HomePilihan RedaksiPesan Pamungkas Korban Bom...

Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 1)

“Aku nggak bisa tidur. Mimpiku seram-seram. Kalau aku meninggal, tolong baju sekolahku kasih ke orang miskin. Ini (bulan) puasa. Tolong bayarin fidiah aku 10 hari. Aku juga punya anak asuh sama teman-teman, tolong dibantu.”

Rudi Gunadi masih mengingat jelas kata-kata yang disampaikan putri sulungnya, Mutia Rahmani Amalia, kala menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit di Jakarta, medio Oktober 2004. Kala itu bertepatan dengan bulan Ramadan 1425 Hijriah.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. 1)

Sembari menahan kesedihan, Rudi menuturkan musibah yang menimpa Mutia dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan yang digelar AIDA bekerja sama dengan Ditjen Pas Kemenkumham, akhir Maret 2022 lalu.

Mutia adalah siswa kelas III/IPS SMAN 70 Jakarta. Usai menjalani ujian tengah semester (UTS) pada 9 September 2004, ia hendak menyambangi kediaman neneknya di kawasan Setiabudi Jakarta Selatan. Dari sekolahnya di kawasan Blok M, ia menumpang bus kota jurusan Menteng. Saat hendak turun di halte STIE Perbanas kawasan Kuningan, ledakan keras terjadi. Berdasarkan kesaksian korban lain sesama penumpang bus, Rudi mengungkapkan, badan Mutia tersungkur ke tanah tapi kakinya tersangkut di pintu bus.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. II)

Mutia lantas dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan pertama. Rudi Gunadi yang berprofesi sebagai guru SMA sedang mengajar saat ibu mertuanya meneleponnya, “Mutia kena bom.” Rudi bergegas menuju rumah sakit yang merawat Mutia. Di sana ia tahu, anaknya menjadi salah salah satu korban bom yang meledak di depan kantor Kedubes Australia.

Putrinya sempat menjalani operasi pengambilan serpihan kaca yang menghujam banyak bagian tubuhnya. Setelah kondisinya membaik, Mutia mendesak agar pulang ke rumah untuk menjalani rawat jalan. Namun selang beberapa hari berikutnya, ia jatuh sakit.

Baca juga Berdamai dengan Trauma: Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. Terakhir)

Rudi kembali membawa Mutia ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan, diketahui ada pembekuan darah di otaknya. Dokter memutuskan membedah kepala Mutia untuk menyedot gumpalan darah itu. “Dia teriak-teriak saat kepalanya dikerok. Ya disentuh saja sakit apalagi dikerok,” ujar Rudi mengenang.

Usai operasi, selama beberapa hari Mutia terus-menerus mengalami demam tinggi. Saat demamnya menghilang dan kondisi tubuhnya merasa sehat, Mutia kembali mendesak pulang ke rumah. Rudi mengabulkannya meski tanpa persetujuan dokter. Tetapi lagi-lagi saat di rumah kondisinya memburuk. “Kepalanya geleng-geleng terus sambil menangis,” ucap Rudi.

Baca juga Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Mutia kembali dibawa ke rumah sakit. Ia disuntik obat pengencer darah agar jantungnya kembali normal karena ada penggumpalan darah. Pihak rumah sakit di Jakarta merekomendasikan agar Mutia menjalani rawat lanjutan di rumah sakit Singapura atau Australia. Rudi memilih Singapura karena lebih dekat jaraknya.

Atas bantuan Kedubes Australia, Mutia lantas dibawa dengan pesawat khusus menuju Singapura. Rudi bersama istrinya menyusul sehari berikutnya dengan pesawat komersial. Mutia langsung menjalani perawatan intensif di salah satu rumah sakit Negeri Singa, sementara Rudi dan istrinya menginap di hotel tak jauh dari rumah sakit. Ia dan istrinya bergantian memantau kondisi Mutia yang terus merosot di rumah sakit.

Baca juga Afirmasi Diri: Kisah yang Menjelma Makna dan Kata-kata

Beberapa hari di Singapura, Rudi seolah mendapatkan isyarat. Ketika hendak takbiratul ihram shalat isya, ia seolah melihat jenazah Mutia. “Saya lihat diri saya masukin anak ke liang lahat. Wah, ada yang nggak beres nih,” kata Rudi.

Sepanjang malam matanya tak terpejam. Keesokan harinya ia mendatangi rumah sakit dan meminta izin menemui Mutia di ruang ICU. Sembari mengusap-usap kepala Mutia, Rudi membisikkan, “Sudahlah, Nak. Kamu kembali kepada Pencipta. Lupakan teman, lupakan sekolah, lupakan pikiranmu mau kuliah. Saya lihat air matanya keluar,” ujar Rudi dengan suara terisak.

Itu terakhir kali Rudi melihat Mutia dalam kondisi hidup. Mutia yang lahir di Jakarta pada 12 April 1988 menghembuskan nafas untuk terakhir kali pada 24 Oktober 2004. Bom Kuningan telah merenggut segala cita-cita mulianya. (bersambung)

Baca juga Berdakwah di Era Digital

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 4-Terakhir)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 2)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

9 Tahun Bom Jakarta; Ikhtiar Penyintas Berdamai dengan Trauma (Bag. 1)

Sembilan tahun silam, tepatnya 14 Januari 2016, teroris menyerang jantung kota...

Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan

Aliansi Indonesia Damai- Senja kian larut, rombongan yang ditunggu sejak matahari...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...