Etika Perdamaian

Beberapa waktu lalu topik “Etika” ramai di media sosial. Sangat bisa dimaklumi karena terkait erat dengan kita sebagai “orang timur” yang menjunjung tinggi etika dan sopan santun.

Kata etika berasal dari Bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu ethos dan ethikos. Ethos berarti sifat, watak kebiasaan, tempat yang biasa. Ethikos berarti susila, keadaban, kelakuan dan perbuatan yang baik (Bagus Lorens, Kamus Filsafat, 1996).

Baca juga Bela Perdamaian Indonesia

Makna di atas mengisyaratkan bahwa bangsa yang beradab adalah mereka yang memiliki kebiasaan perbuatan yang baik. Mengapa etika menjadi salah satu acuan majunya peradaban? Tanpa etika, masyarakat rentan berkubang dalam peperangan berkepanjangan.

Terlebih kita bagian dari masyarakat global yang secara kodrati ditakdirkan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa. Perbedaan suka dan bangsa tersebut agar saling mengenal sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13. Pengenalan lintas suku dan bangsa tanpa disertai etika maka mustahil akan membuahkan interaksi yang baik. Interaksi yang tanpa disertai etika hanya akan melahirkan permusuhan, perpecahan bahkan peperangan.

Etika menjaga perdamaian

Setidaknya ada dua etika yang wajib dimiliki seseorang dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, pertama yaitu menegakkan keadilan sosial. Mengapa? Seseorang wajib mengupayakan perdamaian positif (positive peace) daripada merasa baik-baik saja karena perdamaian negatif (negative peace). Menurut Johan Galtung, peraih Nobel Perdamaian, perdamaian negatif (negative peace) adalah kondisi tidak ada kekerasan yang bisa dilihat langsung seperti perang, tawuran dan lain-lain.

Kekerasan jenis ini memang sederhana dan mudah dipahami, namun melihat kondisi yang ada, banyak masyarakat tetap mengalami penderitaan akibat kekerasan yang tidak tampak akibat ketidakadilan. Maka tugas kita melahirkan perdamaian positif (positive peace) dengan cara mengupayakan terciptanya keadilan sosial, seperti mengurangi kemiskinan, mempermudah akses pendidikan dan kesehatan bagi semua dan lain sebagainya.

Baca juga “Himne” Pejuang Perdamaian

Etika kedua adalah seseorang harus menegakkan nilai-nilai kemanusiaan dalam menjaga perdamaian. Mari kita ingat perkataan Robert B. Baowollo (Menggugat Tanggung Jawab Agama-agama Abrahamik bagi Perdamaian Dunia, 2010), “si vis pacem, para humaniorem solitudinem (jika engkau menghendaki perdamaian, siapkanlah suasana damai sejati dengan cara-cara yang lebih manusiawi)”.

Dapat kita simpulkan bahwa mewujudkan perdamaian bukan hanya urusan menghentikan kekerasan, tetapi juga berkaitan kehidupan sosial yang mampu melahirkan rasa tenteram, aman, sejahtera dan saling menghormati.

Baca juga Pertobatan Mantan Ekstremis untuk Indonesia Damai

Jika suatu bangsa dan negara mampu menegakkan 2 etika dasar dalam menjaga perdamain yaitu keadilan sosial dan nilai-nilai kemanusiaan, maka cita-cita baldatun thayyibatun warabbun ghafur akan tercapai. Akan tetapi jika soal etika kita gagal, maka bagaimana mungkin kita akan menjadi insan manusia terbaik, seperti sabda Nabi Muhammad Saw, ”Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.”

Baca juga Belajar Bersyukur dari Kisah Korban Bom

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...