HomePilihan RedaksiKetabahan Ramdhani Di Balik...

Ketabahan Ramdhani Di Balik Musibah Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Selama manusia masih hidup di muka bumi ini, ujian dan cobaan pasti akan selalu ada. Namun demikian, Allah Swt memberikan cobaan tidak akan melebihi batas kemampuan hambaNya. Setiap musibah itu, sesungguhnya mengandung pembelajaran (ibroh), bagi orang-orang yang tabah dan sabar atas semua kehendakNya. Ketabahan itu, tercermin dari sosok Ramdhani, salah seorang korban ledakan bom Kuningan pada 9 September 2004 silam. 

Pada saat itu, Ramdhani berangkat bekerja seperti hari-hari biasanya. Ia bekerja sebagai house keeping di kantor PT. Binakarsa Swadaya, persis di samping Gedung Kedutaan Besar Australia, Jl. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan. Sekitar pukul 10.00 WIB, ia tengah membersihkan kaca di lantai 4. Tanpa firasat apapun sebelumnya, tiba-tiba sebuah ledakan besar terjadi. Tubuh Ramdhani terlempar beberapa meter dari tempat ia berdiri, ia pun tergeletak dan tidak sadarkan diri.

Baca juga Kisah Penyintas Mengikis Kebencian

Kaca-kaca yang sebelumnya ia bersihkan pecah dan menancap di bagian tubuhnya, bahkan juga di bagian kepala sebelah kanan. Tak lama setelah itu, ia mendapatkan pertolongan dan dibawa ke rumah sakit Metropolitan Medical Center (MMC), dengan berlumuran darah. Hampir sehari semalam ia tak sadarkan diri. Luka yang dialaminya cukup serius. Ia mendapatkan 18 jahitan di bagian kepala dan mengalami gegar otak serta penyempitan pembuluh darah. 

Setelah mendapatkan perawatan selama 3 Minggu, Ramdhani diperbolehkan pulang namun harus menjalani rawat jalan setiap dua minggu sekali selama dua tahun. Setelah itu, ia masih dianjurkan rawat jalan setiap sebulan sekali di RS Abdi Waluyo Menteng, Jakarta Pusat. Bahkan hingga saat ini, Ramdhani masih menjalani kontrol ke dokter serta mengkonsumsi obat-obatan.

Baca juga Sudjarwo Bangkit Kembali Merajut Mimpi

Meskipun peristiwa ledakan itu terjadi 15 tahun lalu, namun penderitaan fisik dan psikis masih ia rasakan hingga saat ini. Akibat penyempitan pembuluh darah, ia sering merasakan nyeri di bagian leher belakang dan punggung. Ia pun tidak sanggup mengendarai kendaraan motor dengan jarak yang terlalu jauh. Selain itu, Ramdhani juga trauma ketika mendengar suara yang keras. Jika mendengar suara ledakan, Ramdhani bisa pusing dan mudah marah.

Di balik penderitaan itu, Ramdhani merasa bersyukur karena kerapkali mendapatkan dukungan dari teman-teman penyintas bom lain dan rekan kerja kantornya. Ia mengaku tak ada pilihan lain selain menerima takdir dari Allah SWT. Dengan segala keterbatasan yang ada, Ramdhani memilih bergabung menjadi tim perdamaian AIDA untuk mengampanyekan perdamaian di kalangan masyarakat Indonesia.  Kepada generasi muda, Ramdhani berpesan agar terus semangat belajar dan menjauhi segala bentuk kekerasan.

Ramdhani berbagi semangat dalam kegiatan Dialog Interaktif “Menjadi Generasi Tangguh” di MA Al Irsyad Al Islamiyyah Haurgeulis, Indramayu.

“Belajarlah yang rajin dan semangat untuk masa depan, karena orang tua pasti akan mendoakan anaknya untuk sukses, dan jangan melakukan tindak kekerasan dalam bentuk apapun,” pesan Ramdhani dalam sebuah kegiatan kampanye perdamaian oleh AIDA di Kabupaten Indramayu beberapa waktu lalu.

Saat ini, ketabahan Ramdhani atas segala musibah yang menimpanya, mulai membuahkan hasil. Pasalnya, putri pertamanya mampu menyelesaikan pendidikan sarjana. Semua itu atas dorongan dan semangat Ramdhani yang tak kenal lelah mendukung anak-anaknya untuk terus belajar. Sang putri pun sudah mulai bekerja dan bisa membantu biaya kuliah adiknya. “Anak perempuan saya alhamdulillah sudah lulus dan bekerja di perusahaan asuransi. Anak laki-laki (kedua) saya kuliah di Unindra,” pungkasnya.

Baca juga Eka Laksmi, Ketangguhan Istri Korban Terorisme

Most Popular

4 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kasih Sayang yang Tak Pantas Dinafikan

Aliansi Indonesia Damai - ”Berpikirlah positif tentang keluarga dan jangan pernah...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....