HomePilihan RedaksiKunci Kebangkitan Sarbini, Korban...

Kunci Kebangkitan Sarbini, Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai – Tepat pukul 10.30 WIB pada 9 September 2004, Jalan Rasuna Said Jakarta Selatan diguncang ledakan besar. Sebuah bom mobil meledak tepat di depan Kantor Kedubes Australia. Korban pun berjatuhan, 9 orang meninggal dan puluhan orang luka-luka, baik luka ringan ataupun luka berat. Salah satu di antara korban yang terluka ialah Sarbini, seorang pekerja di gedung Plaza 89, yang berlokasi di depan gedung Kedubes Australia.

Akibat peristiwa tersebut, Sarbini menderita luka berat di bagian kepala, sampai harus dioperasi sebanyak 50 jahitan. Setelah itu ia membutuhkan waktu 7 tahun untuk proses penyembuhan. Selain dampak fisik, Sarbini juga mengalami trauma. Ia takut jika hendak pergi ke Jakarta selama bertahun-tahun. Ditambah lagi Sarbini harus membiayai sendiri pengobatannya, ia pun harus menjual rumah warisan istrinya.

15 tahun berlalu, Sarbini telah bangkit dari keterpurukan. Baginya sabar dan tawakal adalah modal besar demi hidup yang lebih baik ke depannya. Nasihat tersebut ia dapat dari ustaz di kampungnya. Ia memegang erat pesan tersebut dengan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Terkait perasaannya terhadap teroris, Sarbini mengatakan bahwa awalnya sempat marah. Namun perlahan tapi pasti, ia memilih mengubur rasa dendam. Karena setiap orang bisa tertimpa musibah kapan dan di mana pun.

Saat ini, Sarbini memiliki usaha sendiri, yakni membuka bengkel las. Usaha tersebut ia mulai dari nol. Demi memulai usaha tersebut, Sarbini mencari pelanggan secara door to door, dari mulai tetangga hingga ke teman-temannya.

Baca juga Jadi Korban Terorisme, Nanda Olivia Berdamai dengan Diri Sendiri

Proses itu ia lalui dengan gigih dan semangat, sehingga bisa membuahkan hasil yang baik. Terbukti hingga hari ini masih bisa bertahan dengan pelanggan yang semakin bertambah. Walaupun tidak menampik, terkadang juga sepi pelanggan, tapi Sarbini tetap tidak berputus asa karena rasa tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga yang harus membiayai anak-anaknya yang masih sekolah.

Sejak tahun 2018, Sarbini juga mengembangkan usahanya. Ia membuka bisnis cafe, menjual makanan ringan, seperti pisang goreng cokelat keju, stik mozzarella, dan lain-lain. Café tersebut ia buka di depan rumahnya, dikelola bersama anak pertamanya. Sudah hampir 1 tahun, café milik Sarbini cukup menghasilkan keuntungan, bahkan ia menjadi pemasok stik mozzarela ke beberapa café besar di daerah Tangerang.

Baca juga Sarbini Tak Menyerah dari Musibah

Salah satu korban Bom Kuningan lain, Yuni Karta sempat belajar memasak kepada Sarbini dan sekarang ia membuka usaha yang sama di rumahnya.

Sarbini sangat bersyukur atas semua proses kehidupan yang ia jalani sekarang ini. ”Tidak bersedih lagi dan selalu semangat,” tuturnya.

Bagi Sarbini, peristiwa Bom Kuningan yang menimpanya 15 tahun lalu bukanlah alasan untuk berputus asa dan patah semangat. Ia mengambil hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya. Karena itu, ia tidak menyimpan dendam dan larut dalam keterpurukan. Dendam tidak mungkin membuatnya bisa bangkit. ”Bagi saya kuncinya adalah bersabar dan tawakal,” pesan bapak dengan dua anak ini.

Baca juga Ketabahan Ramdhani Di Balik Musibah Bom Kuningan

Most Popular

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...