HomeBeritaDialog Siswa SMAN 16...

Dialog Siswa SMAN 16 Bandar Lampung dengan Penyintas Bom

Aliansi Indonesia Damai – Sebanyak 44 siswa SMAN 16 Bandar Lampung mengikuti “Dialog Interaktif Virtual: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar oleh AIDA secara daring pada akhir Januari lalu. Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Susi Afitriyani, penyintas Bom Kampung Melayu 2017.

Perempuan yang akrab disapa Pipit itu mengalami musibah saat sedang menunggu angkutan umum di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur, 24 Mei 2017. Saat itu ia hendak kembali ke indekosnya usai mengikuti perkuliahan di kampusnya. Nahas, bom meledak sesaat setelah ia keluar dari minimarket yang ada di kompleks terminal.

Baca juga Pionir Perdamaian dari Bandar Lampung

Pipit mengalami sejumlah cedera, salah satunya patah tulang di pangkal lengan kanan. Hingga kini ia harus banyak bertumpu dan beraktivitas dengan tangan kirinya.

Usai menyimak paparan Pipit, sejumlah peserta mengajukan pertanyaan. Salah satu siswa menanyakan tentang perasaan Pipit terhadap para pelaku pengeboman, apakah ia menyimpan dendam terhadap mereka.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 16 Bandar Lampung dengan Mantan Ekstremis

“Alhamdulillah, setelah saya sadar (pulih; red), saya sempat diperlihatkan foto pelaku, dan ditanya apakah saya menyimpan dendam kepada mereka. Dengan kondisi saya yang belum stabil saat itu, hingga saat ini pun, saya tetap menjawab tidak ada rasa dendam sedikit pun kepada mereka,” jawabnya.

Menurut Pipit, ia meyakini bahwa apa yang menimpanya merupakan bagian dari takdir. Bahkan ia percaya, musibah tersebut adalah hal terbaik yang telah dipilihkan oleh Allah Swt untuk dirinya. “Saya yakin, apa yang saat itu saya jalani adalah hal yang sangat baik di mata Allah, meskipun dipandang oleh sebagian orang, (tubuh) saya menjadi tidak normal,” tuturnya.

Baca juga Penyintas dan Mantan Ekstremis di Mata Pelajar Lampung

Pertanyaan lain muncul perihal adanya permintaan maaf dari pelaku. Pipit lantas menceritakan bahwa ia beberapa kali bertemu dengan mantan pelaku terorisme yang meminta maaf kepadanya dan para penyintas lainnya.

Di akhir kegiatan, beberapa siswa mengaku terharu dan termotivasi atas apa yang telah disampaikan oleh Pipit. Salah seorang siswa mengungkapkan, dirinya belajar untuk bisa tabah menerima ujian dari Allah Swt dengan tidak mudah menyerah.

Baca juga Memupuk Karakter Damai

“Bahwasannya ketika kita terkena musibah atau diberikan ujian oleh Allah, harus tetap semangat dan jangan menyerah. Apabila kita ingin menyerah, ingatlah bahwa Allah Swt senantiasa bersama dengan kita,” kata seorang siswa di sesi akhir kegiatan. [WTR]

Baca juga Pesan Ketangguhan Pelajar Bandar Lampung (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...