisa dipakai lagi karena durasi layanannya sudah habis.

“Dan buku tersebut disetujui pada saat masa pandemi, sehingga banyak korban yang takut ke rumah sakit dan membuat buku tersebut tidak pernah digunakan,” ucapnya.

Baca juga Memastikan Kehadiran Negara bagi Korban

Selain mengungkapkan temuannya, Nanda menyoroti soal minimnya sosialisasi dari pihak-pihak berwenang terkait bantuan psikososial sehingga banyak penyintas baru mengetahui setelah masa tenggat pengajuan berakhir.

Menanggapi hal tersebut, Rianto Wicaksono, Tenaga Ahli LPSK, mengatakan bahwa pihaknya bekerja sama dengan dokter forensik dalam mengasesmen korban terorisme masa lalu. Jika dokumen rekam medis tidak bisa ditemukan, bukti-bukti digital juga bisa digunakan dalam penetapan status korban. Terkait kasus yang diceritakan Nanda, saat ini permohonan dari korban yang bersangkutan sudah masuk ke LPSK.

Baca juga Tantangan Baru Perlindungan Korban Terorisme

“LPSK bekerja sama dengan dokter forensik untuk menentukan derajat luka korban. Tim forensik yang akan menilai dan menentukan jumlah kompensasi yang akan diberikan,” ucapnya.

Sementara terkait layanan medis, “buku hijau” adalah alat kontrol layanan dan bukan penentu penghentian layanan. Ia mengakui bahwa beberapa waktu lalu  ada sedikit hambatan terkait dengan perpanjangan masa bantuan pengobatan.

Sedangkan terkait dengan bantuan psikososial, LPSK bekerjasama dengan lembaga lain yang memang kuotanya terbatas. “Bukan tidak transparan, akan tetapi lebih menyesuaikan dengan kriteria dari pihak penyelenggara,” ucapnya. [FL]

Baca juga Menyegerakan Kompensasi Korban Masa Lalu

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....