HomeOpini“Ketangguhan Mental Para Penyintas...

“Ketangguhan Mental Para Penyintas dan Mantan Pelaku Terorisme”

Oleh Muhammad Saiful Haq
Master Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

“Mereka (para penyintas) adalah pahlawan-pahlawan saya.”

Kata-kata tersebut terujar dari Ali Fauzi saat pertama kali penulis bertemu dengannya pada sebuah kegiatan AIDA di tahun 2018 lalu. Ali Fauzi sendiri adalah sosok yang cukup disegani di jaringan kelompok teroris sebelum akhirnya bertaubat, dan mendirikan Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP) yang aktif merangkul para mantan anggota teroris lainnya untuk meninggalkan jalan kekerasan.

Lantas mengapa penyintas aksi terorisme menjadi pahlawan bagi Ali Fauzi? Rupanya saat pertama kali bertemu dan mendengarkan kisah penyintas terorisme, ia mengaku larut dalam kesedihan, tak mampu membayangkan bila dirinya di posisi para penyintas tersebut yang harus mengalami penderitaan akibat ledakan bom. Ia menyesal hingga dari lubuk hati paling dalam, Ali memohon maaf kepada korban, baik atas nama pribadi maupun mewakili saudara dan kawan-kawannya yang pernah terjerumus ke dunia kekerasan.

Baca juga Menghargai Kearifan Budaya

Interaksi dengan korban, secara perlahan mengubah cara pandang Ali tentang kegiatannya dan kelompoknya, hal tersebut mendorongnya meninggalkan jalan kekerasan dan hijrah menuju jalan perdamaian. Inilah alasan mengapa penyintas adalah pahlawan bagi Ali, karena membuatnya tersadar bahwa kekerasan tidak akan menyelesaikan masalah bahkan cenderung memperbesar masalah.

Kisah Ali Fauzi tersebut dapat menjadi pembelajaran penting bagi kita untuk mengutamakan jalan perdamaian daripada jalan kekerasan. Meski dendam dan amarah seringkali menguasai pikiran kita saat kita tersakiti, namun melampiaskan hal tersebut tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan dapat melahirkan korban-korban baru.

Baca juga Memaknai Hijrah dalam Bingkai Perdamaian

Orang yang memendam rasa dendam memiliki dorongan untuk melakukan tindakan balasan kepada orang lain agar mendapatkan kelegaan. Benarkah membalaskan dendam mampu membawa kita merasakan rasa nyaman? Membalas dendam ternyata hanya akan memperparah bahkan membuka kembali luka emosional yang dimiliki. Karena setelah dendam terlampiaskan, rasa sakit yang mungkin telah mulai sembuh justru kembali muncul.

Memang tidak mudah menahan diri dari rasa marah dan emosi negatif, namun bukan berarti tidak bisa kita lakukan. Barangkali dari sanalah kita mampu menyelamatkan dan menjadi pahlawan bagi perjalanan hidup orang lain.

Rekonsiliasi untuk Kebangkitan

Gordon Allport, seorang ahli psikologi sosial mengajukan salah satu metode yang dapat digunakan untuk menekan konflik. Melalui karyanya berjudul The Nature of Prejudice, Allport mengemukakan teori yang dikenal dengan hipotesis kontak (contact hypothesis). Hipotesis kontak adalah pertemuan yang membentuk sebuah interaksi antar sebuah kelompok sosial yang berseberangan. Menurut Allport, kontak yang dikelola dengan baik dan mengarah pada interaksi antar kelompok lebih tepat bisa mampu mengurangi masalah stereotip, prasangka, konflik dan diskriminasi yang biasanya terjadi antara kelompok yang saling berseberangan.

Itulah yang perlu dilakukan oleh orang-orang berkonflik. Contoh idealnya dari praktik hipotesis kontak (contact hypothesis) adalah pertemuan korban dan mantan pelaku terorisme seperti di kisah Ali Fauzi, mereka adalah dua kelompok sosial yang seakan terlihat saling berseberangan. Namun, karena adanya interaksi yang sering dilakukan sehingga melahirkan rekonsiliasi untuk kedua pihak.

Baca juga Mengembangkan Dakwah, Menyuburkan Damai (Bag. 1)

Mencerminkan semangat dan keberanian untuk memulai dialog, menghilangkan kecurigaan dan kebencian, menghindari penggunaan kekerasan, serta meneguhkan komitmen untuk bersama-sama saling memaafkan dan komitmen mengutamakan jalan perdamaian.

Karakter tangguh jelas terlihat dalam diri kedua pihak. Sikap mantan pelaku mengajarkan kejujuran yang luhur. Dia menyadari kekeliruan masa lalunya kemudian mau mengakui kesalahan itu, serta mampu mengupayakan perbaikan-perbaikan. Semangat bina damai yang ditunjukkan korban dan mantan pelaku menyiratkan pesan-pesan positif yang sangat penting bagi kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.

Baca juga Mengembangkan Dakwah, Menyuburkan Damai (Bag. 2-Terakhir)

Dari para korban, kita bisa mengambil inspirasi bahwa mereka yang pernah tersakiti mampu melampaui penderitaan, lalu bangkit dan berdaya sehingga menjadi seorang penyintas (survivor). Survivor dimaknai sebagai orang yang bertahan hidup atau tetap hidup setelah melalui peristiwa pahit yang menelan banyak korban. Artinya para penyintas adalah orang yang benar-benar melalui situasi kritis (hidup mati) dalam hidupnya. Penyintas pernah mengalami ketakutan, trauma, bahkan merasa terpuruk berkepanjangan akibat kejadian mengerikan, namun kemudian berhasil melepaskannya.

Kita bisa belajar bagimana resiliensi dalam diri penyintas aksi terorisme. Resiliensi merupakan bentuk ketangguhan seseorang dalam menghadapi kondisi traumatis sehingga mampu mengatasi segala rintangan dengan baik dan dapat memulai hidup kembali. Beberapa riset psikologi menunjukkan, dukungan sosial memainkan peran untuk meningkatkan resiliensi seseorang, salah satunya dari Matina A. Amande (2019). Riset berjudul Resilience and Social Support as Predictors of Posttraumatic Stress Disorder Among Internally Displaced Persons in Benue and Taraba States menemukan, bagi seseorang yang mengalami trauma pascakejadian buruk akan merasa lebih baik dengan mendapatkan dukungan sosial (dukungan langsung dan tidak langsung).

Baca juga Cermat dengan Stigma Sosial

Dari pengamatan penulis, penyintas terorisme menemukan banyak makna atas peristiwa bom yang menimpa mereka, baik bersifat filosofis atau empiris yang dapat kita ambil sebagai inspirasi ketangguhan. Dalam kajian psikologis lainnya, penyintas telah mengalami post-traumatic stress disorder (PTSD) dengan berbagi kisahnya dengan orang lain serta mengerjakan kegiatan yang membangun ketangguhan mental dirinya. Membagi kisah dan pengalaman hidup-mati kepada publik secara luas adalah usaha melampaui tekanan psikologis yang dialami dari peristiwa buruk.

Bukan tidak mungkin, kisah-kisah kepedihan dan kebangkitan yang penyintas bagikan adalah jalan takdir Tuhan menciptakan suri tauladan ketangguhan kepada kita semua. Kita juga belajar bahwa keburukan yang ditimpakan manusia tidak semestinya dibalas dengan tindakan serupa. Penderitaan yang diciptakan pelaku teror justru dibalas dengan memberikan pemaafan. Hasilnya, mantan pelaku bisa meninggalkan dunia kekerasan bahkan bersama-sama berjuang di jalan kedamaian.

Memaafkan meneladani Rasulullah Saw

Memberikan pemaafan memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, sebab cukup manusiawi bagi kita ketika diperlakukan kurang baik oleh seseorang akan melahirkan emosi negatif yang rawan menjadi rasa dendam dan amarah. Namun terus menyimpan dendam dalam diri sesungguhnya secara terus menerus memberikan beban pada psikis seseorang.

Beberapa penelitian menunjukkan, membalas dendam kerapkali tidak menyelesaikan masalah, bahkan tidak sama sekali menuntaskan amarah. Beberapa ahli psikologi bahkan menemukan fakta yang unik bahwa saat seseorang membalaskan dendam memang memunculkan rasa lega, karena terjadi pelepasan dan peluapan emosional, namun rasa itu hanya terjadi saat proses melakukan balas dendam dan akan segera berganti dengan keinginan menghukum diri karena telah melakukan perbuatan yang sama buruknya dengan pelaku yang melakui dirinya. Artinya kelegaan hanya bertahan sesaat.

Baca juga Jihad untuk Perdamaian

Di sinilah pentingnya memaafkan (forgiveness) sebagai salah satu solusi menetralisasi rasa amarah dan dendam. Dalam studi psikologi positif, pemaafan merupakan proses psikis internal individu yang secara sukarela melepas perasaan dan pikiran atas rasa benci, marah, serta keinginan balas dendam terhadap orang lain dan berdamai dengan dirinya sendiri. Bahkan pemaafan disebut bagian dari terapi personal bagi seseorang yang ingin memiliki mental yang lebih baik. Sebagian ahli menyebutkan, memaafkan adalah usaha untuk mengatasi dampak negatif terhadap orang yang menyakiti dengan menunjukkan rasa kasihan, perdamaian, dan cinta (McCullough, Fincham & Tsang, 2003).

Sebagai umat beragama, memberikan maaf terhadap orang yang menyakiti dengan menunjukkan rasa kasihan, perdamaian, dan cinta adalah ajaran yang sering kita dengar dalam khutbah agama. Sebagai seorang muslim, penulis teringat bagaimana Rasulullah Saw dikenal dengan citranya yang menebarkan cinta, perdamaian dan pemaaf kepada kawan maupun lawan, sebagaimana dalam surah al Anbiya ayat 107, Rasulullah adalah sumber inspirasi bagi umat islam yang rahmatan lil ‘alamian;“Dan tiadalah Kami mengutus kamu (Muhammad), melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam” (QS. Al-Anbiya: 107).

Baca juga Negara Madinah: Potret Ideal Pemerintahan Islam

Tapi itu Rasulullah, kita tak sesempurna beliau? Memang Rasulullah istimewa, namun bukan tidak mungkin kita bisa meneladani beliau dalam kehidupan kita, minimal penyintas terorisme telah memberikan inspirasi kepada kita bahwa akhlak-akhlak yang mendamaikan dari Rasulullah bisa kita praktikkan oleh manusia ‘biasa’. Penulis melihat, kita bisa belajar dari penyintas terorisme yang berjuang mengampanyekan perdamaian sebagai upaya untuk meneruskan dakwah yang damai.

Rasulullah berdakwah tentang Islam dengan menjunjung tinggi perilaku mengasihi, tidak hanya terhadap manusia, tetapi juga kepada setiap makhluk bernyawa serta lingkungan. Bahkan, dalam situasi perang sekali pun, Rasulullah melarang umatnya untuk menyakiti perempuan, orang tua, dan anak-anak, serta melarang untuk merusak tanaman dan bangunan tempat ibadah (lihat hadis riwayat Al-Bayhaqi dalam Al-Sunan Al-Kubra hadis nomor 17591). Maka dakwah kita adalah dakwah yang penuh hikmah dan tidak membalas dendam.

Baca juga Terapi Pemaafan

Para penyintas aksi terorisme telah memilih jalan damai untuk menghentikan aksi-aksi kekerasan, yaitu dengan cara menyadarkan masyarakat termasuk mantan pelaku terorisme akan bahaya dan dampak dari paham kekerasan. Menurut hemat penulis langkah tersebut merupakan upaya melanjutkan misi Rasulullah, yaitu mengabarkan kepada khalayak bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, penuh cinta kasih dan sayang untuk semesta alam dan seluruh isinya. Menyebarkan nilai-nilai cinta dan perdamaian bukan menunjukkan kelemahan diri, namun sebaliknya, itu adalah wujud ketangguhan mental menghadapi cobaan dan kekuatan iman sebagai seorang muslim.

Baca juga Pemuda dan Dakwah di Media Sosial

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...