HomePilihan RedaksiMenepis Dendam Mengikis Trauma...

Menepis Dendam Mengikis Trauma (Bag. 2-terakhir)

Andi nekat kabur dari rumah sakit lantaran memang tak punya uang. Namun sesampainya di rumah, ia merasa lega. Pasalnya pemerintah provinsi DKI Jakarta mengumumkan akan menanggung biaya pengobatan para korban Bom Kuningan.

Kelegaan itu hanya sebentar. Beberapa waktu berikutnya, ia dihinggapi perasaan bersalah karena tak bisa membantu para korban yang meminta pertolongan saat di lobi Plaza 89. Penyesalan yang berubah menjadi kemarahan, dendam, dan trauma.

Baca juga Menepis Dendam Mengikis Trauma (Bag. 1)

”Beberapa bulan saya dendam, sangat membenci teroris. Saya juga ketakutan. Sekitar 2 tahun saya tidak pergi ke (kawasan) Kuningan karena trauma yang sangat dalam. Saya terpuruk,” ujarnya mengenang masa-masa kelam hidupnya.

Dalam situasi tersebut, ia mendapatkan bantuan modal usaha dari salah satu lembaga sosial. Andi membuat bengkel las. Saat itu di sekitar rumahnya kawasan Serpong, Tangerang Selatan, masih belum banyak usaha sejenis, sehingga bengkelnya cukup ramai.

Baca juga Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 1)

Pada Juli 2005, oleh perusahaan sebelumnya Andi ditawari untuk mengerjakan proyek di Papua. Ia menyanggupi. Usahanya ia titipkan ke temannya sesama korban Bom Kuningan, Sarbini. ”Kurang lebih setahun di Papua itu mengobati trauma. Saya dapat nasehat dari teman-teman. Setelah kembali ke Jawa, saya meneruskan usaha bengkel las bersama Pak Sarbini,” katanya.

Andi lantas bergabung dengan komunitas penyintas bom terorisme. Di dalamnya, sesama korban bom saling menguatkan satu sama lain. Ia semakin menyadari bahwa kemarahan dan dendam justru membebani hidup. ”Saya pikir buat apa dendam. Dendam hanya membuat hati kita sakit,” ujarnya.

Baca juga Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 2-Terakhir)

Ia berharap tidak ada lagi aksi-aksi pengeboman. Kepada para peserta, Andi berpesan agar mereka menjauhi aksi-aksi kekerasan. Karena itu tak hanya merugikan diri sendiri tapi juga banyak orang. ”Sangat mengerikan sekali. Itu yang saya alami. Mudah-mudahan tidak terjadi lagi,” ujarnya.

Menurut dia, remaja sebagai generasi penerus bangsa harus menjaga perdamaian. Caranya dengan saling menjaga, menghormati, dan menghargai sesama. “Jangan membalas kekerasan dengan kekerasan. Karena balas dendam tidak ada habisnya,” pesannya.

Berdasarkan pengalaman hidupnya, Andi juga berpetuah agar remaja menjadi generasi yang tangguh, tak mudah menyerah menghadapi kepahitan-kepahitan hidup. [MSY]

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 4-Terakhir)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 2)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 1)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan

Aliansi Indonesia Damai- Senja kian larut, rombongan yang ditunggu sejak matahari...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...