HomeBeritaDialog Siswa SMA Hang...

Dialog Siswa SMA Hang Tuah Makassar dengan Penyintas Bom Bali

Aliansi Indonesia Damai- Bukan hal mudah kehilangan sosok terkasih untuk selamanya. Terlebih jika dia adalah pasangan hidup yang sangat dicintai. Kesedihan panjang tak terelakkan. Demikian yang pernah dirasakan oleh Raden Supriyo Laksono, penyintas Bom Bali 2002.

Menjelang tengah malam pada pertengahan Oktober 2002, Soni, sapan akrab Raden Supriyo Laksono, tengah menjalankan tugas sebagai supervisor senior salah satu hotel di kawasan Jalan Legian, Kuta, Bali. Tiba-tiba listrik padam berbarengan dengan suara ledakan yang sangat keras. Karena panik, ia terkena serpihan asbes dan besi panas yang melukai mata dan betisnya. Setelah mengevakuasi semua tamu hotel, ia menelepon kantor di mana istrinya bekerja. Hasilnya nihil.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Makassar (Bag. 1)

Berminggu-minggu Soni berusaha mencari keberadaan istrinya, Lilis Puspita, di semua rumah sakit rujukan korban ledakan bom. Namun tak kunjung ia temukan. Setelah 3 bulan berlalu, barulah jasad sang istri berhasil diidentifikasi. Perasaan kehilangan dan trauma yang mendalam sempat membuatnya terpuruk. Bahkan 3,5 tahun setelahnya ia tidak mau makan sate sama sekali. Karena menyerupai jasad-jasad yang terbakar akibat dahsyatnya bom waktu itu.

Hal terberat baginya adalah menjelaskan kepada kedua anaknya yang kala itu masih balita terkait status ibunya yang meninggal dunia akibat pengeboman. “Saya hanya bisa menjadi ayah untuk dua anak saya. Saya tidak bisa sekaligus menjadi Ibu,” ujarnya di hadapan 55 siswa SMA Hang Tuah Makassar dalam Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dilaksanakan AIDA, awal Agustus lalu.

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Makassar (Bag. 2-Terakhir)

Usai mendengar kisah Soni, salah seorang peserta menanyakan faktor yang mendukung kebangkitan Soni usai musibah yang menimpanya?

Menanggapi pertanyaan tersebut, Soni mengatakan, ada beberapa hal yang mendukungnya untuk kuat menjalani takdir ini. Salah satunya yaitu berkumpul dengan teman-teman sesama korban Bom Bali 2002.

“Saya pada waktu itu berkumpul dan membentuk Isana. Awalnya beranggotakan 21 orang. Komunitas ini terbentuk untuk kumpul, urun rembuk sebagai sesama korban. Di sini kita saling sharing menguatkan, ngilangin trauma. Menjadi seperti keluarga, dan sekarang lebih banyak lagi anggotanya,” ujarnya.

Baca juga Pesan Damai Siswa SMAN 22 Makassar

Selain berkumpul dengan sesama korban, untuk menyembuhkan traumanya, Soni juga rutin melakukan konseling. “Kalau kita belum bisa ngilangin trauma, gak mungkin kita bisa menolong orang lain,” ucapnya menambahkan.

Salah seorang  peserta mengaku bersyukur dan berterima kasih mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan ini, karena bisa mendapatkan pembelajaran berharga. “Dari kisah Pak Soni, saya mengambil pembelajaran tentang ikhlas dan kuat menghadapi trauma. Serta senantiasa bersyukur bahwa pasti masih banyak orang baik di sekitar kita yang akan terus menyemangati dan menguatkan kita,” katanya.

Baca juga Semangat Ketangguhan dari SMKN 4 Makassar

Sementara peserta lain mengaku salut kepada Soni karena telah berhasil melewati masa-masa trauma yang menyakitkan dan bangkit kembali menjalani aktivitas sehari-hari.

“Kehilangan orang tersayang adalah hal yang sangat menyedihkan. Namun Bapak kuat menghadapi semua itu. Saya salut Pak Soni dapat keluar dari trauma dan bisa menerima kenyataan dari apa yang telah terjadi,” ucap peserta di sesi akhir kegiatan. [FL]

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Siswa SMAN 1 Makassar

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...