HomeSuara KorbanBangkit Demi Masa Depan...

Bangkit Demi Masa Depan Anak

Aliansi Indonesia Damai- Wartini, itulah namanya. Seorang ibu rumah tangga yang dikaruniai tiga orang anak. Sosoknya sederhana, sehari-hari ia biasa berjualan makanan ringan di rumahnya. Sementara suaminya, Syahromi, bekerja sebagai petugas keamanan di Kedutaan Besar Australia, Kuningan Jakarta. Meski tak bergelimang harta, namun Wartini selalu bahagia menjalani hidup bersama suami dan anak-anaknya.  

Namun demikian, misteri hidup memang hanya Allah Swt yang Maha Tahu. Tahun 2004 menjadi tahun yang kelam bagi keluarga Wartini. Ia tak pernah menyangka bila suaminya menjadi salah satu korban bom yang meledak di depan Kedubes Australia. 

Wartini ingat betul, hari itu 9 September 2004, sebelum berangkat bekerja, suaminya memeluk anak kedua mereka seraya berkata, “Tin, hari ini kok aku seperti malas kerja ya, cemas, was-was, ada apa ya?” Wartini hanya menjawab, “tidak tahu” karena sama sekali tak menyangka peristiwa nahas itu akan menimpa suaminya.

Baca juga Kunci Kebangkitan Sarbini, Korban Terorisme

Karena tuntutan pekerjaan, Syahromi tetap berangkat bekerja, sedangkan Wartini mulai berjualan. Tepat pukul 10.30 WIB, tetangganya mengabarkan peristiwa ledakan bom di depan Kedubes Australia, di tempat suaminya bekerja. Kabar itu bagai petir di siang bolong. Tanpa berpikir panjang, Wartini segera berlari mencari angkot, pergi ke lokasi kejadian untuk mencari tahu kabar suaminya. Dagangannya ditinggalkan begitu saja, sedangkan di kantongnya hanya ada uang 10 ribu rupiah.

Wartini segera berangkat dari rumahnya yang berlokasi di Cempaka Putih. Sayangnya jalanan menuju tempat kejadian ditutup, sehingga ia hanya bisa melanjutkan perjalanan dengan ojek. Tetapi uang 10 ribu di kantongnya tentu tak akan cukup untuk ongkos menuju Kuningan.

“Bang, saya mau ke tempat kejadian bom. Tapi saya ga punya uang banyak, cuma 10 ribu,” ucap Wartini saat membagi kisahnya di acara Short Course Jurnalisme (3/7) lalu. Matanya berkaca-kaca mengingat peristiwa 15 tahun silam itu.

Namun sang ojek tak keberatan, ia bersedia mengantar Wartini meski hanya dibayar 10 ribu rupiah. Sesampainya di tempat kejadian, Wartini bertemu dengan bos suaminya. Ia lalu mengabarkan bahwa suaminya sudah dibawa ke Rumah Sakit Metropolitan Medical Center (MMC).

Wartini lalu berpamitan dan segera menuju rumah sakit. Ia menyusuri ruangan-ruangan rumah sakit, dari basement hingga lantai 5. Ia bertemu dengan suaminya di lantai 5. Ada rasa bahagia merasuk dalam hatinya karena suaminya selamat, meski saat itu sang suami begitu lemas dan tak berdaya.

Baca juga Jadi Korban Terorisme, Nanda Olivia Berdamai dengan Diri Sendiri

“Gimana keadaannya?” tanya Wartini. Suaminya hanya diam. Ia pegang suaminya, lalu mengulangi pertanyaannya. Namun suaminya masih saja diam dan tak merespon pertanyaannya. Wartini mulai khawatir. Tak lama kemudian, suaminya mencoleknya, meminta diambilkan pulpen dan buku. Di buku itu, Syahromi menulis bahwa ia tak bisa mendengar, ia tak tahu mengapa.

Setelah diperiksa, dokter mengabarkan bahwa gendang telinga Syahromi pecah dan tak bisa diperbaiki lagi. Syahromi akhirnya dirawat selama seminggu. Meskipun sudah keluar dari rumah sakit, Syahromi tak bisa sembuh total, telinganya kerapkali sakit, kepalanya seringkali pusing. Namun ia tak menyerah, selama dua tahun Syahromi berobat jalan. 

Pada awal November 2006, sakit yang diderita Syahromi kambuh lagi, ia pun dibawa ke rumah sakit dan dirawat selama dua minggu. Syahromi akhirnya menghembuskan nafas terakhir tepat pada 19 November 2006.

Saat itu Wartini amat terpukul, apalagi ia sedang mengandung anak ketiga, tepat enam bulan. Perutnya semakin membesar, sedangkan dua anaknya masih kecil. Tak pernah terbayangkan olehnya menjalani hidup tanpa kekasih hatinya. Kelak sang anak bungsu terlahir dalam keadaan yatim. 

Baca juga Ketabahan Ramdhani Di Balik Musibah Bom Kuningan

Ibu yang sedang hamil tua ini bukan hanya sedih kehilangan suaminya, tapi juga harus siap menggantikan posisi suami sebagai tulang punggung keluarga. Bukankah kebanyakan ibu hamil selalu ingin diperhatikan dan dimanja oleh suaminya? Namun Wartini justru harus berjuang seorang diri. 

Hidup Wartini berubah drastis. Ia bekerja serabutan demi mencukupi kebutuhannya dan anak-anaknya, dari mulai menjadi karyawan laundry hingga membantu tetangga berjualan. Ia tak peduli meski hanya digaji 20 ribu sehari. Yang terpenting baginya adalah memberikan nafkah halal untuk anak-anaknya.

Wartini hampir saja menyerah dan putus asa. Namun setiap kali rasa itu muncul, ia ingat kembali anak-anaknya. Baginya, anak-anaknya adalah kekuatan terbesar. “Saya harus kuat, kalau saya lemah bagaimana nasib anak-anak saya ke depannya. Saya berjuang terus untuk anak-anak saya. Kalau saya ga berjuang, ga kuat, saya ga tahu gimana anak-anak saya nanti,” ucap Wartini tegar.

Wartini memang single parent, namun ia tak menyerah begitu saja. Ia mengutamakan pendidikan anak-anaknya. Saat ini anak kedua Wartini sedang menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Sedangkan anak bungsunya masih duduk di bangku SMP. 

Perjalanan hidup Wartini mencerminkan ketegaran dan kekuatan luar biasa dari seorang ibu yang berjuang demi sang buah hati. Bukti cinta yang begitu besar kepada sang suami.

Baca juga Kisah Penyintas Mengikis Kebencian

Most Popular

2 COMMENTS

Leave a Reply to Bangkit Berkat Dorongan Keluarga dan Kolega | ALIANSI INDONESIA DAMAI - AIDA Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id...

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...