HomeOpiniMemaknai Pengayoman Dalam Pemasyarakatan

Memaknai Pengayoman Dalam Pemasyarakatan

oleh Fikri
Master Ilmu Politik Universitas Indonesia

Sistem pemenjaraan bagi pelaku tindak kejahatan dibuat untuk memberikan efek jera. Dahulu istilah penjara identik dengan tempat hukuman yang menakutkan, penyiksaan, berfungsi menciptakan penderitaan bagi pelanggar hukum. Namun konsep tersebut kini berubah menjadi sistem pemasyarakatan. Maknanya pun berubah menjadi pengayoman dan pembinaan bagi warga binaan pemasyarakatan (WBP).

Lahirnya sistem pemasyarakatan mengubah kesan menyeramkan menjadi lebih humanis. Para warga binaan dibimbing untuk kembali ke masyarakat dan menjalani kehidupan lebih baik. Tantangan bagi petugas pemasyarakatan saat ini, bahkan sejak era Bom Bali tahun 2002, adalah warga binaan kasus terorisme.

Baca juga Menggelorakan Ketangguhan

Berbeda dengan tindak pidana umum yang hanya berlatar belakang ekonomi atau dendam, warga binaan terorisme memiliki motivasi yang melampaui kejahatan umum, yaitu ideologi. Faktor ideologi menjadi titik utama aksi mereka, ditambah dengan pembenaran atau justifikasi ajaran agama tertentu.

Manifestasi ideologi kekerasan menjadi sah dilakukan karena sifatnya yang mendesak, memiliki basis argumen agama, dan dianggap menjadi satu-satunya cara agar tujuan dari ideologi terwujud. Gambaran di atas menjadi tantangan serius bagi petugas pemasyarakatan, khususnya bagi wali warga binaan kasus terorisme.

Baca juga “Ketangguhan Mental Para Penyintas dan Mantan Pelaku Terorisme”

Namun seiring berjalannya waktu, petugas pemasyarakatan banyak belajar dari pengalaman, juga dari berbagai pelatihan pembinaan napi kasus terorisme. Dalam konteks inilah AIDA berupaya berkontribusi melalui kegiatan bertajuk Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan, medio Juli 2021.

Dalam salah satu sesi kegiatan tersebut, AIDA menghadirkan narasumber mantan WBP terorisme. Mantan WBP ini bercerita pengalamannya selama bergabung dengan ISIS. Di Suriah ia diajarkan berbagai kemampuan militer, seperti menggunakan senjata baik laras pendek atau laras panjang, taktik perang, dan lainnya. Sekira setahun kemudian, ia kembali ke Indonesia. Beberapa tahun setelahnya ia ditangkap karena perubahan regulasi terkait keterlibatan dalam pelatihan militer kelompok ekstremisme di luar negeri.

Baca juga Menghargai Kearifan Budaya

Setelah menjalani persidangan, ia ditempatkan di salah satu Lapas di Jawa Timur. Ideologinya yang masih kuat plus perlakuan pihak Lapas yang kurang tepat, membuatnya kian “bengal”. Ia menolak semua program pembinaan. Terlebih di kalangan ekstremis, para petugas Lapas kerap dicap sebagai ansharut thaghut.

Ia lantas dipindahkan ke Lapas lain. Di tempat baru, sikapnya perlahan berubah ketika petugas memerlakukannya dengan tepat. Ia bahkan menegaskan, pahlawan yang sesungguhnya dalam penanggulangan terorisme di sektor hilir adalah para petugas Lapas. Peran mereka sangat penting karena mengayomi, membina dan mendidik setiap hari.

Baca juga Memaknai Hijrah dalam Bingkai Perdamaian

Banyak fakta yang membuktikan keberhasilan petugas dalam membina WBP terorisme. Contoh lain adalah Kurnia Widodo. Kurnia cukup lama bergelut dengan kelompok ekstrem sampai terlibat aksi teror yang mengharuskannya menjalani hukuman.

Perubahan Kurnia mulai terjadi ketika di Lapas. Berawal dari konflik pemikiran dengan teman-temannya sesama WBP terorisme, ia melihat akhlak teman-temannya tidak mencerminkan seorang muslim yang baik. Sampai pada masa ia mendapat tindak kekerasan dari temannya hanya karena berbeda pemahaman. Sebaliknya ia mendapat perlakukan baik dari petugas.

Baca juga Mengembangkan Dakwah, Menyuburkan Damai (Bag. 1)

Fakta di atas membuktikan, kombinasi perubahan dari dalam diri sendiri (self correction) secara ideologis dengan pembinaan persuasif dari petugas menghasilkan dampak positif. Perlakukan baik petugas Lapas menjadi bukti kesalahan pemikiran ekstremis tentang status negatif yang disematkan kepada aparat negara.

Memang sudah seharusnya Lapas bukan hanya tempat pelaku menerima sanksi, tapi menjadi sistem untuk mengubah warga binaan agar tak lagi melakukan perbuatannya yang dahulu. Lapas harus sesuai dengan fungsinya sebagai pengayom.

Baca juga Mengembangkan Dakwah, Menyuburkan Damai (Bag. 2-Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...