HomeInspirasiAspirasi DamaiMusibah Tak Lepas Dari...

Musibah Tak Lepas Dari KehendakNya

Dalam hidup, setiap manusia tidak selamanya melewati jalan yang mulus. Terkadang, seseorang dihadapkan pada kejadian-kejadian yang menyulitkan dan merenggut kebahagian, seperti sebuah ujian dan musibah. Musibah adalah bagian dari skenario Allah yang harus dijalani oleh setiap manusia di muka bumi ini. Oleh karenanya, musibah akan tetap datang silih berganti selama dunia ini masih berputar. Musibah merupakan rahasia Allah yang tidak dapat dihindari atau ditunda barang sedetik pun.

Skala dari musibah itu sendiri berbeda-beda. Ada musibah yang berskala besar, ada juga musibah yang berskala kecil. Meskipun begitu, setiap peristiwa yang membuat kita menderita secara alami pasti selalu mendapat penolakan dari dalam diri. Karena sejatinya manusia diciptakan dalam keadaan suka berkeluh kesah, terutama ketika ditimpa oleh kesulitan.

Baca juga Dimanakah Cinta Berada?

Sebagai hamba Allah, manusia hendaknya berpikir positif bahwa sebuah musibah diturunkan dengan suatu maksud tertentu. Di balik musibah tersebut, pasti terdapat pelajaran yang dapat dipetik agar manusia menjadi pribadi yang lebih baik ke depannya. Dibutuhkan keikhlasan dan kerelaan untuk bisa berdamai dengan kemalangan yang menimpa.

Setiap manusia mempunyai cara yang berbeda-beda dalam menghadapi sebuah musibah. Bagi yang berhati sempit, musibah selalu dipandang secara negatif. Ia akan menganggap dirinya sebagai orang yang paling menderita di dunia. Ia menjadi sangat mudah frustasi dan selalu merasa kekurangan. Pada tingkat yang paling ekstrem, orang yang berhati sempit akan menyalahkan Allah atas apa yang menimpa dirinya.

Baca juga Malam Kebersamaan Tim Perdamaian

Ada juga yang menganggap musibah sebagai peringatan. Orang seperti ini akan senantiasa introspeksi diri ketika dirinya ditimpa musibah. Lewat adanya musibah, ia akan menyadari bahwa Allah tengah menegurnya atas kesalahan-kesalahan yang ia lakukan. Alih-alih menghabiskan energinya untuk menyalahkan Allah, ia justru fokus memperbaiki kesalahan-kesalahannya.

Puncak ketangguhan seseorang adalah ketika ia menganggap musibah itu sebagai ujian keimanan dan ketakwaan. Musibah adalah cara Allah untuk menguji apakah keimanan seorang hamba itu hanya sebatas di mulut saja, atau ia benar-benar memiliki keimanan yang kokoh. Orang yang mau bersabar menghadapi musibah akan ditinggikan derajatnya. Biasanya, orang seperti ini tidak butuh waktu yang lama untuk berdamai dengan keadaan.

Baca juga Keakraban, Kedamaian dan Pesona Bromo

Kisah inspirasi soal kesabaran dalam menghadapi musibah datang dari korban aksi terorisme yang berhasil selamat, namun menderita luka yang begitu hebat. Luka yang disebabkan oleh aksi terorisme itu membekas pada diri korban seumur hidupnya, sehingga menghambat aktivitas sehari-hari. Padahal saat terjadinya peristiwa, korban tengah beraktivitas seperti biasa dan kebetulan lewat di tempat kejadian, lalu terkena efek ledakan bom yang menghancurkan segalanya secara acak. 

Meskipun berat untuk menerima kenyataan, sebagian korban akhirnya memilih untuk bersabar dan menerima musibah bom itu sebagai bagian dari ketetapan Allah. Para korban itu sudah mengalami luka fisik yang cukup parah. Mereka tidak mau memperburuknya dengan memendam kekesalan di dalam hati. Mereka menyadari, bahwa dengan ada atau tidaknya luka yang diderita, hidup harus terus berlanjut. Mengeluh hanya akan semakin memperburuk keadaan.

Ketika para korban ikhlas menerima musibah itu sebagai ketetapan Allah, di situlah letak puncak ketangguhan mereka. Dalam diri korban tersebut, tidak ada lagi prasangka buruk tentang apa yang sudah digariskan Allah. Semua yang terjadi mereka terima dengan hati yang lapang. Allah pasti meninggikan derajat mereka.

Baca juga Sembuhkan Dunia dengan Perdamaian

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...