HomeOpiniAncaman Ekstremis-Radikalis di Era...

Ancaman Ekstremis-Radikalis di Era Disrupsi

Oleh Ali Mursyid Azisi
Peneliti Muda Studi Agama-Agama; Anggota Centre for Religious and Islamic Studies (CRIS) Foundation UIN Sunan Ampel

Memasuki era serbamodern saat ini, fenomena-fenomena kemasyarakatan dan keagamaan mengalami keanekaragaman perkembangan. Ini didasari adanya kesadaran penganut agama untuk beradaptasi dengan keniscayaan zaman yang semakin berkembang untuk mencapai sebuah visi-misi tertentu.

Terlebih hal yang bersifat keagamaan yang selalu mendapat berbagai respons dan menjadi konsumsi publik bagi orang beragama. Seperti halnya golongan Islam ekstrem yang kini beralih pada ranah baru dalam menggencarkan dakwahnya yang oleh pakar layaknya Khaled Abou El-Fadl dianggap keras, intoleran, eksklusif.

Sebelum melangkah jauh, penting kiranya memahami Istilah ekstrem terlebih dahulu sebagai pijakan pemahaman awal. Ekstrem memiliki arti paling keras, paling ujung, paling tinggi, sangat teguh, fanatik. Dengan begitu, ekstremitas merupakan suatu hal (perbuatan/tindakan) melebihi batas. Dalam terminologi Islam dikenal dengan istilah ghuluw.

Baca juga Menghentikan Kebiasaan Buruk

Dari tindakan berlebihan terhadap suatu perkara (ghuluw) menjadi salah satu model beragama yang menjadi titik awal seseorang melenceng dari keberagamaannya. Jika dilihat dalam sejarahnya, sikap ekstrem acapkali terjadi dalam aspek pengamalan keagamaan. Secara garis besar, sikap tersebut dibagi menjadi dua bagian.

Selayang pandang makna ekstrem

Pertama, ekstrem dalam segi akidah. Dalam Islam sikap demikian juga dianut oleh kelompok Syiah Rafidhah yang menganggap kedudukan Ali bin Abi Thalib lebih tinggi dari para sahabat dan Rasulullah SAW. Bahkan, menganggap Ali sebagai manifestasi dari Allah.

Bahkan, sikap ghuluw lainnya dapat kita temui semacam menganggap dirinya yang paling benar dan dengan gampang mengafirkan orang yang tidak sependapat dengannya, bahkan ia berupaya untuk mendapat pengakuan masyarakat terhadap ideologinya.

Kedua, yaitu ghuluw dalam segi amalan agama/praktik-praktik ibadah. Dapat dicontohkan seperti halnya ibadah sepanjang hari tanpa henti, puasa terus-menerus, atau pandangan kaum-kaum tertentu yang hingga mewajibkan perkara yang sunah. Terkadang mereka melabeli dirinya sebagai pemegang ketaatan dan kebenaran, bahkan meremahkan siapa saja yang tidak sepaham sekalipun para ulama.

Baca juga Manfaat Pemaafan

Yusuf Qardhawi membagi tipologi golongan ekstrem sebagai berikut. Pertama, fanatik tentang suatu pandangan. Sikap demikian jika dipelihara, akan berimbas pada kehancuran dan perpecahan, bahkan dalam ranah internal umat Islam sendiri karena beranggapan pendapatnya paling benar, siapa pun yang berbeda dilabeli salah, sesat, dan patut ditinggalkan.

Kedua, ada kecenderungan mempersulit. Dalam segi ibadah, secara pribadi boleh menggunakan jalan keringanan, tetapi beberapa sikap ghuluw cenderung mempertimbangkan harus sempurna sesuai dengan apa yang dilakukannya.

Ketiga, adanya prasangka buruk terhadap sesama. Munculnya sikap demikian dipicu dari ada dan tumbuhnya anggapan bahwa seolah-olah dialah yang paling benar dan menempatkan keburukan pada orang lain. Terkadang merasa paling beriman.

Baca juga Membangun Religiositas Humanis, Menuju Altruisme

Keempat, acapkali takfiri. Tindakan ataupun sikap ekstrem yang paling bahaya adalah ketika menyentuh pada ranah yang mudah mengafirkan orang lain yang tidak sepemahaman dengannya.

Internet sebagai media doktrin baru

Dalam konteks di Indonesia dewasa ini, Islam ekstrem diwakili oleh HTI, Mujahidin Indonesia Timur, Salafi-Wahabi, Gema Pembebasan, dan beberapa sekte lainnya. Hingga memasuki era modern saat ini, ditandai dengan semakin majunya teknologi, menjadi ladang basah kelompok Islam ekstrem menebar doktrin seputar kajian keislaman yang kini merambah di media sosial sebagai konsumsi publik.

Nasrullah mengatakan bahwa media sosial (medsos) merupakan medium di internet yang dapat membentuk ikatan sosial, menjadikan penggunanya berinteraksi atau pun mempresentasikan diri, berkomunikasi, berbagi, dan bekerja sama. Meski demikian, sangat perlu ada kewaspadaan karena ranah agama merupakan hal yang sensitif dan sandaran utama manusia beragama.

Baca juga Hati Nurani dan Jiwa Pemaaf

Sebuah tantangan besar yang sangat perlu diwaspadai oleh generasi muslim milenial adalah perlu ada kewaspadaan dalam memilah dan memilih sumber rujukan/materi seputar keislaman yang hendak dipelajari.

Mengapa demikian? Pasalnya, meleburnya seluruh informasi dalam ruang media baru kali ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter dan pemahaman seputar Islam, terlebih bagi mereka yang sama sekali belum pernah mengenyam pendidikan agama secara intens di pesantren. Doktrin-doktrin keagamaan yang disandarkan pada teks-teks dalil sebagai penguat visi-misi kekerasan/ujaran kebencian/perusakan yang mengatasnamakan agama pun acap kali mudah diterima oleh kalangan generasi muda dalam memahami agama secara praktis.

Dampak dan ancaman bagi pertahanan negara

Terbukti keberhasilan doktrin dari medsos terjadi seperti halnya di Makassar dan Surabaya, seperti yang dikatakan oleh Brigjen (Pol) Ibnu Suhendra (Intelijen Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri). Dalam sebuah wawancara terbuka pada 28 Mei 2021, ia mengatakan, fakta lapangan bahwa terdapat satu keluarga dengan sukarela menjadi aktor bom di dua tempat tersebut yang belajar dari internet tentang panduan perakitan bom dengan jaminan mati syahid.

Sinyal merah lainnya dari pengaruh dakwah medsos Islam ekstrem adalah tidak menutup kemungkinan jika generasi emas muslim di era milenial secara lambat laun jika tidak cermat memilih sumber kajian akan terjerumus kepada pemahaman yang sempit dalam menafsirkan nilai-nilai Islam. Demikian menjadi sumbu tindakan serta pemahaman ekstrem yang nanti akan merugikan diri sendiri, masyarakat sekitar, dan negara.

Baca juga Kembali ke Fitrah Perdamaian

Selain penyebaran interpretasi seputar kajian Islam yang sempit dengan belajar hanya sebatas leterlek, tidak diimbangi kontekstualis, menjadikan pemahaman hanya jalan di tempat, tidak berkembang, sempit, bahkan tidak bisa menyesuaikan dengan keadaan era yang menjadi tantangan bersama saat ini.

Oleh karena itu, sangat penting bagi generasi muda Muslim untuk mengetahui tipologi atau ciri-ciri sumber kajian yang mengarah kepada tindakan dan pemahaman ekstrem. Jika menjumpai tulisan, gambar, cuplikan video yang mengarah pada tindakan kekerasan atas nama agama, teror, penolakan terhadap sistem demokrasi dengan menyandarkan pada dalil-dalil Islam, doktrin mempersempit pemahaman agama, terlalu fanatik, dan minim sisi toleransi terhadap realitas sosial bahwa Indonesia memiliki kekayaan agama, suku, ras, budaya, maka hendaknya dihindari untuk dijadikan sumber rujukan pembelajaran.

Baca juga Hikmah Puasa bagi Perdamaian

Akun-akun yang patut dihindari untuk menjaga keutuhan Pancasila sebagai cerminan jatidiri bangsa dan agama, di antaranya, website almanhaj.or.id, jihad-news.com, waislama.net (ISIS), daulahislamiyah.com, al-mutaqabbal.net, dan akun-akun Instagram yang bernuansa senada. Dapat pula kita temui alamat-alamat kajian Islam yang patut diwaspadai juga merambah ke Twitter, Youtube, Facebook.

Sebuah pekerjaan rumah (PR) besar bagi bangsa dan generasi muslim milenial dalam merawat ideologi bangsa serta masa depan Islam di Indonesia. Sebagai pemegang kebijakan, pemerintah dan pakar agama berpaham moderat bekerja sama melakukan sosialisasi terhadap generasi muda tentang pemahaman dakwah Islam ekstrem di era modern, dan penting sekali menanamkan buih-buih sikap dan pemahaman moderat dalam beragama, baik di lingkup masyarakat maupun bermedia sosial. Sebuah keniscayaan bahwa radikalisme/ekstremisme atas nama agama adalah musuh bersama.

*Artikel ini dimuat di Kompas.id, 14 Juni 2022

Baca juga Puasa: Meraih Hidup Bermakna

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...