HomeOpiniAkademi Bahagia

Akademi Bahagia

Oleh: Bre Redana,
Penulis

Akademi Bahagia dengan pondok terbuat dari kayu-kayu bekas, terletak di pinggir sawah di daerah Sleman, Yogyakarta, saya rasakan sebagai tempat yang cocok untuk proyek latihan menulis. Bersama belasan peserta dari sejumlah daerah, yang paling jauh dari Banda Aceh, kami bersama-sama melakukan olah surat (”menyurat”, begitu saya menyebutnya) disertai olah badan. Dua hal itu dalam pandangan saya tak ada bedanya: krida surat mengalirkan bahasa, krida badan mengalirkan gerak.

Saya merasa cocok dengan tempat tadi karena sifatnya yang organik—serupa sifat tubuh kita, organik sebelum dikorup oleh teknologi. Bersama Dekan Fakultas Seni Rupa dan Desain Untar, Jakarta, Dr Kurnia Setiawan, kami mengajak para peserta berkegiatan hanya berbekal kertas dan bolpoin.

Baca juga Mengatasi Stagnasi Kualitas Pendidikan Nasional

Sejauh ini saya masih memercayai bahwa institusi tertinggi pada manusia adalah kesadaran, awareness, eling, dan sampai ujung peradaban manusia sebelum era digital menggantikannya, kesadaran itu dibentuk oleh bahasa. Renaisans, Revolusi Industri, Modernisme, bahkan nasionalisme seperti diteorikan oleh Benedict Anderson, semua diakselerasi oleh munculnya mesin cetak yang kemudian melahirkan budaya buku, koran, membaca: singkatnya literasi.

Memelihara dan mengembangkan bahasa bukan sekadar urusan mengasah kecakapan mengekspresikan diri dan berkomunikasi, tetapi juga menumbuhkan daya imajinasi dan perluasan kognisi. Kalau zaman postmo dulu saya mengagung-agungkan critical thinking, kini cukup awareness (untuk itu saya menulis buku Minggu Bersama Guru, terbit pertengahan bulan puasa lalu).

Baca juga Sebab Jurnalisme Investigasi Harus Terus Ada

Tentu saja sebagaimana makhluk di Bumi pada era ini saya juga menggunakan peranti digital—dengan merek dan harga seadanya. Hanya saja saya senantiasa memperingatkan diri sendiri untuk berwaspada karena medium ini mampu secara perlahan mengubah sistem neurons dalam diri manusia, memengaruhi sistem kerja otak kita.

Banjir bandang informasi, seperti dikatakan oleh Umberto Eco di mana orang bodoh punya hak sama untuk berkata-kata setara penerima anugerah Nobel, bagi saya bukanlah soal lucu-lucuan. Banyak orang berkilah, ah itu, kan, cuma lucu-lucuan, gemoi-gemoian, jangan kelewat serius.

Baca juga Metode Living Books Sebagai Media Merdeka Belajar

Dengan menguasai sumber daya yang luas, termasuk media sosial, saya melihat bagaimana penguasa merusak demokratisasi untuk mengingat. Memanfaatkan para influencer dan buzzer mereka mengacak-acak memori manusia, menimbun apa yang harus dilupakan dengan hal-hal tak penting.

Mereka kacaukan memori dengan hal-hal yang tidak perlu, remeh-temeh, kebohongan, disinformasi, sehingga, silakan cek sendiri sebagai contoh: seberapa banyak generasi masa kini tahu apa yang terjadi di negeri ini pada Mei 1998? Terlebih peristiwa-peristiwa sejarah pada masa jauh sebelumnya. Kita di ambang menjadi bangsa ahistoris.

Baca juga Jadilah Guru yang Menyenangkan

Informasi kelewat mudah didapat pada zaman ini. Kita mendengar apa saja, termasuk banyak hal yang sebetulnya kita tak peduli dan tak sudi tahu, tak terkecuali yang disodorkan oleh jurnalisme yang beberapa—kalau tak boleh menyebut sebagian besar—sama tak keruannya. Mereka memproduksi trivial issues.

Lalu, di mana kejernihan bisa didapat? Pada pers berkualitas, atau di dasar samudra seperti dalam dongeng ”Dewa Ruci”tatkala Bima mencari air suci?

Pertanyaannya bukan di mana, melainkan kejernihan, kemurnian bahasa hanya bisa didapat melalui latihan. Latihan menulis adalah proses terus-menerus dalam upaya mencapai kewajaran: berbahasa dengan wajar, hidup dengan wajar.

Baca juga Madinah Sumbu Peradaban

Istilah semacam overthinking, healing, galau,dan lain-lain adalah produk dari lingkungan hidup yang telah kehilangan kewajaran.

Tentu bakal ada yang menganggap pandangan tersebut sebagai bentuk skeptisme terhadap kemajuan zaman bahwa sekarang terlebih nanti semuanya akan digantikan oleh kecerdasan buatan alias artificial intelligence (AI).

Baca juga Bahaya Laten Bullying di Sekolah

Betul, tapi saya masih percaya ada yang tidak bisa digantikan oleh AI, antara lain story telling. Struktur, bangunan cerita, vokabulari, dan hal-hal teknis mungkin bisa diborong AI, tapi rasa seperti empati, humanisme, cinta, saya duga tak bakal bisa diambil alih AI. Yang menginspirasi saya bukanlah Tuan Elon Musk yang banyak duit dan dielu-elukan presiden, tapi Gabriel Garcia Marquez yang menulis Living to Tell the Tale.

Untung peserta kegiatan ini tidak menuntut sertifikat yang memang tidak kami janjikan dan sediakan. Malah sebaliknya ada yang mentraktir saya makan di warung di pinggir kali. Kejernihan pikiran mustahil bisa ditebus dengan sertifikat, tapi siapa tahu oleh suara gemercik air di dekat kami ngopi.

*Artikel ini terbit di kompas.id, Minggu 26 Mei 2024

Baca juga Kebangkitan Digital Nasional

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....