Berdamai dengan Kenyataan Mendamaikan Keadaan

Salah satu kunci kebangkitan penyintas terorisme adalah berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan pelaku yang mencederainya, baik secara fisik maupun psikis. Berangkat dari kesadaran bahwa semua peristiwa yang terjadi tak lepas dari kehendak Allah Swt, penyintas memutuskan bahwa jalan terbaik menghadapi musibah adalah menerimanya dan meretas masa depan yang lebih baik untuk diri sendiri dan orang lain. Dari kisah penyintas, kita bisa belajar betapa perdamaian adalah harapan sekaligus kebutuhan hidup bagi setiap orang.

Perdamaian bukanlah sesuatu hal yang diberikan (given), namun harus diciptakan. Tak hanya itu, perdamaian adalah modal sosial bagi kita untuk mewujudkan norma-norma dan nilai-nilai kebaikan dalam hidup bermasyarakat. Kita bisa belajar dari kisah salah satu korban Bom Kuningan tahun 2004, Sudirman Thalib. Ia terkena ledakan bom ketika tengah bekerja sebagai tenaga keamanan (security) di Kedubes negeri Kanguru tersebut. Sudirman mengalami luka cukup serius; tangan kanannya rusak; luka bakar di beberapa bagian tubuh; kehilangan mata kirinya sehingga mengharuskannya menggunakan bola mata palsu.

Baca juga Potret Peacemaker untuk Indonesia Damai

Bertahun-tahun Sudirman menderita sakit. Sudah puluhan kali pula ia menjalani operasi. Setiap menjalani operasi ia merasakan sakit yang sangat luar biasa. Sampai saat ini pun Sudirman mengonsumsi obat-obatan, terutama obat saraf, karena sejumlah proyektil bom membuat Sudirman mengalami gangguan saraf. Seiring waktu, ia pasrah terhadap kondisi tubuhnya dan menjalani hidup dengan ikhlas.

Lebih dari itu Sudirman memaafkan para pelaku sebelum mereka meminta maaf, karena dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Menurut Sudirman, kekerasan tidak bisa dibalas dengan kekerasan karena rentan menghasilkan kekerasan yang berkelanjutan. Baginya yang terpenting tidak ada lagi korban-korban berikutnya karena derita yang dialami oleh korban sangat berat dan berkepanjangan.

Baca juga Nanda Olivia, Perempuan Tangguh Korban Terorisme

Lain halnya dengan Hayati Eka Laksmi, korban tidak langsung Bom Bali tahun 2002. Ia kehilangan belahan hatinya. Secara otomatis Eka harus merawat kedua anaknya yang saat itu masih teramat belia. Ia sempat menanggung kekhawatiran akan masa depan anaknya karena trauma kehilangan sosok bapak. Mulanya anak pertama Eka sempat memiliki rasa dendam terhadap pelaku. Karena itu, Eka  merasa harus berdamai terlebih dulu dengan dirinya sendiri sebelum “menyelamatkan” anak-anaknya. Ia bertekad menularkan energi positif tersebut kepada kedua buah hatinya.

Dua kisah penyintas tersebut adalah bukti betapa perdamaian adalah modal sosial, paling tidak modal berupa norma (norm) dan kepercayaan (trust). Sudirman dan Eka yakin bahwa memaafkan adalah norma yang disepakati bersama untuk menghasilkan kebaikan bagi diri sendiri dan orang lain di sekitar mereka.

Baca juga Berkisah: Metode Psikologis Atasi Trauma Korban Bom

Keduanya juga percaya bahwa modal sosial tersebut akan memberikan manfaat baik kepada dirinya maupun kepada orang lain. Sudirman dan Eka berharap agar kekerasan atas nama apa pun tidak terjadi lagi, cukup mereka yang merasakan penderitaannya. Keduanya menginginkan seluruh masyarakat Indonesia bisa hidup damai, karena pada dasarnya perdamaian bukan milik individu, tetapi juga bagi orang lain.

Sudirman berpesan bahwa perdamaian adalah tanggung jawab bersama dan secara bersama-sama pula harus diperjuangkan. “Perdamaian bukan hanya menjadi tanggung jawab pelaku, korban atau pun individu, melainkan tanggung jawab kita bersama.”

Baca juga Malam Kebersamaan Tim Perdamaian

3 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *