HomeOpiniPuasa: Meraih Hidup Bermakna

Puasa: Meraih Hidup Bermakna

Oleh: Haidar Nashir 
Ketua Umum PP Muhammadiyah

Puasa atau al-shaum secara harfiah al-imsak artinya menahan diri. Muslim yang berpuasa ialah orang yang mampu menahan hawa nafsu. Menahan diri dari makan, minum, dan pemenuhan nafsu biologis sebagai simbol menahan diri dari segala hasrat duniawi.

Mereka yang berpuasa mampu menaklukkan hawa nafsu dengan menyalurkannya secara baik dan tidak membiarkannya liar. Mereka yang lulus berpuasa termasuk golongan wasathiyyah, yaitu orang yang bersikap tengahan atau secukupnya dalam menjalani kehidupan.

Baca juga Membaca Pikiran Teroris

Hawa nafsu itu induk dari semua berhala, kata sufi terbesar Jalaluddin Rumi. Takhta, harta, dan segala pesona dunia sering membuat manusia lupa diri sehingga menjadi pemuja nafsu. Nafsu berlebih sering menjadikan manusia serakah atas dunia. Nabi memberi ilustrasi, bila dia minta satu gunung emas dan diberi, ia akan minta gunung emas kedua dan ketiga. Kebenaran, kebaikan, kepantasan, dan nilai-nilai luhur agama atau aturan yang baik akan diterabas demi hasrat nafsu berlebih itu.

Berpuasa itu tujuannya la’allakum tattaquun agar insan muslim makin bertakwa (QS Al-Baqarah: 183). Takwa ialah wiqayah (kewaspadaan) lahir batin untuk selalu khasyah (takut) kepada Allah dengan menjalankan segala perintahnya, menjauhi segala larangannya, dan lebih jauh lagi kita terjaga dirinya dari siksa neraka. Artinya, mereka yang berpuasa menjalani kehidupan menjadi lebih utama hidupnya untuk meraih kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.

Baca juga Ramadhan Bulan Membaca

Insan bertakwa selalu ber-taqarrub kepada Allah dan menjalani kehidupan dengan benar, baik, dan patut sesuai tuntunan ajaran Islam. Insan bertakwa itu senantiasa beriman, berilmu, dan beramal saleh dengan sepenuh hati untuk meraih kehidupan yang baik di dunia dan akhirat.

Orang bertakwa itu hidupnya bersih lahir dan batin, disiplin, tanggung jawab, taat aturan, suka bekerja keras, berani dalam kebenaran, rasa malu ketika salah, serta memiliki kehormatan dan martabat diri yang tinggi selaku manusia yang mulia dan utama. Mereka yang bertakwa selalu tergerak berbuat jujur, benar, adil, tepercaya, dan melakukan segala kebaikan untuk dirinya, keluarga, masyarakat, dan umat manusia.

Baca juga Menguatkan Pengendalian Diri dari Tindak Kekerasan

Dunia dengan segala dimensi materi di dalamnya penting untuk diolah atau dimakmurkan secara bertanggung jawab. Insan muslim tidak boleh menjauhi atau menjadi antidunia (QS Al-Baqarah: 30, Hud: 61, Al-Qashash: 77). Namun, harta, kekuasaan, dan segala pesona duniawi tidak boleh dikejar atau dikuasai secara rakus atau berlebihan (QS At-Takatsur: 1-2). Apalagi demi meraih kuasa dunia lantas merusak sistem kehidupan manusia dan alam semesta (QS Ar-Rum: 41, Al-Baqarah: 11). Dunia mesti dijalani dengan benar, baik, dan bermoral yang berbasis nilai ilahiah yang kukuh agar dunia menjadi sajadah panjang menuju kehidupan abadi di akhirat.

Insan bermakna

Manusia yang mencukupi hidupnya di dunia dan menjadikan kehidupan sebagai jalan ibadah dan fungsi kekhalifahan yang bermakna menunjukkan martabat paripurna. Dirinya sudah selesai secara keduniawian. Meski tidak berlebih, tetapi berusaha menjadikan hidup itu bermakna utama bagi diri dan lingkungannya. Ilmu, hikmah, dan pengalaman hidupnya yang kaya menjadikan dirinya bermartabat futuwah atau kesatriaan yang utama.

Dalam hidup berbangsa, futuwah itu berjiwa negarawan, yang menempatkan kepentingan umum di atas hasrat diri dan kroninya. Allah menempatkan manusia sebagai insan dimuliakan sebagaimana firman-Nya dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan sungguh, Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami angkut mereka di darat dan di laut, dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna,” (QS Al-Isra: 70).

Baca juga Puasa sebagai Emansipasi

Ketinggian martabat manusia diawali dari penciptaannya sebagai makhluk terbaik atau fi ahsan at-taqwim (QS At-Tin: 4) dengan kedudukan dan tugas selaku abdullah untuk mengabdi kepada Allah (QS Adz-Dzariat: 56) dan khalifat fil-ardl untuk memakmurkan bumi (QS Al-Baqarah: 30, Hud: 61). Pemuliaan derajat itu tidak diberikan dan dimiliki makhluk Tuhan lain. Karena itu, menjadi suatu hal yang bertentangan dengan prinsip penciptaan manusia manakala ada di antara manusia merendahkan diri dan sesamanya sehingga jatuh martabat dirinya karena terpenjara nafsu dunia.

Puasa mengasah akal budi menjadi luhur dan utama. Manusia yang menggunakan akal budinya dengan baik tentu tidak berperangai seperti hewan, sebagaimana peringatan Allah dalam Al-Qur’an yang artinya, “Dan sungguh, akan Kami isi neraka jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia.

Baca juga Puasa, Mosaik Spiritualitas Luhur

Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah,” (QS Al-‘Araf: 179).

Sosiolog Peter L Berger menyebut manusia menjadi chaos, yakni menjalani kehidupan kacau. Agama, aturan, etika, dan nilai luhur dijungkirbalikkan sehingga terjadi kekacauan sistem kehidupan.

Baca juga Pembangunan dan Perdamaian

Alam pikiran ‘modern’ plus nafsu duniawi salah kaprah telah memutar balik epistemologi ilmu dan kehidupan manusia dari kebenaran hakiki ke dunia semu, yang melahirkan post truth yang meluas di jagat raya hidup umat manusia. Kehidupan menjadi ironi, yang benar disalahkan, kesalahan dibenarkan dan memperoleh dukungan luas, sehingga terjadilah dunia kacau nilai.

Kehidupan chaos seperti itu dalam rujukan Babad Tanah Jawa disebut zaman kalabendu sebagaimana tertulis dalam Ramalan Jayabaya tentang dunia jungkir balik. Manusia yang secara fisik ragawi bermahkota tinggi karena hasrat duniawi berlebih akhirnya jatuh ke titik terendah!

*Artikel ini terbit di Media Indonesia, 16 April 2022

Baca juga Perjalanan Moralitas yang Terseok

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...