HomePilihan RedaksiPesan Pamungkas Korban Bom...

Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 2-Terakhir)

Rudi Gunadi pernah melangitkan doa untuk Mutia, “Ya Allah jadikanlah anak saya manusia yang besar.“ Usia Mutia di dunia memang tak panjang, segala cita-citanya pun pupus, tapi Rudi merasa doanya dikabulkan.

Ketika jenazah Mutia tiba di kampung neneknya kawasan Setiabudi Kuningan, Selasa dini hari 26 Oktober 2004, ratusan warga memenuhi gang dan pelataran rumah ibu mertua Gunadi. Padahal kala itu dini hari buta. “Kami nggak tinggal di situ, tapi sambutan masyarakat luar biasa. Ada Menteri Agum Gumelar dan Gubernur DKI Jakarta, Pak Sutiyoso, juga datang,” katanya.

Baca juga Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 1)

Saat prosesi pemakaman di TPU Tanah Kusir, ratusan siswa dari SMAN 6 dan SMAN 70 Jakarta berkumpul memberikan penghormatan terakhir bagi Mutia. Padahal menurut Rudi yang kala itu menjadi Wakil Kepala SMAN 6 Jakarta, siswa dari kedua SMA tersebut kerap terlibat tawuran.

Rudi mengaku sangat terpukul kehilangan buah hatinya. Istrinya malah kuat ketimbang Rudi dan sering menghiburnya. Sementara Rudi sempat sebulan kesulitan fokus dalam mengajar. Setiap melihat siswi kelas III, ia teringat Mutia. Spontan air matanya menetes sehingga harus keluar dari kelas. Anak-anak didiknya di SMAN 6 Jakarta membesarkan hatinya, “Sudah, Pak, kami ‘kan juga anak-anak bapak.”

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. 1)

Beberapa pekan setelah kepergian Mutia, Rudi kerap menangis, terutama ketika menunaikan shalat dan menziarahi makam Mutia. Terkadang muncul perasaan bersalah dalam dirinya sebagai orang tua. “Mungkin saya pernah kasar, pernah membentak. Ketika Allah ambil, di situlah saya merasa, anak itu segalanya,” ucapnya.

Dalam kenangan Rudi, Mutia adalah anak yang mandiri. Lantaran Rudi dan istrinya berprofesi sebagai guru, sejak kecil Mutia banyak diasuh oleh pembantu. Kendati demikian, Rudi mengaku sangat dekat dengan Mutia. “Saya yang mengantarkannya ke sekolah. Les juga saya tungguin,” ucapnya.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. II)

Dalam situasi psikis yang terpuruk, Rudi menemukan dua buku berjudul Don’t be Sad dan Tazkiyatun Nafs. “Dari situlah saya memahami bahwa semua yang ada bukan milik kita. Ada sunnatullah, ada awal pasti ada akhir,” katanya.

Dalam hemat Rudi, aksi-aksi terorisme dilakukan orang-orang yang tidak bertanggung jawab hingga mengakibatkan orang lain menderita. “Saya tidak tahu alasan pelaku apa. Mudah-mudahan masyarakat kita penuh damai. Tidak saling mencurigai,” tuturnya memungkasi.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. Terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....