HomePilihan RedaksiBangkit Berkat Dorongan Keluarga...

Bangkit Berkat Dorongan Keluarga dan Kolega

Seorang anak buah saya di kantor pernah bertanya, Pak, kenapa rahangnya? Saya bilang, itu kena dampak Bom Kuningan 2004. Dia balik bertanya, emang ada ya pak Bom Kuningan? Ketika itu saya teringat pesan istri almarhum Munir, Suciwati. Bangsa kita adalah bangsa pelupa, jangankan tentang korban, bahkan kejadiannya saja lupa

Mulyono, salah seorang korban langsung bom yang meledak di depan kantor Kedutaan Besar Australia, Jakarta, 9 September 2004. Dalam salah satu kegiatan bersama AIDA, Mulyono berbagi kisah tentang musibah yang menimpanya di hadapan ratusan mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung beberapa bulan silam. 

Pagi menjelang siang, tepat pukul 10.20 WIB, ia mengaku tidak merasakan firasat buruk sama sekali. Saat itu ia hendak mengadakan pertemuan dengan seorang koleganya di daerah Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Jalan HR Rasuna Said cukup lengang. Ia memacu mobil dengan kecepatan 70 km/jam. Tiba-tiba terdengar  ledakan. Posisi Mulyono sekitar 25 meter dari titik ledakan. 

Baca juga Bangkit Demi Masa Depan Anak

Mobilnya seperti terbanting. Segalanya tampak gelap diselimuti kabut putih yang pekat. “Asap membumbung tinggi, mobil saya terbanting, dan banyak gedung hancur,” tutur Mulyono. Akibat ledakan tersebut, rahang Mulyono hancur. Ia bingung dan berusaha keluar dari dalam mobil. Ia mencoba meminta pertolongan, awalnya tidak ada yang menolong. Seseorang mengantarkannya ke rumah sakit terdekat.

Suasana seusai ledakan bom di depan Kedubes Australia 2004.

Mulyono mendapatkan pertolongan dan dirawat di sejumlah rumah sakit di Jakarta. Karena cederanya sangat parah dan memerlukan peralatan medis yang lebih baik, Mulyono harus dirawat di Singapura dan kemudian Australia. Dokter di Singapura melakukan rekonstruksi rahang Mulyono dengan mengambil kulit bagian kaki kiri. Setelah dilakukan operasi, ternyata hasilnya tidak baik. Ia dirujuk ke Australia. Di salah satu rumah Sakit di Melbourne, ia mendapatkan perawatan intensif dan menjalani operasi rahang 30 kali.

Selama 15 tahun lebih, Mulyono terus menerus minum obat, bahkan hingga hari ini. Menurut Mulyono, aksi terorisme menyebabkan banyak orang tak berdosa menjadi korban. “Terorisme itu dari niatnya sudah salah, apalagi dilakukan dengan cara yang salah. Korbannya yang luka-luka ratusan orang, 99 persen yang kena bom itu muslim,” ujar Mulyono.

Baca juga Kunci Kebangkitan Sarbini, Korban Terorisme

Bagi Mulyono, bertemu dan bersahabat dengan mantan pelaku adalah jalan terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri dan mewujudkan perdamaian. Ia mengaku peristiwa yang telah dialaminya sebagai ujian dari Allah Swt. “Saya minta ke Pak Ali Fauzi (mantan pelaku terorisme), agar mendoakan saya selalu, hingga menjadi hamba yang selalu bisa bersabar,” ungkapnya.

Semula Mulyono mengaku tidak mudah untuk bangkit. Sebagai manusia biasa wajar jika marah dan hampir merasakan frustasi atas kondisi yang ada. Namun seiring berjalan waktu, berkat dorongan keluarga dan sahabat dirinya bisa bangkit dari keterpurukan “Saya kemudian menyadari bahwa ujian tidak diberikan Tuhan melampaui batas kemampuan hamba-Nya,” ungkapnya. Ketangguhan Mulyono dan tekad yang kuat membuat dirinya masih terus belajar untuk berdamai. “Karena jika kita tidak berdamai, maka beban kita menjadi lebih berat lagi,” tuturnya.

Dalam berbagai kesempatan kegiatan, Mulyono selalu berpesan kepada generasi muda terutama kalangan mahasiswa agar senantiasa menjadikan perdamaian sebagai landasan dalam segala aktivitas yang digelutinya. “Saya mengajak mahasiswa agar jangan membalas kekerasan dengan kekerasan,” tegas Mulyono.

Baca juga Jadi Korban Terorisme, Nanda Olivia Berdamai dengan Diri Sendiri

Mulyono berkomitmen untuk terus menyebarkan spirit ketangguhan dan pemaafan serta perdamaian bagi masyarakat Indonesia. Di antara spirit perdamaian itu ditebarkan oleh Mulyono dalam lingkup keluarga, di mana ia berpesan kepada anaknya, agar tidak memelihara dendam kepada para keluarga mantan pelaku. “Karena sejatinya tidak ada orang yang tidak berbuat dosa,” tuturnya.

Ia memiliki harapan besar agar tidak ada lagi tindakan kekerasan terorisme di Indonesia sehingga tidak ada lagi yang menjadi korban dari aksi brutal tersebut. “Kami seluruh para korban selalu berdoa, Ya Allah jangan ada lagi yang menjadi korban, cukup kami saja,” papar Mulyono. 

Kini Mulyono aktif bersama Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), sebuah wadah bagi korban terorisme di Indonesia untuk menyampaikan nilai-nilai perdamaian dan bahayanya kekerasan bagi masyarakat luas. Di berbagai forum bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Mulyono juga aktif menyuarakan perdamaian, terutama bagi generasi muda Indonesia.

Baca juga Ketabahan Ramdhani Di Balik Musibah Bom Kuningan

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Mengelola Amarah

Setiap orang tentu pernah mengalami hal yang tidak disukai dalam kehidupannya,...

Dakwah Islamiyah untuk Perdamaian

Oleh Fahmi SuhudiAlumni PP Darussunnah Ciputat Dakwah merupakan salah satu fondasi dalam...

Beragama dengan Aman

Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak suku dan budaya yang berbeda...

Mengarifi Konflik

Agama bisa menjadi sumber inspirasi membangun perdamaian. Ia mengajarkan banyak nilai...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...