HomePilihan RedaksiMeluaskan Jiwa Merangkul Luka

Meluaskan Jiwa Merangkul Luka

Biarkan musibah ini menjadi bagian dari risiko pekerjaan saya sebagai petugas keamanan. Laa haula wa laa quwwata illaa billah. Saya ikhlaskan saja.”

Aliansi Indonesia Damai- Sembari tersenyum, Budi Santoso melontarkan pernyataan tersebut. Budi mengaku telah berhasil melewati masa-masa pelik pergolakan batinnya usai menjadi korban peristiwa pengeboman di depan kantor Kedubes Australia tahun 2004 silam. Tentu tidak mudah bagi Budi untuk menerima, namun keluasan jiwanya mampu mengalahkan segala amarah dan kebencian terhadap pelaku pengeboman.

Baca juga Tafakur Menyembuhkan Lukanya

“Awalnya memang saya merasa kesal, dendam campur marah gitu, kenapa saya jadi korban ya. Yang saya tidak kuat itu, hati saya ini merasa sangat nelongso, kenapa kok saya yang jadi korban padahal yang ngebom itu saudara sesama muslim” ujarnya.

Budi memang tak pernah menyangka akan menjadi korban pengeboman. Di pagi yang nahas itu ia sedang menjalankan tugasnya sebagai petugas keamanan gedung Plaza 89 Jakarta. Sebagai petugas keamanan ia bertanggung jawab memastikan tempatnya bekerja dalam keadaan kondusif.

Baca juga Penyintas Bom Kuningan Berjuang Melawan Trauma

Pukul 10.30 pagi terjadi ledakan dahsyat yang bersumber dari mobil box di depan Kedutaan Besar Australia. Jaraknya sekitar 50 meter dari tempatnya bertugas.  “Saya merasa bumi seperti gelap semua, lalu disusul dengan angin yang sangat kencang. Dorongan angin ini membuat saya terlempar, lalu pingsan. Ketika sadar, saya sudah di rumah sakit,” katanya mengenang.

Dampak ledakan itu masih terus dirasakannya hingga sekarang. Gendang telinganya bocor. Tiap kali menghadapi cuaca dingin, telinganya terasa menebal. Trauma dan rasa takut juga sempat menghinggapi dirinya. Namun Budi terus memilih bangkit menyembuhkan luka batinnya.

Baca juga Sempat Diduga Pengebom, Keluarga Korban Bangkit dari Kesedihan

“Saya terus berusaha meneguhkan prinsip saya. Meskipun teroris itu seagama dengan saya, tapi saya berprinsip ini adalah perihal keyakinan masing-masing. Segala sesuatu akan dipertanggungjawabkan di sana (akhirat: red). Jadi saya ikhlaskan saja,” tuturnya.

Prinsip itu berhasil membuat Budi mampu memaafkan. Ia terus bertawakal untuk menghilangkan dendam.  “Saya memilih maafkan, karena sesakit apa pun Allah mengajarkan kita untuk saling memaafkan,” lanjutnya.

Baca juga Kesetiaan Istri Korban Bom

Bukan hanya itu, Budi merasa bahwa tak seharusnya teroris dimusuhi. Dengan hati yang lapang, Budi justru berharap agar tidak hanya korban yang menjadi perhatian, namun juga pelaku. “Antara korban dan pelaku harus sama-sama diperhatikan. Jangan dimusuhi. Keluarga mereka juga adalah korban. Ayo, sama-sama kita rangkul,” ujarnya.

Budi mengaku peristiwa pilu yang dialaminya akan terus terkenang sepanjang hidupnya. Namun budi tidak ingin hanya kenangan pahit yang akan hidup. Ia ingin semangat perdamaian juga tetap hidup. Kini Budi sudah bisa berdiri tegak untuk membagikan kisahnya dan terlibat dalam kampanye perdamaian yang digelar oleh AIDA.

Baca juga Korban Bom Kuningan: Pulih berkat Keluarga

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Enam tahun telah berlalu. Awal tahun 2016 menjadi kenangan suram bagi...

Refleksi Hari Ibu: Perempuan, Kasih Sayang dan Perdamaian

Oleh Linda Astri Dwi WulandariAsisten Program Manager Rehabilitasi AIDA Momentum Hari Ibu,...

Kisah Inspiratif Korban Bom Bali 2002 I Gede Budiarta: Bangkit Melawan Trauma untuk Menggapai Kepercayaan Diri

Aliansi Indonesia Damai - Terorisme selalu lekat dengan kehilangan, kehancuran, dan...

16 Tahun Bom Bali 2005: Kesakitan Menuju Kebangkitan

Hari ini, tepat 16 tahun yang lalu, Indonesia berduka. Tiga serangan...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...